Rahmah el-Yunusiyah; Pahlawan Pendidikan Wanita Indonesia

rahmahNamanya mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun kiprah dan sumbangsihnya bagi pendidikan Islam—khususnya muslimah—di Indonesia sangatlah luar biasa.

Rahmah lahir di Padang Panjang pada  29  Desember 1900 M dari  keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Muhammad Yunus, seorang Qadhi di negeri Pandai Sikat dan pimpinan Tarekat Naqsabandiyah al-Khalidiyah, dan ibunya Ummi Rafi’ah juga turunan keluarga ulama. Namun Rahmah sudah menjadi yatim semenjak kanak-kanak. Ia kemudian mendapatkan pendidikan dari keluarga dan murid-murid ayahnya.

Ia sempat belajar di Diniyyah School yang didirikan kakaknya, Zainuddin Labay. Tidak merasa puas di sekolah ini, bersama tiga temannya, yaitu Rasuna Said, Nanisah, dan Jawana, Rahmah membentuk kelompok belajar. Ia juga berguru berbagai disiplin ilmu agama kepada Haji Abdoel Karim Amrullah (Ayahanda Buya Hamka), Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim (pimpinan sekolah Thawalib Padang Panjang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi.

Dalam  usia enam belas tahun  Rahmah menikah  dengan  seorang  alim  dan mubaligh, Haji Bahauddin Lathif. Namun perkawinan  ini hanya  berlangsung enam  tahun, pada tahun 1922 keduanya  bercerai. Dari perkawinan ini Rahmah tidak mempunyai anak. Sejak  perceraian tersebut ia  pun tidak  bersuami  lagi.

Pada tahun 1923, saat usianya 23 tahun, Rahmah mendirikan Madrasah lil-banat yang menjadi cikal bakal Diniyyah Putri School. Setelah 7 tahun mengembangkan perguruannya itu Rahmah terus mengembangkan keterampilannya dengan mempelajari ilmu kebidanan, ilmu kesehatan, dan P3K. Ia juga mempelajari olahraga dan senam, serta tenun tradisional dan jahit-menjahit. Seluruh pengalamannya ini kemudian mempengaruhi metode pendidikan yang diterapkan di Diniyyah Putri School. Kekhasan inilah yang menginspirasi Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Abdurrahman Taj pada 1953 untuk mendirikan Kuliyyatul-Lil-Banat (kampus Al-Azhar khusus putri) di Universitas Al-Azhar. Dan Rahmah pun dinobatkan sebagai Syaikhah (Guru Besar Wanita) pertama dari Universitas Al-Azhar.

Kontribusi Rahmah dalam dunia pendidikan bukan hanya dengan mendirikan Diniyyah Putri School. Ia juga turut berkontribusi mendirikan: Menyesal  School, yaitu sekolah pemberantasan  buta huruf di kalangan ibu-ibu rumah tangga (1925 – 1932), Yunior Institut Putri, sebuah sekolah umum  setingkat dengan Sekolah Rakyat (1938), Islamitisch Hollandse School (IHS), sekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, Sekolah Dasar Masyarakat Indonesia (DAMAI), Kulliyatul Mu’allimin El-Islamiyah, sekolah guru agama putra (1940), Sekolah Diniyah Rendah Putri (1947), Sekolah Diniyah Menengah Pertama Putri, Akademi Diniyah Putri (1964).

Rahmah memiliki cita-cita agar wanita indonesia memiliki kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodrat wanita hingga bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mendidik, ia bertujuan agar wanita sanggup untuk menjadi ibu pendidik yang cakap, aktif dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan bangsa dan tanah air.

Selain terlibat dalam dunia pendidikan, Rahmah juga aktif dalam revolusi kemerdekaan hingga pernah  dipenjarakan oleh Belanda dan baru dibebaskan tahun 1949. Pada tahun 1958, Rahmah aktif di bidang politik. Ia pernah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatra Tengah dan anggota Konstituante mewakili Masyumi.

Ia curahkan seluruh hidupnya bagi perjuangan hingga berpulang  ke rahmatullah  pada  26 Februari 1969 di rumahnya sendiri di Padang Panjang.

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s