Belum Sampai Ejakulasi Wajibkah Mandi?

waterPertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Mau tanya Ustadz, apakah kita wajib mandi apabila kita mengeluarkan cairan bening sebelum ejakulasi? (Dari 085654693xxx)

Jawaban:

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah ash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’du:

Cairan bening yang saudara/saudari tanyakan kemungkinan besar adalah air madzi yaitu air yang keluar dari kemaluan laki-laki atau wanita ketika syahwat; yang keluarnya mengalir, menetes, atau merembas, dan tidak dibarengi rasa apa-apa, dan itu bukan air mani.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah tentang air madzi:

وهو ماء أبيض لزج يخرج عند التفكير في الجماع أو عند الملاعبة، وقد لا يشعر الانسان بخروجه، ويكون من الرجل والمرأة إلا أنه من المرأة أكثر، وهو نجس باتفاق العلماء

“Itu adalah air berwarna putih agak kental yang keluar ketika memikirkan jima’ atau ketika bercumbu, manusia tidak merasakan keluarnya, terjadi pada laki-laki dan wanita hanya saja wanita lebih banyak keluarnya, dan termasuk najis berdasarkan kesepakatan ulama.” (Fiqhus Sunnah, 1/26. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Ada pun air mani adalah –seperti yang dikatakan Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah:

هُوَ الْمَاءُ الْغَلِيظُ الدَّافِقُ الَّذِي يَخْرُجُ عِنْدَ اشْتِدَادِ الشَّهْوَةِ

“Itu adalah air yang sangat kental lagi memancar yang keluar ketika syahwat sedang memuncak.” (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 1/332)

Hanya saja untuk laki-laki yang sedang tidak sehat, bisa saja air maninya tidak kental, istilah di masyarakat kita: “mani encer”.

Kemudian, pertanyaan saudara/saudari ini perlu diperjelas lagi.

Jika ini terjadi dalam coitus (jima’ – hubungan badan), maka tetap wajib mandi, walau belum sampai keluar air mani. Ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ وَفِي حَدِيثِ مَطَرٍ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika sudah duduk di antara empat cabang anggota tubuh wanita, kemudian dia bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi,” Dalam hadits Mathar: “Walaupun belum sampai inzal (ejekulasi/keluar mani).” (HR. Muslim No. 348)

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَمَعْنَى الْحَدِيث أَنَّ إِيجَاب الْغُسْل لَا يَتَوَقَّف عَلَى نُزُول الْمَنِيّ بَلْ مَتَى غَابَتْ الْحَشَفَة فِي الْفَرْج وَجَبَ الْغُسْل عَلَى الرَّجُل وَالْمَرْأَة ، وَهَذَا لَا خِلَاف فِيهِ الْيَوْم

“Makna hadits ini adalah wajibnya mandi bukan karena keluarnya air mani, tetapi ketika sudah terbenamnya ujung kemaluan laki-laki pada kemaluan (wanita), maka telah wajib mandi baik bagi yang laki-laki atau wanita, dan pada hari ini masalah ini tidak ada perselisihan pendapat.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/63. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Dahulu memang ada yang berpendapat bahwa bila belum sampai keluar air mani maka tidak usah mandi wajib (Al Ghusl), berdasarkan hadits: “Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air juga,” maksudnya sebab terjadinya mandi wajib adalah karena keluarnya air juga, yakni air mani. Namun hukum yang ada pada hadits ini mansukh (direvisi).

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال الماء من الماء, الماء الأول يعني ماء الطهارة والماء الثاني يعني المني المعنى أن الغسل لا يجب إلا بالإنزال المني وهذا كان في أول الأمر كان في أول السلام انه لا يجب الغسل إلا من الإنزال

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Air itu disebabkan air.” Air yang pertama adalah air bersuci, air kedua adalah air mani. Maknanya bahwa mandi tidaklah wajib kecuali karena keluarnya mani. Peraturan ini terjadi pada masa awal Islam, bahwa tidak wajib mandi kecuali bagi yang keluar air mani. (Asy Syarh Al Mukhtashar ‘Ala Bulughil Maram, 2/135)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah:

والحكم عند جمهور الأمة على مقتضى هذا الحديث في وجوب الغسل بالتقاء الختانين من غير إنزال وخالف في ذلك داود وبعض أصحابه الظاهرية وخالفه بعض الظاهرية ووافق الجماعة ومستند الظاهرية: قوله صلى الله عليه وسلم: “إنما الماء من الماء” وقد جاء في الحديث: “إنما كان الماء من الماء رخصة في أول الإسلام ثم نسخ” ذكره الترمذي

Hukum yang ditetapkan oleh mayoritas umat dari hadits ini adalah bahwa wajibnya mandi dikarenakan bertemunya dua khitan (dua kemaluan) yang tanpa inzal (ejakulasi), namun Daud dan sebagian sahabatnya dari kalangan zahiriyah (tekstualist) menyelisihi pendapat ini, sebagian zahiriyah lainnya berbeda dengan mereka dan menyepakati jamaah (umat Islam). Kaum zahiriyah ini bersandarkan kepada Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya air itu hanyalah dikarenakan air juga.” Hadits ini pada masa awal Islam merupakan rukhshah (keringan) yang kemudian telah dihapuskan, sebagaimana disebut oleh At Tirmidzi. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdah Al Ahkam, Hal. 76. Cet. 1, 2005M-1426H. Muasasah Ar Risalah)

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menerangkan:

وَإِنَّمَا كَانَ الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ ثُمَّ نُسِخَ بَعْدَ ذَلِكَ

Sesungguhnya “air itu disebabkan karena air” adalah pada masa awal Islam, kemudian dihapuskan setelah itu …

Lalu beliau juga mengatakan:

وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّهُ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ فِي الْفَرْجِ وَجَبَ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلَا

Mayoritas ulama mengamalkan hadits ini bahwa jika seorang laki-laki menggauli isterinya pada kemaluannya maka wajib bagi keduanya mandi walaupun tidak sampai ejakulasi. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 110)

Maka, jelaslah bahwa wajibnya mandi bagi suami dan isteri yang telah jima’ walau keduanya belum sampai keluar air mani, dan baru sekedar air madzi. Wallahu A’lam

Jika kasusnya lain, yakni air madzi ini keluar bukan dalam proses jima’, tetapi karena berkhayal, berciuman atau bercumbu, dan semisalnya, maka cukup dengan mencuci kemaluan hingga bersih dan berwudhu. Hal ini berdasarkan riwayat berikut:

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata:

كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْتُ رَجُلًا أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَسَأَلَ فَقَالَ تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ

“Saya adalah laki-laki yang mudah keluar air madzi, maka saya perintahkan orang lain saja untuk menanyakan hal ini kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena posisi anaknya (sebagai isteri Ali, pen). Lalu Beliau menanyakannya dan Rasulullah menjawab: ‘Berwudhulah dan cuci kemaluanmu.’” (HR. Bukhari No. 269, Abu Daud No. 206, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 604, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 762, Ahmad No. 606)

Hadits ini tegas menyebutkan bahwa air madzi tidak membuat seseorang melakukan mandi wajib, melainkan sekedar mencuci kemaluannya dan berwudhu.

Sekian, semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

(Farid Nu’man Hasan)

gif-iklan-ebook-madah-tarbiyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s