Muhasabah Akhir Tahun

ShalatSatu tahun bukanlah masa yang pendek. Ia terdiri dari dua belas bulan, satu bulan tiga puluh hari, satu hari dua puluh empat jam, satu jam enam puluh menit, satu menit enam puluh detik. Di setiap detik berlalu, pasti ada nikmat Allah ta’ala yang tercurah, dan ada pula amanat Allah yang harus ditunaikan.

Pergantian tahun adalah momen yang tepat untuk bermuhasabah; mengevaluasi diri tentang apa yang telah diperbuat; memperhatikan dan memikirkan apa yang telah berlalu dalam kehidupan. Seperti halnya kaum bisnisman, pada akhir tahun ia membuka catatan-catatan barang maupun hutangnya, untuk mengetahui barang yang tersisa  atau yang sudah terjual; menghitung kerugian yang ia derita atau keuntungan yang ia peroleh; seraya memohon kepada Allah, semoga hari ini lebih beruntung dari harinya kemarin.

Selayaknya bagi mereka yang mau berpikir, untuk menilai dirinya pada setiap umurnya setahun berlalu, yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah ta’ala. Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab berkata, “Hisablah dirimu, sebelum kamu dihisab Allah, timbanglah amal kebajikanmu sebelum ditimbang Allah.”

Dengan inilah manusia akan selalu terpacu melangkah maju ke arah yang lebih baik. Baginya hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebik baik dari hari ini. Seorang bijak berkata: “Barangsiapa yang hari ini seperti hari kemarin ia adalah orang tertipu, dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin ia adalah orang tercela.”

Mengingat Nikmat Allah

Diantara bentuk muhasabah yang layak dilakukan saat ini adalah mengingat-ingat nikmat Allah yang begitu besar dan tidak terhitung banyaknya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl, 16: 18).

Di saat inilah seorang mu’min harus meluangkan waktu untuk memantapkan keyakinan dan pengakuannya; bahwa segala yang ia rasakan dan ia nikmati saat ini, seluruhnya adalah karunia dari Allah Ta’ala yang harus dipergunakan dalam keridhoan-Nya, dan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan-Nya.

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur, 112: 8).

Makna tsumma la tus-alunna yauma-idzin (kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu) menurut Ibnu Abbas, yakni pada hari kiamat. Sedangkan ‘Anin na‘īm (tentang kenikmatan) maknanya yakni tentang syukur kalian atas kenikmatan yang kalian makan, kalian minum, kalian pakai, ataupun kenikmatan-kenikmatan lainnya. Makna ini diperkuat oleh hadits diriwayatkan dari Zubair bin Awwam

لَمَّا نَزَلَتْ { ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنْ النَّعِيمِ} قَالَ الزُّبَيْرُ وَأَيُّ نَعِيمٍ نُسْأَلُ عَنْهُ

وَإِنَّمَا هُوَ الْأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالْمَاءُ قَالَ أَمَا إِنَّهُ سَيَكُونُ

Ketika turun ayat: ‘(Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) ‘, Zubair bertanya (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nikmat apakah yang kiranya akan dimintai pertanggung jawaban dari kami? Sedangkan nikmat kami tidak lain hanya terdiri dari al-aswadain (kurma dan air)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan itu pasti akan terjadi.” (Sunan Ibnu Majah Kitab zuhud Bab Penghidupan sahabat Nabi saw).

Nikmat sekecil apa pun—walau hanya berupa kurma dan air—pasti akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah ta’ala di akhirat kelak, apakah manusia bersyukur atau kufur atas nikmat tersebut?

Oleh karena itu, pergantian tahun seharusnya menjadi momen syahdu bagi umat Islam untuk memanjatkan rasa syukur pada Allah ta’ala atas limpahan nikmat yang telah diberikan; rizki yang halal, ilmu yang bermanfaat, kesehatan yang prima; serta ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan karena nikmat hidayah iman dan Islam.

Hamba  Allah yang baik, tentu tidak akan mengisi pergantian tahun ini dengan berbuat ingkar, melakukan hura-hura yang tidak bermanfaat dan berbau maksiat, yang kemudian menjadikannya semakin lupa kepada Allah ta’ala.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”(QS. Ibrahim, 14: 7).

Mengingat Amanah Allah

Muhasabah yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengingat amanah yang dibebankan Allah ta’ala kepada manusia.

Manusia hadir di muka bumi ini tidak tanpa tujuan. Allah menjadikan mereka sebagai khalifah fil ardhi; generasi pengganti yang berkuasa di muka bumi untuk menjalankan tugas ibadah kepada Allah,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat, 51: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah ta’ala agar mereka menjadi hamba yang senantiasa mentaati-Nya. Tidak mendurhakai Rabb mereka walapun hanya sekejap. ‘Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa penafsiran ayat di atas adalah, “Tiadalah Aku menciptakan mereka, melainkan agar Aku dapat memberi perintah dan tugas kepada mereka.”

Perintah dan tugas yang Allah ta’ala berikan kepada manusia diantaranya adalah mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar; sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj, 22: 41)

Semua perintah dan tugas tersebut memiliki maksud dan tujuan. Shalat bukanlah ritual tanpa arti, atau sekedar gerakan-gerakan yang tanpa makna. Didalam perintah shalat sesungguhnya tersirat sebuah tugas besar bagi kaum muslimin, yakni menegakkan akhlakul karimah di muka bumi, karena selain untuk mengingat Allah ta’ala, shalat juga bertujuan untuk menjauhkan manusia dari perbuatan maksiat dan perilaku buruk.

Allah ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut, 29: 45).

Dalam perintah zakat pun tersirat tugas bagi kaum muslimin, yakni mewujudkan solidaritas sosial; menebar kasih sayang, memperkokoh hubungan, saling mengenal, dan membina kerukunan di antara berbagai lapisan masyarakat. Nash Al-Qur’an menjelaskan hal ini,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah, 9: 103)

Maksudnya, zakat itu dapat membersihkan manusia dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda, sekaligus menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

Sedangkan dalam perintah menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar,  tersirat tugas bagi kaum muslimin untuk melakukan perjuangan dakwah, demi tegaknya keadilan Islam di muka bumi. Sebagaimana perkataan sahabat Nabi, Rib’i bin Amir kepada Rustum, Panglima Perang Persia:

“Allah telah membangkitkan kami untuk mengeluarkan siapa pun yang mau, dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata; dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia, dan dari keculasan agama-agama menuju keadilan Islam”.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki amanah yang berat:

  1. Beribadah kepada Allah ta’ala.
  2. Berbuat kebajikan; membina akhlakul karimah, solidaritas sosial, dan beramar ma’ruf nahi munkar, menegakkan keadilan di muka bumi.

Dimanakah posisi kita dalam penunaian amanah Allah tersebut? Mari kita bermuhasabah… Di tahun baru ini, mari memperbaharui dan memulai tekad serta langkah yang baru. Majulah terus, tataplah masa depan gemilang bersama Allah.

Jadilah hamba yang bersyukur, senantiasa beribadah, berbuat kebajikan, dan berjuang menegakkan kalimah-Nya di muka bumi. Al-mustaqbal li haadzad diin…Insya Allah.

 

Daftar Bacaan

Waktu dalam Kehidupan Muslim, Yusuf Qaradawy

Al-Qur’an Digital Versi 1.0, CV. Diponegoro

Lidwa.com

Dai Berdasi, Fakhruddin Nursyam

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s