Timeline Sirah Nabi Muhammad (Bag. 3, Tamat)

perangMasa Kenabian (Periode Madinah)

622 M: Makkah semakin tidak kondusif untuk dakwah Islam. Bahkan kafir Quraisy memutuskan untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian memerintahkan sahabatnya berhijrah ke Madinah, di mana di sana telah terbentuk basis massa pendukung Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun akhirnya pergi berhijrah bersama Abu Bakar dan tiba di Madinah pada 12 Rabiul Awwal tahun ke 13 Bi’tsah. Tahun inilah yang dijadikan tahun pertama perhitungan kalender Islam

Setelah tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai meletakkan dasar-dasar pembangunan masyarakat Madinah. Disebutkan oleh Muhammad Al-Ghazaly dalam Fiqhus Sirah, ada 3 hal yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka penegakan daulah Islamiyah:

  1. Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Allah Ta’ala, hal ini ditandai dengan membangun masjid sebagai pusat peribadatan dan penggemblengan ruhani.
  2. Memperkokoh hubungan intern ummat Islam, yakni dengan mempersaudarakan  Muhajirin dan Anshar. Dengan inilah jama’ah muslimin semakin solid dan kuat.
  3. Mengatur hubungan umat Islam dengan non muslim. Untuk itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan penandatanganan Piagam Madinah (sulhul Madinah), berisi kesepakatan untuk hidup berdampingan secara damai antara umat Islam dengan kaum Yahudi serta musyrikin  dengan hak dan kewajiban yang sama.

Dengan 3 pilar tersebut kedudukan kaum muslimin semakin mantap. Hal lain yang perlu dicatat adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan pasar Madinah sebagai pembangunan basis perekonomian. Selain itu, guna menjaga keamanan daulah Islamiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sariyyah dengan tugas patroli mengawasi lalu lintas kafilah yang bergerak  dari Mekkah ke Syam dan sebaliknya. Hal ini menurut Muhammad Al-Ghazaly untuk memperlihatkan kekuatan kaum muslimin dan memberi peringatan kepada musyrikin Quraisy.

624 M: Tersiar kabar bahwa sebuah kafilah raksasa kaum musyrikin berangkat meninggalkan Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian diikuti sahabat-sahabatnya bermaksud menghadang kafilah tersebut untuk memberikan pukulan telak kepada penduduk Mekkah. Akan tetapi kafilah Abu Sufyan berhasil menyelamatkan diri, dan Allah memiliki rencana lain: Perang Badar!

Perang ini menjadi shiraaul wujud  (pertempuran eksistensi) bagi kaum muslimin. Kaum musyrikin Quraisy kalah telak, maka eksistensi kaum muslimin semakin diperhitungkan masyarakat Arab pada saat itu. Tepatnya bulan Syawal, Yahudi Bani Qunaiqa mulai berulah, terjadi insiden pelecehan kepada seorang muslimah yang menimbulkan keributan dan terbunuhnya seorang muslim. Berawal dari peristiwa inilah terjadilah ketegangan antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi. Setelah dikepung selama 15 hari akhirnya Yahudi Bani Qainuqa pergi ke Adzraat di daerah Syam.

625 M: Setelah kekalahan di Badr, kaum musyrikin bermaksud melakukan balas dendam. Maka pada pertengahan Syawal mereka bergerak mendekati Madinah. Terjadilah perang Uhud. Pada perang ini kaum muslimin sempat berhasil memukul mundur orang-orang Quraisy, akan tetapi keadaan berbalik setelah beberapa orang pasukan muslimin tidak menjalankan komando Nabi.

‘Kekalahan’ muslimin di Uhud memunculkan keberanian kelompok-kelompok yang dengki kepada kaum muslimin (Arab Badui dan Yahudi). Bani Asad mencoba menyerang Madinah, akan tetapi berhasil dipatahkan oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Abu Salmah. Beberapa saat setelah itu Bani Hudzail pun melakukan hal yang sama. Begitu pula Yahudi Bani Nadzir mulai berulah (merencanakan pembunuhan Nabi) sampai akhirnya mereka diusir dari Madinah.

627 M: Setelah beberapa kali terjadi operasi militer untuk menjaga keamanan Madinah, akhirnya terjadilah perang Ahzab (Khandaq), dimana Yahudi Bani Quraidhah, Arab Badui dimotori Bani Ghatafan dan musyrikin Quraisy bersatu padu hendak menyerang Madinah. Akan tetapi rencana busuk mereka itu digagalkan oleh Allah Ta’ala dengan ditimpakannya kepada mereka angin dan perpecahan internal koalisi tersebut.

628 M: Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke 6 hijriyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. Akan tetapi dihalang-halangi kaum Musyrikin. Kemudian  dilakukan negosiasi. Juru runding dari kaum muslimin adalah Utsman bin Affan. Sempat terjadi peristiwa bai’aturidwan menyusul kabar terbunuhnya Utsman. Tapi tenyata Utsman hanya sempat tertahan saja. Kaum Quraisy kemudian mengutus Suhail bin Amr untuk melakukan perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian dikenal dengan nama perjanjian Hudaibiyyah. Isi perjanjian tersebut adalah tentang kesepakatan gencatan senjata selama 10 tahun dan harus batalnya maksud kaum muslimin berumrah ke Makkah tahun ini. Perjanjian ini menimbulkan tanda tanya mayoritas para sahabat.

Tapi sebenarnya, perjanjian Hudaibiyah ini adalah kemenangan gemilang. Karenan langkah politis Nabi ini semakin memacu percepatan dakwah Islam. Jumlah kaum muslimin pasca perjanjian ini melonjak tajam. Sebagai gambaran tentang ini Ibnu Hisyam menyebutkan ungkapan Az-Zuhri bahwa pada saat keberangkatan ke Hudaibiyyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diikuti sekitar 1400 orang. Tapi 2 tahun kemudian pada peristiwa futuh Makkah Nabi diikuti sekitar 10.000 orang.

Pada masa-masa ini terjadi ketegangan dengan orang-orang Yahudi yang merasa tidak tenang melihat pertumbuhan kekuatan kaum muslimin. Mereka bersama Bani Ghathafan berencana melancarkan tindakan subversive. Maka sekembalinya dari Hudaibiyyah, kaum muslimin segera menuju Khaibar pada 7 hijriyah. Khaibar pun akhirnya dapat dikuasai kaum muslimin. Inilah benteng terakhir orang-orang Yahudi di Madinah. Bertepatan runtuhnya Khaibar, kaum Muhajirin dari Habasyah pulang.

Kekuatan kaum muslimin terus berkembang, dakwah Islam semakin gencar dilakukan. Rasulullah mulai memperkenalkan Islam ke luar negeri melalui surat-surat dakwahnya, diantaranya beliau mengirim surat kepada Kisra (Raja Persia), Kaisar Romawi, Najasyi raja Habasyah, dll.

629 M: Menjelang akhir tahun 7 hijriyah kaum muslimin melakukan umrah sesuai perjanjian Hudaibiyah. Disini kaum muslimin melakukan mudzaharah, show of force untuk memperlihatkan kekuatan.

Hubail bin Amr, utusan Nabi ke penguasa Bashra dibunuh, peristiwa ini mencetuskan Perang Mu’tah. Dalam perang ini 3000 pasukan kaum muslimin  berhadapan dengan 200.000 orang pasukan Romawi dan Nasrani Arab. Perang berakhir seri, tidak ada yang menang maupun yang kalah.

630 M: Berawal penyerangan yang dilakukan Quraisy terhadap Bani Khuza’ah (kelompok musyrikin yang menjadi sekutu kaum muslimin), terjadilah peristiwa Futuh Makkah. Bersama 10.000 pasukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah dan menguasainya. Berhala-berhala dihancurkan. Pada hari itu semua penduduk Mekkah memeluk Islam.

Kabilah Hawazin dan Kabilah Tsaqif menyerang kaum muslimin, maka terjadilah Perang Hunain. Bani Hawazin menyerah sedangkan Bani Tsaqif melarikan diri dan berlindung di benteng-benteng, beberapa bulan kemudian mereka menyatakan diri masuk Islam.

631 M: Terdengar kabar bahwa Romawi berencana menyerang Madinah, maka Rasulullah segera memobilisasi pasukan untuk mencegah niat busuk mereka. Kaum muslimin keluar dari Madinah menuju ke Tabuk dalam suasana musim panas. Mereka menempuh perjalanan panjang sejauh 600 km dari Madinah. Tapi ternyata orang-orang Romawi mengurungkan niatnya.

Eksistensi dakwah Islam terus menguat, orang–orang berdatangan ingin mendengar dakwah ini, diantaranya adalah datangnya utusan Nasrani Najran, dan akhirnya menyatakan takluk kepada daulah Islam dan bersedia membayar jizyah.

632 M: Tahun ke 10 hijriyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Haji wada. Sepulang dari Makkah Nabi berencana melakukan penyerangan kepada Romawi karena telah membunuh Farwah bin Umar Al-Judzami, seorang kepala daerah Romawi yang masuk Islam. Akan tetapi hari-hari terakhir bulan Shafar tahun 11 Hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menderita sakit. Akhirnya pada usia 63 tahun Rasulullah wafat kembali ke haribaan-Nya, ar-Rafiqul A’la.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s