Al-Fatih dan Spirit Penaklukkan Sejarah

al-fatihOleh: Syamsudin Kadir

Dia adalah Sultan Muhammad II (1481 M/831 H), Sultan Utsmani ketujuh dalam silsilah keturunan keluarga Utsman. Muhammad digelari Al-Fatih dan Abu Al-Khairat. Beliau memerintah hampir selama tiga puluh tahun, yang diwarnai dengan kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Beliau memangku kesultanan Utsmani setelah ayahnya wafat pada tanggal 16 bulan Muharram 855 H, yang bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1451 M. Waktu itu umurnya baru menjelang 22 tahun.

Al-Fatih sendiri memiliki kepribadian yang komplit. Sebuah pribadi yang menggabungkan antara kekuatan dan keadilan. Saat mudanya beliau telah banyak mengungguli teman-teman seangkatannya dalam menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan.  Beliau banyak menuntut ilmu di sekolah untuk anak pejabat. Beliau memiliki pengetahuan yang luas, khususnya dalam bahasa dimana pada saat yang sama juga memiliki kecendrungan yang besar dengan buku-buku sejarah. Ini semua menambah kemantapan kepribadiannya dalam masalah manajemen dan administrasi Negara, serta penguasaan medan dan strategi perang. Maka tidak aneh, bila di kemudian hari beliau menjadi sosok yang demikian terkenal di dalam sejarah. Berkat keberhasilan menaklukkan kota Konstantinopel, beliau dijuluki ‘Al-Fatih’ (yang berarti’pembuka’, dalam kontek ini lebih tepat diartikan sebagai ‘Sang Penakluk’).

Beliau menempuh kebijakan yang diwariskan ayah dan kakek-kakeknya dalam hal ekspansi Islam. Dalam catatan sejarah dijelaskan bahwa setelah menjadi sultan yang memimpin Utsmani, beliau sangat menonjol dalam hal restrukturisasi administrasi dan manajemen Negara di berbagai segi. Beliau juga sangat konsen dengan masalah keuangan Negara. Oleh sebab itulah, beliau menetapkan pendapatan Negara dan bagaimana cara pembelanjaannya secara efektif dan efesien sehingga bisa mencegah terjadinya pemborosan dan pembobolan uang Negara. Selain itu, beliau juga berkonsentrasi untuk meningkatkan kepiawaian pasukannya, serta restrukturisasi tentara dengan cara melakukan pengabsenan khusus pada pasukan, serta memberikan tambahan gaji dan melengkapi mereka dengan persenjataan yang terbaik di zamannya.

Selain itu, beliau melakukan reshuffle para pejabat penyelenggara pemerintahan di beberapa wilayah. Sebagian di antara mereka ada yang tetap dikokohkan pada posisinya, dan sebagian yang lain, yang tampak tidak serius menangani pemerintahan, segera diturunkan. Beliau telah melakukan peningkatan bidang administrasi di dalam pemerintahan Utsmani, dengan memberi banyak pengalaman manajemen Negara dan militer yang baik, yang telah banyak membantu menjadikan Negara berada dalam keadaan stabil dan maju.

Tatkala dirasa konsolidasi internal tercapai, Al-Fatih mulai melirik wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Kristen di Eropa, dengan tujuan untuk melakukan ekspansi kekuasaannya dan menyebarkan Islam di sana. Banyak faktor yang membuat keinginannya ini terrealisasi dengan baik. Di antaranya, adalah lemahnya kekaisaran Byzantium akibat adanya konflik dengan Negara-negara Eropa yang lain. Selain itu, karena adanya konflik internal yang merambah ke hampir seluruh wilayah yang ada di Eropa.

Al-Fatih tidak hanya mencukupkan diri dengan dua kelemahan tersebut, beliau juga berpikir dan berusaha serius agar berhasil meraih kemenangan dengan menaklukan Konstantinopel, pusat pemerintahan kekaisaran Byzantium sekaligus sebagai pusat strategi paling penting yang dijadikan tempat bergerak pihak Kristen untuk melakukan serangan terhadap dunia Islam dalam rentang waktu beberapa tahun. Kota ini menjadi kebanggan kekaisaran Byzantium secara khusus dan orang-orang Kristen umumnya. Kini Al-Fatih berusaha untuk menjadikan pusat kekuasaan Byzantium tersebut sebagai ibu kota pemerintahan Islam. Selain itu, beliau berusaha merealisasikan apa yang sebelumnya belum bisa dicapai oleh para pendahulunya termasuk para jenderal pasukan Islam.

Selamat Jalan Al-Fatih!

Pada bulan Rabi’ul Awal tahun 887 H yang bertepatan dengan tahun 1481 M., Al‑Fatih berangkat menuju Asia Kecil di mana di Askadar telah dipersiapkan sebuah pasukan dalam jumlah besar. Sebelum keluar dari Istanbul menuju Asia Kecil, Sultan diserang penyakit panas. Namun beliau tidak peduli dengan penyakit ini, karena kecintaannya untuk berjihad di jalan Allah dan kerinduannya yang terus menerus untuk melakukan perang yang langsung berada di bawah komandonya sendiri.

Biasanya dalam perang yang berkecamuk, beliau akan mendapatkan kesembuhan. Namun kali ini, ternyata penyakitnya semakin parah dan panasnya meninggi. Maka sesampainya di Askadar, beliau memanggil para dokter. Namun ketentuan Allah telah berlaku, di mana saat itu telah tidak berguna lagi dokter dan obat. Al-Fatih wafat di tengah-tengah pasukan besarnya pada tanggal 4 bulan Rabiul Awwal 886 H./Mei 1481 M. Saat wafatnya beliau berusia 52 tahun setelah berkuasa selama tiga puluh tahun lebih.

Setelah kabar kewafatan Sultan menyebar di Barat dan Timur, terjadilah sebuah peristiwa yang mengguncang kaum muslimin dan Kristen. Orang‑orang Kristen demikian gembira mendengar kewafatan Al-Fatih. Orang‑orang Kristen yang berada di Rhodesia melakukan sembahyang untuk mensyukuri kewafatan Al-Fatih serta perasaan mereka bahwa mereka telah selamat dari musuh yang selama ini sangat ditakuti.

Tentara Utsmani saat itu telah sampai di Italia bagian Selatan untuk menaklukan Italia dan untuk segera memasukkannya menjadi bagian dari pemerintahan Utsmani. Namun kabar kewafatan Al-Fatih sampai pada tentara Utsmani yang ada di tempat itu, sehingga mereka dilanda rasa duka yang sangat mendalam. Peristiwa ini juga telah memaksa tentara Utsmani untuk melakukan perjanjian damai dengan raja Napoli, agar mereka menarik diri dari wilayah itu dengan aman. Mereka sepakat dengan klausul itu, namun orang‑orang Kristen itu tidak menepati janji. Mereka menangkap beberapa pasukan yang berada di bagian belakang pasukan. Kemudian mereka dirantai dengan besi.

Tatkala kabar kewafatan Al-Fatih sampai ke Roma, Paus sangat gembira dan segera memerintahkan agar gereja‑gereja dibuka dan dilakukan sembahyang serta pesta. Bahkan gelombang manusia pun memenuhi jalan‑jalan, sambil menyenandungkan lagu‑lagu kemenangan dan kegembiraan yang ditengahi dengan dentuman meriam. Pesta ini berlangsung di Roma selama tiga hari berturut‑turut. Dengan kewafatan AI‑Fatih, orang‑orang Kristen merasa terbebaskan dari seorang musuh yang paling berbahaya dan mengancam mereka.

Tidak seorang pun tahu ke mana arah yang akan dituju oleh Al-Fatih dengan tentara yang telah dipersiapkan itu. Banyak pendapat berkembang di tengah masyarakat saat itu tentang masalah ini. Apakah dia bermaksud untuk melakukan serangan ke Rhodesia untuk membuka kepulauan itu yang sebelumnya tidak bisa ditaklukkan oleh Masih Pasya? Atau beliau sedang bersiap‑siap untuk bergabung dengan tentaranya yang menang di Italia Selatan, lalu setelah itu berangkat sendiri ke Roma dan bagian Utara Perancis serta Spanyol?

Semua itu menjadi rahasia misterius yang tersimpan dalam dada Al-Fatih dan beliau tidak memberitahukan pada siapa pun. Sebelum misteri itu diketahui siapa pun, faktanya Al-Fatih telah dijemput sang maut.

Adalah merupakan kebiasaan Al‑Fatih untuk merahasiakan ke arah mana tentaranya akan melakukan serangan. Beliau akan menjaga rahasia ini serapat‑rapatnya, sehingga beliau membiarkan musuh‑musuhnya dalam keadaan lalai dan bingung. Sehingga mereka tidak tahu kapan serangan tiba‑tiba akan datang pada mereka. Kemudian Al-Fatih melakukan serangan mendadak pada musuh‑musuhnya, sehingga tidak memberikan peluang pada musuh untuk melakukan persiapan.

Suatu saat, salah seorang hakim bertanya ke mana dia dan pasukannya akan melakukan serangan. Al-Fatih menjawab, “andaikata seuntai rambut yang ada di kepalaku tahu, ke mana aku akan melakukan serangan, maka akan aku lempar dia ke dalam api.”

Tujuan Al-Fatih adalah untuk menaklukan Italia dari arah Selatan dan hingga ujungnya di bagian Utara. Kemudian penaklukan itu dilanjutkan ke Perancis, Spanyol dan negeri‑negeri yang lain.

Kaum muslimin di seluruh dunia saat itu demikian terpukul dengan wafatnya Al‑Fatih. Mereka merasakan kesedihan yang demikian mendalam. Kaum muslimin merasa sedih bahkan menangisi kewafatannya. Kemenangan‑kemenangan yang telah beliau hasilkan telah menumbuhkan kebanggaan pada mereka dan sekaligus mengingatkan mereka akan jejak hidup para salafus saleh.

Abdul Hayy bin Al‑’Imad Al‑Hanbali mengatakan dalam bab orang-orang yang meninggal pada tahun 886 H:

“… Dia merupakan Sultan yang paling agung dari kalangan Bani Utsmani. Dia adalah raja utama yang memiliki sifat‑sifat mulia. Raja terbesar yang selalu melakukan jihad. Dia adalah raja yang paling mampu melakukan ijtihad dan paling kokoh memegang pendirian. Dia raja yang paling bertawakkal kepada Allah. Dialah yang menegakkan kerajaan Bani Utsman dan membuat Undang-undang yang menjadi pengikat di perjalanan waktu. Dia memiliki riwayat dan perjalanan hidup yang indah dan memukau serta kelebihan yang demikian banyak. Dia memiliki peninggalan di lipatan hari dan malam yang tidak akan bisa dihapuskan oleh putaran waktu dan zaman. Dia telah melancarkan perang yang menghancurkan salib‑salib dan berhala-berhala. Pekerjaan paling besar yang telah dia capai adalah penaklukan kota Konstantinopel. Dia telah mampu menyerang kota itu dari darat dan laut dengan mengggunakan kapal‑kapal. Tentaranya telah mampu menyerang kota itu. Dia maju dengan kuda‑kudanya, dengan pasukan-pasukannya yang penuh kesatria. Selama lima puluh hari, dia kepung kota itu dengan pengepungan yang demikian ketat. Dialah menyempitkan ruang gerak orang‑orang kafir dan jahat yang berada di dalam kota itu. Dia telah menghunus pedangnya di kota itu. Dalam kancah perang itu, dia berlindung di bawah perlindungan Allah yang tidak tertembus. Dia telah mengetuk dan berusaha menembus pintu kemenangan berkali‑kali. Hingga akhirnya, berkat kesabarannya, Allah menurunkan Malaikat Raqib dan dengan pertolongan yang datang dari Allah, takluklah kota Istanbul pada hari kelima puluh satu dari pengepungan. Tepatnya pada tanggal 24 Jumadil Akhir bulan Jumadil Awal tahun 857 H. Dia melakukan shalat juma’at di sebuah gereja terbesar, Ayya Sofia yang memiliki kubah menjulang ke langit yang menyerupai kubah‑kubah piramid yang tidak pernah lapuk. Dia telah membangun tradisi keilmuan di Istanbul yang tidak khawatir matahari keilmuan tenggelam di tempat itu. Dia membangun sekolah‑sekolah laksana mangkuk besar yang memiliki delapan buah pintu yang demikian gampang untuk dimasuki. Dia membuat undang-undang yang sesuai dengan akal dan naql… .

Semoga Allah Swt. melimpahkan pahala‑Nya atas perhatiannya terhadap para penuntut ilmu dan atas sistem hidup yang dilaluinya. Sebab dia telah menutupi semua kebutuhan mereka tatkala mereka membutuhkannya. Dia telah menutupi semua kefakiran sehingga mereka memiliki jiwa yang sadar. Setelah itu dia memberikan kedudukan-kedudukan yang bisa mereka naiki dengan cara yang kokoh, hingga mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan dengannya mereka mencapai kemuliaan akhirat. Sesungguhnya dia telah merekrut para ulama dari berbagai negeri yang dia perhatikan mereka dengan perhatian yang besar lewat tindakan‑tindakannya yang mulia. Di antaranya adalah, Maulano Ali Al‑Qawsyaji, yang mulia At-Thusi, Al‑Alim Al-Kurani dan yang lainnya dari kalangan ulama yang mulia. Dengan demikian, maka Istanbul menjadi ‘Pusat Dunia’, sumber kebanggaan dan kemuliaan. Di sekelilingnya berkumpul orang‑orang yang memiliki sifat yang baik dan sempurna dari semua disiplin ilmu pengetahuan. Ulama‑ulama Istanbul hingga kini adalah ulama‑ulama yang sangat agung. Para pekerjanya adalah orang‑orang cerdas, para penguasanya adalah orang-orang yang sangat bahagia. Dan bagi Sultan demikian banyak kebaikan yang telah diberikan pada kaum muslimin, khususnya para ulama yang mulia.”

Semoga Allah memberi ampunan dan ridha‑Nya kepada Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin sholeh yang memimpin dengan keimanan, keilmuan, amal nyata dan keikhlasan serta kesungguhannya! []

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s