Syarah Hadits Ketujuh Belas: Berbuat Terbaik Dalam Segala Hal (Bag. 1)

NabawiMatan Hadits:

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ)  رواه مسلم

                Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan) berbuat ihsan atas segala hal. Maka, jika kalian membunuh (dalam peperangan) maka lakukanlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih maka lakukanlah sembelihan yang baik, hendaknya setiap kalian menajamkan parangnya, dan membuat senang hewan sembelihannya.” Diriwayatkan oleh Muslim

Takhrij Hadits:

  • Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1955
  • Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 2815
  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 1409
  • Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3170
  • Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 5883, 5884
  • Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra 4494
  • Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 2783
  • Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf 8603
  • Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7738
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 17154, 17157, 17169, 17179
  • Imam Ath Thabarani dalam Al Kabir 7120
  • Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 11071
  • Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal 15609
  • dll

 Makna Hadits Secara Global

Hadits ini memiliki banyak faidah (manfaat)  dan kaidah dalam kehidupan kita, baik dalam urusan akhlak, adab, juga fiqih. Oleh karena itu Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

وهذا الحديث من الأحاديث الجامعة لقواعد كثيرة

                Hadits ini termasuk di antara hadits-hadits yang mengumpulkan banyak kaidah-kaidah. (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarhul Arbain An Nawawiyah, 1/72. Maktabah Al Misykah)

Apa sajakah itu?

  1. Hendaknya menjalankan sesuatu dengan cara terbaik, dengan makna ‘baik’ yang begitu luas.  Entah manusia istilahkan: terencana, terukur, terstruktur, sistematis, dan profesional, yang semuanya memiliki makna dan batasannya sendiri-sendiri.

Melakukan sesuatu dengan cara terbaik adalah perintah syariat, baik secara manthuq (tersurat) atau mafhum (tersirat). Oleh karena itu, di dalamnya terdapat nilai ibadah yang sangat serius bagi yang menjalankannya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan baik …” (QS. An Nahl (16); 90)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 إِنَّ الله يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.

                Sesungguhnya Allah menyukai jika  kalian melakukan perbuatan  dilakukan   secara itqan. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 5312. Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 9128.  Abu Ya’la No. 4386. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 897)[1]

                Apa itu itqan ?  Al Jauhari menulis dalam Ash Shihah fil Lughah:

إتْقانُ الأمر: إحكامهُ. ورجلٌ تِقْنٌ بكسر التاء: حاذق

                Itqanul Amri artinya menyempurnakannya. Rajulun Tiqnun dengan huruf ta’ dikasrahkan berarti haadziq (cerdas, pandai, cakap). (Al Jauhari, Ash Shihah fil Lughah, 1/64. Mawqi’ Al Warraq)

                Jadi melakukan perbuatan atau pekerjaan  secara sempurna, utuh, cakap, dan profesional adalah perbuatan yang disukai Allah ‘Azza wa Jalla dan diperintahkan olehNya.

  1. Melakukan perbuatan dengan cara terbaik, juga ditekankan dalam perkara dan situasi yang sangat emosional seperti peperangan, yang biasanya manusia cenderung bertindak brutal karena berorientasi pada hasil ‘yang penting menang’ dan pokoknya musuh mati. Sedangkan syariat memberikan panduan bahwa bagaimana cara memenangkan peperangan merupakan hal yang sangat penting, yaitu dengan cara terbaik, terhormat, termudah, tercepat agar musuh tidak lama merasakan sakit, tidak menyiksa, mencincang, dan semisalnya.

Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah menjelaskan:

بأن تختاروا أسهل الطرق وأخفها وأسرعها زهوقا  

                Dengan memilih cara yang paling mudah, paling ringan, dan paling cepat mematikan. (At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah hadits No. 17)

Hal ini   juga dikatakan oleh Imam Al Munawi Rahimahullah dalam At Taisir bisyarhi Al Jami’ Ash Shaghir, dan beliau juga menambahkan:

كما قال القرطبي أن لا يقصد التعذيب لكن تراعى المثلية في القتال إن أمكن

Sebagaimana dikatakan oleh Al Qurthubi yaitu tidak bermaksud untuk menyiksa tetapi dengan mempertimbangkan cara yang ideal (al mitsaliyyah) dalam membunuh, sebisa mungkin. (At Taisir bisyarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 1/180. Cet. 3. 1988M-1408H. Maktabah Imam Asy Syafi’i, Riyadh)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan pula:

 قال ابن أبي جمرة: فيه رحمة الله لعباده حتى في حال القتل، فأمر بالقتل، وأمر بالرفق فيه.

Berkata Ibnu Abi Jamrah: “Di dalamnya terdapat rahmat (kasih sayang) Allah kepada hamba-hambaNya sampai-sampai dalam  keadaan perang, maka diperintahkan untuk  berperang, dan diperintahkan juga bersikap lembut di dalamnya. (Fathul Bari, 9/644)

2. Melakukan perbuatan dengan cara terbaik juga dilakukan kepada hewan, baik ketika mereka hidup dalam pemeliharaan dan lingkungan kita, atau ketika mereka hendak akan disembelih untuk keperluan hidup manusia.

Said bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu menceritakan:

كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَمَرُّوا بِفِتْيَةٍ أَوْ بِنَفَرٍ نَصَبُوا دَجَاجَةً يَرْمُونَهَا فَلَمَّا رَأَوْا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا عَنْهَا وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ مَنْ فَعَلَ هَذَا

Saya sedang bersama Ibnu Umar, lalu lewatlah para pemuda atau sekelompok orang yang menyakiti seekor ayam betina, mereka melemparinya. Ketika hal itu dilihat Ibnu Umar mereka berhamburan. Dan Ibnu Umar berkata: “Siapa yang melakukan ini? Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang melakukan ini.” (HR. Bukhari No. 5515, Muslim No. 1958, Ahmad No. 5018, Ibnu Hibban No. 5617, dan ini menurut lafaz Bukhari)

Dalam riwayat yang sama, dari Ibnu Umar pula:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَثَّلَ بِالْحَيَوَانِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat orang yang mencincang/membuat cacat hewan. (HR. Bukhari No. 5515)

Yaitu mencincang dan membuat cacat hewan ketika masih hidup. Lalu, apa makna laknat dalam hadits ini? Yaitu diharamkan. Al Hafizh Al Imam Ibnu Hajar mengatakan:

واللعن من دلائل التحريم

Dan ‘laknat’ merupakan  di antara petunjuk keharamannya.” (Fathul Bari, 9/644)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا

Janganlah kalian menjadikan sesuatu yang memiliki ruh sebagai sasaran. (HR. Muslim No. 1957, Ibnu Majah No. 3178, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 4532, Ahmad No. 2532, 2586, 2705, 3155, 3215, 3216, Ibnu Al Ju’di dalam Musnadnya No. 481, Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2738, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7759, 7760, 7761)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ مَثَّلَ بِذِي رُوحٍ، ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مَثَّلَ اللهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa yang mencincang sesuatu yang punya ruh, lalu dia tidak bertobat, maka dengannya Allah akan mencincangnya pada hari kiamat. (HR. Ahmad No. 5661)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih, isnadnya dhaif karena kedhaifan Syarik, dan perawi lainnya adalah terpercaya dan merupakan perawi shahih.(Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 5661). Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: rijaaluhu tsiqaat (para perawinya terpercaya). (Lihat Fathul Bari, 9/644). Imam Al Haitsami mengatakan: “diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath Thabarani dalam Al Awsath, dari jalan Ibnu Umar dan tanpa ragu, dan para perawi Ahmad adalah perawi yang terpercaya.(Lihat Majma’ Az Zawaid,  6/249-250). Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini diberbagai kitabnya. (Seperti As Silsilah Adh Dhaifah No. 5089, Dhaif At Targhib wat Tarhib No.683 )

Bukan hanya menyiksa hewan, memelihara hewan namun tidak memberikannya makan dengan baik, hingga membuatnya kurus juga hal yang dilarang syariat.

Sahl bin Al Hanzhaliyah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعِيرٍ قَدْ لَحِقَ ظَهْرُهُ بِبَطْنِهِ فَقَالَ اتَّقُوا اللَّهَ فِي هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوهَا صَالِحَةً وَكُلُوهَا صَالِحَةً

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati unta yang antara punggung dan perutnya telah bertemu (maksudnya kurus, pen), Beliau bersabda: “Takutlah kalian kepada Allah  terhadap hewan-hewan yang tidak bisa bicara ini, tunggangilah dengan baik, dan berikan makan dengan baik pula.” (HR. Abu Daud No. 2548, Ahmad No. 17662, Ibnu Khuzaimah No. 2545. Hadits ini shahih. Lihat Raudhatul Muhadditsin No. 3352)

Selain itu hendaknya tidak membebani hewan dengan hal yang menyulitkannya dan sangat berat.

Dari Abdullah bin Ja’far meriwayatkan (dalam redaksi hadits yang panjang), “… (Suatu saat) Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki sebuah kebun milik salah satu seorang sahabat Anshar. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta. (Ketika beliau mellihatnya, maka beliau mendatanginya dan mengelus bagian pusat sa mpai punuknya serta kedua tulang belakang telinganya. Kemudian unta itu tenang kembali). Beliau berkata: ‘Siapa pemilik unta ini? Milik siapa ini?’ Kemudian datanglah seorang pemuda dari golongan Anshar, lalu berkata ‘Wahai Rasul, unta ini milik saya’. Lalu beliau bersabda:

أَمَا تَتَّقِي اللهَ فِي هَذِهِ الْبَهِيمَةِ الَّتِي مَلَّكَكَهَا اللهُ، إِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيعُهُ وَتُدْئِبُهُ

Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini yang telah diberikan Allah kepadamu? Dia memberitahu kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat’” (HR. Muslim No. 342, 2429. Abu Daud No. 2549, Ahmad No. 1745, Ad Darimi No. 663, 775)

Selain itu, juga dilarang memberi cap atau tanda kepada hewan dengan benda-benda yang menyakitkan seperti di-ceplak dengan besi panas, cairan panas, dan semisalnya.

Berkata Jabir bin Abdullah Radhlallahu ‘Anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَيْهِ حِمَارٌ قَدْ وُسِمَ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ الَّذِي وَسَمَهُ

“ Bahwasanya lewat dihadapan  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seekor Keledai yang diwajahnya diberikan cap (tanda). Maka beliau bersabda: Allah melaknati orang yang membuat  cap padanya. (HR. Muslim No. 2117, Abu Daud No. 2569, Ibnu Hibban No. 5627, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 13037, Abu Ya’la No. 651, 2099)

Demikianlah diantara sikap baik terhadap hewan yang hidup di sekeliling kita, baik hewan ternak atau hewan yang bebas  di alam dan tidak membahayakan.[2]

Sedangkan sikap ‘baik’ terhadap hewan yang akan disembelih untuk di makan, adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Al Munawi Rahimahullah sebagai berikut:

بالرفق بها فلا يصرعها بعنف ولا يجرّها للذبح بعنف وبإحداد الآلة وتوجيهها للقبلة والإجهاز وإراحتها وتركها حتى تبرد

(yaitu menyembelih) dengan lembut, tidak memotongnya dengan kejam, tidak menyeretnya ketika disembelih dengan kejam pula, lalu menajamkan alatnya, menghadapkan ke kiblat, menyiapkan alatnya, mematikannya, dan meninggalkannya sampai badannya menjadi dingin. (At Taisir bisyarhi Al Jami’ Ash Shaghir, 1/518)

                Maka, tidak dibenarkan hewan sembelihan yang belum mati dilukai anggota badannya agar cepar mati sebagaimana yang pernah kita saksikan dilakukan oleh sebagian penjagal yang tidak memahaminya. Wallahul Musta’an ….

 Selanjutnya:

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ : Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu

Dia adalah Syaddad bin Aus bin Tsaabit Al Khazrajiy Al Anshariy, kun-yahnya Abu Ya’la. Ada juga yang menyebutnya Abu Abdirrahman. Ibnu Al Barqi mengatakan bahwa ayahnya ikut perang Badar dan wafat di Uhud.  Al Bukhari mengatakan bahwa ada yang menyebut Syaddad  ikut perang Badar, tapi itu tidak shahih.

Dia meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu. Ada pun yang meriwayatkan hadits darinya adalah anaknya yang bernama Ya’la, Muhammad, Mahmud bin Ar Rabi’, Mahmud bin Lubaid, Abdurrahman bin Ghanam, Basyir bin  Ka’ab, Abul Asy’ats Ash Shan’ani, Abu Idris Al Khaulani,  dan lainnya.

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan ucapan dari ‘Ubadah bin Ash Shamith katanya:

شداد بن أوس من الذين أوتوا العلم والحلم ومن الناس من أوتي أحدهما

                Syaddad bin Aus termasuk orang-orang yang diberikan ilmu dan Al hilm (penyabar, murah hati, santun), sedangkan di antara manusia diberikan salah satunya saja.

Sementara Sa’id bin Abdul Aziz menceritakan bahwa Syaddad bin Aus punya dua keutamaan, yaitu jelas jika bicara dan mampu menahan marah.  Ibnu Sa’ad mengatakan beliau wafat tahun 58 H, saat berusia 75 tahun, dan beliau seorang yang rajin ibadah dan serius dalam beramal.

Ibnul ‘Atsir menceritakan bahwa Syaddad bin Aus adalah seorang ahli ibadah, wara’, dan takut kepada Allah.

Asad bin Wada’ah menceritakan:

كان شداد بن أوس بن ثابت إذا أخذ مضجعه من الليل كان كالحبة على المقلى فيقول : اللهم إن النار قد حالت بيني وبين النوم ثم يقوم فلا يزال يصلي حتى يصبح

Adalah Syaddad bin Aus bin Tsabit jika dia mendatangi pembaringannya pada malam hari bagaikan biji-bijian di atas penggorengan (maksudnya gelisah, pen). Dia berdoa: “Ya Allah sesungguhnya neraka telah menghalangi antara aku dan tidurku,” lalu dia bangun dan terus menerus shalat hingga pagi.

Ketika Utsman terbunuh Beliau mengucilkan dirinya untuk beribadah dan menjauhi fitnah tersebut.

Ibnu Hibban mengatakan bahwa beliau dikuburkan di Baitul Maqdis, pada tahun 58 H, tanggalnya berbagai versi,  pada usia 75 tahun. Namun ada juga yang menyebutnya wafat tahun 71 H, 67 H dan 64 H.

(Lihat lengkapnya dalam Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, pada biografi Syaddad bin Aus, 3/319-120,  No. 3581. Cet. 1, 1412H. Darul Jil, Beirut. Lihat juga Usadul Ghabah karya Imam Ibnul Atsir, Hal. 499-500. Lihat juga Taarikh Al Islamiy karya Imam Adz Dzahabi, 4/ 235-237. Cet. 1, 1407H-1987M. Darul Kutub Al ‘Arabi, Beirut)

عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ : sesungguhnya Allah menetapkan (mewajibkan)

Imam Muhammad bin Abdul Hadi As Sindi dalam Hasyiah ‘Ala Ibni Majah   mengatakan: kataba artinya awjaba (mewajibkan). (Lihat Hasyiah ‘Ala Ibni Majah, 6/199. Lihat juga At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah No. 17)

                Hanya saja para ulama berbeda dalam memahami makna wajib dalam hadits ini.

                 Imam Ibnu Abdil Hadi As Sindi menambahkan makna ‘wajib’ di sini adalah An Nadbu Al Mu’akkad –  sunah yang sangat dianjurkan. (Ibid)

                Ath Thayyibi juga mengatakan maknanya adalah mustahab (disukai/sunah). (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/664)

                Sedangkan Imam Ibnu ‘Alan menambahkan: awjaba wa qadara  – mewajibkan dan menetapkan. (Imam Ibnu ‘Alan, Dalilul Falihin, 5/105, No. 9640)

                 Para ushuliyyin (ahli ushul) mengatakan bahwa lafaz kataba termasuk lafaz yang membawa kepada makna wajib. Berkata Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh:

فلفظ “كتب” وما تصرف منه يدل على أنه واجب ، يعني يدل على أن المكتوب واجب ، ومنه الإحسان

                Maka, lafaz kataba  dan lafaz apa saja yang berasal dari pecahannya, menunjukkan kewajiban, yakni menunjukan bahwa sesuatu yang yang ditulis (Al Maktubah) adalah wajib, diantaranya berbuat   Ihsan. (Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh,  Syarhul Arbain An Nawawiyah, hal. 142)

                Selanjutnya:

الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ :  (berbuat) Al Ihsan atas segala hal

Imam Ibnu ‘Alan mengatakan tentang Al Ihsan, yakni itqaanul fi’li (perbuatan yang sempurna/profesional). (Dalilul Falihin, 5/105)

                Sedangkan secara syara’, makna Al Ihsan telah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskan sendiri dalam hadits Arbain no. 2, silahkan merujuk ke sana.

Kalimat ini menunjukkan bahwa melakukan perbuatan secara Ihsan diperintahkan pada semua perbuatan baik, tanpa kecuali.

Makna ‘Ala kulli syai’ (atas segala hal) adalah:

على كل شيء : (( على )) هنا بمعنى (( إلى )) أو (( في ))

                ‘Ala kulli syai’: ‘Ala di sini artinya Ilaa (kepada) atau fii (pada/dalam). (At Tuhfah, syarah No. 17)

                Jadi, Allah Ta’ala mewajibkan berbuat Ihsan atas segala hal, dalam segala hal, dan pada segala hal.

Syaikh Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullah menjelaskan:

أي إلى كل شيء أو على بمعنى في أي أمركم بالإحسان في كل شيء والمراد منه العموم الشامل للإنسان حيا وميتا

                Yaitu berbuat baik kepada segala hal, atau “atas”  yang artinya adalah pada  urusan kamu pada hal apa saja   lakukanlah secara ihsan. Maksudnya berlaku secara umum   bagi semua manusia, yang hidup dan yang mati. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/664-665)

                Selanjutnya:

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ : Maka, jika kalian membunuh maka lakukanlah dengan cara yang baik

Yakni jika kalian membunuh baik dalam peperangan, qishash, atau had, lakukanlah dengan cara terbaik, manusiawi, tidak kejam dan bengis, dan tidak mencincang mayit.

Berkata Syaikh Ismail Al Anshari Rahimahullah:

فإذا قتلتم : قودا أو حدا

                Maka, jika kalian membunuh: dalam qishash (qawadan) atau had. (At Tuhfah, Ibid)[3]

                Aktifitas membunuh yang dibenarkan ada pada jihad, qishash, dan had. Semuanya diperintahkan dilakukan dengan cara yang terbaik.

Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim Rahimahullah menjelaskan:

وقد يقتل في ميدان الجهاد عند مجاهدة العدو الكافر المشرك بالله، وفي هذه يتجلى أدب الإسلام حتى مع الكافر المشرك والمحارب، فلو قتل في المعركة فلا ينبغي أن يمثل به، وقد نهى صلى الله عليه وسلم عن ذلك فقال: ( قاتلوا على بركة الله باسم الله، لا تقتلوا وليداً ولا امرأة ولا تمثلوا )، فإذا كان هذا في حق المشرك بالله المحارب للمسلمين، فكيف بغيره؟!

                Aktifitas membunuh terjadi pada medan jihad ketika memerangi musuh orang kafir yang menyekutukan Allah, dan dalam hal ini telah jelas adab Islam sampai-sampai terhadap orang pasukan kaum kafir musyrik. Jadi, seandainya membunuh di dalam peperangan janganlah mencincang-cincang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  telah melarang hal itu, Beliau bersabda: (Beperanglah atas berkah dari Allah dan dengan nama Allah, janganlah membunuh anak-anak, wanita, dan jangan mencincang-cincang mayat). Maka, jika ini merupakan hak orang yang menyekutukan Allah yang memerangi kaum muslimin, bagaimana dengan selainnya?! (Syaikh ‘Athiyah bin Muhammad Salim, Syarhul Arbain An Nawawiyah,  Syarah No. 17. Mawqi’ Syabkah Al Islamiyah)

Hadits yang disebutkan Syaikh ‘Athiyah Salim diriwayatkan oleh Muslim No. 1731, dari Buraidah. At Tirmidzi No. 1408, dari Buraidah. Abu Daud No. 2613, dari Buraidah. Ibnu Majah No. 2857, dari Shafwan bin ‘Assal. Abdurrazzaq dalam Al Mushnnaf No. 9428, dari Buraidah. Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 1558, dari Ibnu Umar, dan lainnya.

Ini adalah jika perang menggunakan pedang dan semisalnya. Ada pun zaman ini, ketika peperangan menggunakan senjata api, baik senapan mesin, bom, dan rudal, tidak bisa dikatakan alat pencincang. Sebab masing-masing senjata ada targetnya masing-masing, dan tujuan pembuatan yang tidak sama. Ada granat anti tank, rudal penghancur pesawat, dan semisalnya, semuanya bukan ditujukan manusia. Untuk manusia cukup dengan peluru saja. Oleh karenanya, tidak tepat menghancurkan pesawat hanya dengan pistol, sebagaimana tidak tepat membunuh satu masuh dengan satu rudal.

(Bersambung Insya Allah…)

 

Catatan Kaki:

[1] Terjadi perbedaan pendapat tentang status hadits ini.   Imam Al Bushiri mengatakan isnad hadits ini dhaif. Beliau mengatakan:

هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ ، لِضَعْفِ مُصْعَبِ بْنِ ثَابِتٍ.

  Isnad ini dhaif karena kedhaifan Mush’ab bin Tsaabit. (Lihat Ittihaf Al Khairah, 3/382. Cet. 1, 1999M-1420H.  Darul Wathan, Riyadh)

Imam Al Haitsami juga mengisyaratkan kelemahan hadits ini. Katanya:

وفيه مصعب بن ثابت وثقه ابن حبان وضعفه جماعة.

Di dalamnya terdapat Mush’ab bin Tsaabit, yang telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban dan didhaifkan oleh jamaah (para ahli hadits, pen).  (Lihat Majma’ Az Zawaid, 4/98)

Namun Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini, sebab menurutnya terdapat beberapa  riwayat lain yang memperkuat hadits ini. (Silahkan merujuk As Silsilah Ash Shahihah No. 1113)

Penulis  kitab Shahih Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, juga menyebutkan hasan. Lihat  Bab Mahabbatullah Li ‘Abdihi No. 13. Wallahu A’lam

[2] Sedangkan terhadap hewan yang membahayakan, mengganggu, dan mengancam kehidupan manusia, baik hewan itu kecil atau besar, maka syariat membolehkan untuk membunuhnya. Secara umum, Islam melarang membunuh binatang. Namun Islam membolehkan membunuh binatang-binatang yang mengganggu dan membahayakan keselamatan manusia, sebab keselamatan manusia lebih beharga,  hewan tersebut seperti; serigala, ular berbisa, kalajengking, tikus, hama, dan sebagainya yang membahayakan dan mengganggu. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْحُدَيَّا وَالْغُرَابُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

“Ada lima binatang yang semuanya adalah  membahayakan, boleh dibunuh di tanah Haram, seperti:  tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak,  anjing buas.” (HR. Bukhari No. 3136, 1732,  Muslim No. 1198, Abu Daud No. 1846, An Nasa’i  No. 2830, Ibnu Majah No. 3087, ada tambahan disebutkan: burung gagak belang hitam putih. Juga No. 3088, Ad Darimi No. 1816, Ibnu Hibban No. 5632 )

Ada  riwayat lain yang shahih (HR.  Muslim)   yakni anjuran membunuh cicak.  Dalam hadits-hadits ini hanyalah contoh, namun hakikatnya berlaku secara umum bahwa hewan apa saja yang membahayakan kehidupan manusia boleh dibunuh.

Ada binatang-binatang tertentu yang secara khusus ditekankan dilarang untuk dibunuh, di antaranya sebagaimana hadits berikut. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ ، وَالضِّفْدَعِ ، وَالنَّمْلَةِ ، وَالْهُدْهُدِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud.” (HR. Ibnu Majah No. 3223. Imam Ibnu Katsir mengatakan: shahih. Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/188. Syaikh Al Albani juga mengatakan: shahih. Lihat  Shahihul Jami’ No. 6970)

Dalam riwayat lain juga kalelawar. Dalam sebuah riwayat  mawquf (perkataan sahabat) yang shahih, dari Abdullah bin Amru Radhiallahu ‘Anhuma, beliau berkata:

 لاَ تَقْتُلُوا الضَّفَادِعَ فَإِنَّ نَقِيقَهَا تَسْبِيحٌ وَلاَ تَقْتُلُوا الْخَفَّاشَ فَإِنَّهُ لَمَّا خَرِبَ بَيْتُ الْمَقْدِسِ قَالَ : يَا رَبُّ سَلِّطْنِى عَلَى الْبَحْرِ حَتَّى أُغْرِقَهُمْ.

“Janganlah kalian membunuh Katak karena dia senantiasa bertasbih, dan jangan membunuh Kelelawar, karena ketika Baitul Maqdis runtuh, dia berkata: “Wahai Tuhan-nya pemimpinku yang menguasai lautan,” mereka berdoa sampai mereka membelah lautan.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 19166, katanya: shahih)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan: “jika isnad riwayat ini shahih, maka Abdullah bin Amru telah mengambil kisah Israiliyat.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 4/380. Cet. 1, 1989M-1409H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

[3] Al Qishaash adalah balasan sepadan untuk orang yang berbuat kejahatan.  Allah Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (QS. Al Baqarah (2): 178)

Syarat-syarat  dilakukannya qishash adalah:

  1. Korbannya adalah orang yang terjaga darahnya (terlarang untuk dibunuh), bukan kafir harbi, bukan pezina muhshan, dan bukan pula seorang murtad.
  2. Pelakunya sudah baligh.
  3. Pelakunya berakal. Anak-anak, orang gila, dan kurang waras, tidak dikenakan qishash sebab mereka bukan golongan mukallaf (yang terkena beban syariat). Ada pun orang gila yang kadang-kadang sadar, maka diqishash ketika dia sadar. Begitu pula orang mabuk yang membunuh, maka dia diqishash ketika sudah sadar.
  4. Pelaku melakukannya atas kehendaknya sendiri, bukan dipaksa oleh orang lain, sebab orang yang terpaksa dalam keadaan terampas kehendaknya.
  5. Pelaku bukanlah orang tua dari yang dibunuh, karena tidak ada qishash orang tua gara-gara membunuh anak, atau anak membunuh anak, sedangkan anak membunuh salah satu orang tuanya mesti diqishash karena orang tua adalah sebab bagi lahirnya anak. Hadits At Tirmidzi: “Orang tua tidaklah dibunuh karena anak.”
  6. Korban adalah sepadan dengan pelakunya, sama agamanya dan sama-sama orang merdeka, sebab seorang muslim tidaklah diqishash karena membunuh orang kafir.
  7. Pelaku melakukannya sendiri, tidak ada yang berserikat dengannya dari golongan yang tidak boleh dikenai qishash. Jika seseorang bekerjasama dengan orang yang tidak boleh kena qishash, seperti antara orang yang sengaja dan tidak sengaja, mukallaf dan hewan buas, mukallaf dan yang bukan mukallaf seperti anak-anak, orang gila, maka qishash diberlakukan kepada salah satunya saja, namun diyat berlaku untuk keduanya.

Jatuhnya vonis hukum qishash ada dua syarat:

  1. Al Iqrar (pengakuan)
  2. Disaksikan dua saksi yang adil. (Lihat semua ini secara rinci dalam Fiqhus Sunnah, 2/524-533)

2.Al Hudud, dia adalah jamak (plural) dari Al Had. Artinya Asy Syai’u Al Haajizu baina syai’ain (Sesuatu yang memisahkan dua hal). Istilah mudahnya adalah had adalah pembatas. Ada juga yang mengatakan Maa Mayyizu Asy Syai’i ‘an ghairihi (Hal yang membedakan sesuatu dengan lainnya). Al Had secara bahasa artinya Al Man’u (larangan/pencegahan). Sanksi terhadap maksiat dinamakan hudud, sebab hal tersebut mencegah pelaku maksiat mengulangi maksiat tersebut, oleh karenanya diberikan batasan/rintangan terhadapnya.  Allah Ta’ala berfirman:

Itulah larangan Allah (hududullah), maka janganlah kamu mendekatinya. (QS. Al Baqarah (2): 187)

Al Hudud diterapkan atas beberapa kejahatan berikut: zina, qadzaf (menuduh zina kepada seseorang yang baik tanpa mampu membawakan 4 saksi), mabuk, mencuri (korupsi termasuk di dalamnya), murtad, pelaku kerusuhan dan kerusakan, dan berontak .  Bentuk hudud-nya: pezina yang belum nikah didera (jild) 100 kali (QS. An Nuur: 2), pezina yang sudah nikah  dengan di rajam hingga mati. Qadzaf dihukumi dengan dera 80 kali (QS. An Nuur: 8) , hukuman bagi pemabuk adalah dera, tapi para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya ada yang berpendapat 80 kali dan 40 kali, hukum terhadap pencuri (jika hasil curiannya  sudah nishab) dipotong tangannya (QS. Al Maidah: 38), hukum terhadap perusuh, pengacau, perusak di muka bumi adalah dihukum mati, disalib, atau potong silang, atau dibuang dari negerinya (QS. Al Maidah: 33). Hukuman kepada orang yang murtad adalah hukuman mati, sebagaimana dijelaskan banyak hadits. Pelaku pemberontakan dihukum dengan diperangi.  (detilnya lihat di Fiqhus Sunnah, 2/355-427)  Sebagai tambahan, pelaku zina juga termasuk di dalamnya adalah perbuatan kaum Nabi Luth yakni Nabi memerintahkan untuk dihukum mati, dan berzina dengan hewan diterapkan derapkan dera, sebagian ulama mengatakan hukjum mati. (Ibid)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s