Mas’uliyah Seorang Ayah Kepada Anaknya

baby

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim, 66: 6)

Hadirin Rahimakumullah…

Ayat ini mengingatkan kita, khususnya sebagai seorang Ayah, bahwa kita memiliki mas’uliyah (tanggung jawab) yang berat di hadapan Allah Ta’ala. Yakni tanggung jawab untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Menjaga diri, istri dan anak-anak kita agar tidak menjadi bahan bakar api neraka, na’udzubillahi min dzalik.

Hadirin Rahumakumullah…

Penunaian tanggung jawab tersebut diantaranya diwujudkan dengan melakukan tarbiyah (pendidikan/pembinaan) kepada diri dan keluarga dengan sebaik-baiknya. Khususnya tarbiyah kepada anak-anak kita. Ingatlah, anak-anak kita adalah amanah. Kitalah yang menjadi jalan hadirnya mereka dalam kehidupan di dunia yang penuh dengan hiruk pikuk ini. Maka bersungguh-sungguhlah menjaga mereka.

Hadirin Rahikumullah…

Tugas tarbiyah yang utama bagi seorang ayah kepada anak-anaknya ada dua: Pertama, tugas membina akhlak. Kedua, tugas membina peribadahan mereka.

Tugas pembinaan akhlak adalah tugas kenabian; karenanya ia juga harus menjadi tugas dan perhatian para orang tua. Khususnya Ayah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Bahwasanya aku diutus adalah untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (HR. Ahmad).

Akhlak seperti apakah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita?

Hadirin Rahimakumullah…

Bagi seorang muslim tentu saja tidak ada suri tauladan yang terbaik dalam setiap hal—termasuk dalam perkara akhlak—selain suri tauladan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, setiap kita harus berupaya agar anak-anak kita berakhlak seperti akhlaknya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimanakah akhlak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam itu?

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ

“Sesungguhnya akhlak Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an” (HR. Muslim).

Hadirin Rahimakumullah…

Oleh karena itu, marilah kita mengarahkan diri dan keluarga—khususnya anak-anak kita agar akrab dengan Al-Qur’an. Gemar membaca, mempelajari, dan berupaya memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah Ta’ala membimbing dan memampukan kita dan keluarga kita—anak dan istri kita—menjadi seorang muslim yang Qur’ani. Aamiin…

Hadirin Rahimakumullah…

Selanjutnya, tugas tarbiyah yang utama bagi seorang ayah kepada anak-anaknya adalah membina peribadahan mereka. Seorang Ayah berkewajiban untuk menanamkan keimanan yang benar kepada anak-anaknya. Menghujamkan tauhid kepada jiwanya. Sehingga mereka menjadi muslim yang istiqamah dalam penghambaan kepada Tuhannya. Tidak ada yang diibadahinya dengan sepenuh hati, kecuali Allah Ta’ala.

Kita sebagai seorang Ayah hendaknya menyadari mas’uliyah yang demikian besar ini. Tanggung jawab inilah yang hendaknya selalu mengharu biru relung-relung jiwa kita hingga akhir hayat. Marilah kita mengambil pelajaran dari Ibrahim yang berwasiat kepada anak-anaknya,

يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah, 2: 132)

Marilah kita mengambil pelajaran dari Ya’qub ‘alaihis salam yang hingga akhir hayatnya masih bertanya kepada anak-anaknya tentang peribadahan kepada Allah Ta’ala,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah, 2: 133)

Demikianlah mas’uliyah Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub yang patut kita teladani.

Hadirin Rahimakumullah…

Tentang pembinaan peribadahan kepada anak-anak kita, khususnya tentang ibadah shalat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan arahannya,

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud No. 495 dan Ahmad No. 6650)

Ya, ibadah shalat. Inilah ibadah terpenting yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita sejak kecil sehingga mereka terbiasa dengan lingkungan dan suasana penghambaan kepada-Nya.

Hadirin Rahimakumullah…

Terakhir, izinkan khatib mengingatkan kita semua dengan sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingatkan kita tentang mas’uliyah kita di hadapan-Nya. Beliau bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (HR. Bukhari No. 844)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s