Syarah Hadits Keenam Belas: Jangan Marah (Bag. 2)

shidqAda pun rajul (laki-laki) yang minta wasiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut, tidaklah diketahui identitas pastinya. Hal ini disebabkan tidak dibutuhkan untuk mengetahui identitas laki-laki tersebut, yang terpenting adalah muatan haditsnya. Di sisi lain Ahlus Sunnah sepakat bahwa semua sahabat nabi adalah adil, maka walau pun tidak disebutkan identitas laki-laki tersebut, maka dia tetap terpercaya karena termasuk sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Berkata Syaikh Muhamamd bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

لم يبيَّن هذا الرجل، وهذا يأتي كثيراً في الأحاديث لايبيّن فيها المبهم، وذلك لأن معرفة اسم الرجل أو وصفه لايُحتاج إليه، فلذلك تجد في الأحاديث: أن رجلاً قال كذا

                Tidak dijelaskan tentang laki-laki ini, dan yang seperti ini terjadi pada banyak hadits yang di dalamnya tidak dijelaskan kesamarannya. Hal itu disebabkan pengetahuan terhadap nama orang tersebut dan sifatnya tidak dibutuhkan. Oleh karena itu ditemukan pada berbagai hadits: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata begini. (Syaikh Ibnul ‘Utsaimin, Syarhul Arbain An Nawawiyah, hal. 172)

Namun, ada pandangan lain bahwa laki-laki tersebut adalah seorang sahabat nabi yakni Abu Ad Darda Radhiallahu ‘Anhu, ada juga yang mengatakan Jariyah bin Qudamah, seorang tabi’iy (generasi setelah sahabat nabi). Namun ini pun tidak pasti, atau masih berbagai kemungkinan. Sebab dalam beberapa riwayat lain diberikan keterangan memang bahwa laki-laki tersebut adalah Abu Ad Darda, Ibnu Umar, Jariyah bin Qudamah, dan Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafiy.

Hal ini dikatakan oleh Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari Rahimahullah sebagai berikut:

رجلا : لعله أبو الدرداء ، والقول بأنه جارية بن قدامة عارضه يحيى القطان بأن جارية المذكور تابعي لا صحابي .

                Laki-laki: barangkali dia adalah Abu Ad Darda’, dan pendapat yang menyebutkan bahwa dia adalah Jariyah bin Qudamah telah ditentang oleh Yahya Al Qaththan, dengan disebutkan bahwa dia adalah Jariyah, maka dia seorang tabi’iy, bukan sahabat. (At Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah No. 16)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menjelaskan lebih rinci tentang siapa ‘laki-laki’ dalam hadits tersebut:

هُوَ جَارِيَة بِالْجِيمِ اِبْن قُدَامَةَ أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَابْن حِبَّان وَالطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثه مُبْهَمًا وَمُفَسَّرًا ، وَيَحْتَمِل أَنْ يُفَسَّر بِغَيْرِهِ ، فَفِي الطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيث سُفْيَان بْن عَبْد اللَّه الثَّقَفِيّ ” قُلْت يَا رَسُول اللَّه قُلْ لِي قَوْلًا أَنْتَفِع بِهِ وَأَقْلِلْ ، قَالَ : لَا تَغْضَب ، وَلَك الْجَنَّة ” وَفِيهِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاء ” قُلْت : يَا رَسُول اللَّه دُلَّنِي عَلَى عَمَل يُدْخِلنِي الْجَنَّة ، قَالَ : لَا تَغْضَب ” وَفِي حَدِيث اِبْن عُمَر عِنْدَ أَبِي يَعْلَى ” قُلْت يَا رَسُول اللَّه قُلْ لِي قَوْلًا وَأَقْلِلْ لَعَلِّي أَعْقِلهُ ” .

                Dia adalah Jariyah – dengan huruf Jim- bin Qudamah, telah dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Ahmad, Ibnu hibban, dan Ath Thabarani dari hadits yang mubham (belum jelas) dan mufassaran (jelas/rinci), dan hadits ini menafsirkan yang lainnya. Dan, pada riwayat Ath Thabarani dari hadits Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafiy, “Saya berkata: Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku perkataan yang bisa aku peroleh manfaatnya dan sedikit saja.” Beliau bersabda: “Jangan marah, dan untukmu surga.” Dan pada riwayat Abu Ad Darda, “Aku berkata: Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku kepada perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda: “Jangan marah.” Dan pada hadits Ibnu Umar yang dikeluarkan oleh Abu Ya’la, “Aku berkata: Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku perkataan dan sedikit saja dan semoga saya bisa memahaminya.” (Fathul Bari, 10/519. Darul Fikr)

Namun demikian, semua rincian ini tidaklah menunjukkan kepastian siapa laki-laki tersebut -khususnya pada riwayat Abu Hurairah yang kita bahas ini- walau banyak penjelasan dari para ulama.

Berkata Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah:

وتجد بعض العلماء يتعب تعباً عظيماً في تعيين هذا الرجل، والذي أرى أنه لاحاجة للتعب مادام الحكم لايتغير بفلان مع فلان.

                Ada sebagian ulama yang telah bersusah payah dengan amat sangat dalam memastikan laki-laki ini, dan yang menjadi pendapat saya adalah tidaklah diperlukan bersusah payah dalam hal ini selama hukumnya tidak berubah karena perubahan si fulan dengan si fulan. (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 172)

Wallahu A’lam

قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : dia (laki-laki) berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

أَوْصِنِي : berilah aku wasiat

Yakni berikanlah aku wasiat yang bermanfaat dan bisa aku amalkan untuk kebaikan kehidupan duniaku dan akhiratku.

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:

الوصية: هي العهد إلى الشخص بأمر هام، كما يوصي الرجل مثلاً على ثلثه أوعلى ولده الصغير أو ما أشبه ذلك.

                Wasiat adalah janji kepada sesorang dengan urusan yang penting, sebagaimana seorang laki-laki yang mewasiatkan –misalnya- terhadap sepertiga hartanya, atau anaknya yang kecil, atau yang seperti itu. (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 172)

Beberapa riwayat lain menyebutkan dengan kalimat selain awshiniy (wasiatkan aku), sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar berikut:

فِي حَدِيث أَبِي الدَّرْدَاء ” دُلَّنِي عَلَى عَمَل يُدْخِلنِي الْجَنَّة ” وَفِي حَدِيث اِبْن عُمَر عِنْدَ أَحْمَد ” مَا يُبَاعِدنِي مِنْ غَضَب اللَّه ” زَادَ أَبُو كُرَيْبٍ عَنْ أَبِي بَكْر بْن عَيَّاش عِنْدَ التِّرْمِذِيّ ” وَلَا تُكْثِر عَلَيَّ لَعَلِّي أَعِيه ” وَعِنْدَ الْإِسْمَاعِيلِيّ مِنْ طَرِيق عُثْمَان بْن أَبِي شَيْبَة عَنْ أَبِي بَكْر بْن عَيَّاش نَحْوه .

               Dalam hadits Abu Ad Darda, “Tunjukkan kepadaku kepada amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Apakah yang dapat menjauhkan aku dari murka Allah?” Abu Kuraib menambahkan, dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, “Jangan banyak-banyak untukku barang kali saya ini lemah.” Dan diriwayatkan oleh Isma’ili dari jalan ‘Utsman bin Abi Syaibah dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang semisal ini. (Fathul Bari, 10/519)

Macam-Macam Wasiat

Secara umum saling wasiat mewasiati boleh-boleh saja dilakukan kapan saja, tanpa terikat waktu dan sebab apa pun, dengan isi pesan apa saja yang baik-baik sebagaimana yang nampak dalam hadits ini. Tetapi, ada wasiat yang definit dan terjadi karena adanya sebab khusus. Di antaranya:

  1. Wasiat taqwa dari khathib Jum’at kepada jamaah

Ini adalah hal yang sudah masyhur bahwa khathib senantiasa mewasiatkan kepada jamaah agar takut kepada Allah Ta’ala, mentaatiNya dengan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Bahkan sebagian ulama menjadikan wasiat taqwa termasuk rukun khutbah Jumat. Boleh saja dilakukan dengan berbagai lafaz, baik mengutip ayat: ittaqullaha haqqa tuqaatih …, atau hadits: ittaqillaha haitsu maa kunta … atau: ushiikum wa nafsiy bitaqwallah .. dan sebagainya yang semakna dengan ini.

Syaikh Abdurrahman Al Jaza’iri menyebutkan dalam kitab Al Fiqh ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, bahwa menurut kalangan Syafi’iyah rukun khutbah Jumat itu ada lima: 1. Memuji Allah (hamdalah). 2. Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, 3. Wasiat taqwa. 4. Membaca Al Quran paling tidak pada sakah satu khutbah. 5. Berdoa untuk kaum mu’minin dan mu’minat. (Detilnya lihat di kitab Al Fiqh ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, 1/606. Syamilah)[1]

  1. Wasiat kepada orang yang hendak safar (bepergian)

Hal ini langsung dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai berikut:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَأَذِنَ لِي وَقَالَ لَا تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا

            Dari Umar Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Saya meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk umrah, maka Beliau mengizinkan aku, dan bersabda: “Jangan kau lupakan kami wahai saudara pada doamu.” Umar berkata: “Ini adalah kata yang dengannya membuatku merasa paling bahagia di dunia.” (HR. Abu Daud No. 1498, Ahmad No. 195, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 1293, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10095)

Sedangkan dalam riwayat Imam At Tirmidzi dengan lafaz yang agak berbeda:

عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْعُمْرَةِ فَقَالَ أَيْ أُخَيَّ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا

                Dari Umar bahwasanya dia minta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk umrah. Maka Beliau betrsabda: “Wahai saudara, ikursertakanlah kami dalam doamu dan jangan lupakan kami.” (HR. At Tirmidzi No. 3562, beliau berkata: hasan shahih)

Imam An Nawawi mengatakan: hadits shahih. (Riyadhush Shalihin, Hal. 146-147. Cet. 3, 1998M-1419H. Muasasah Ar Risalah. Beirut, Libanon)

Namun, semua sanad hadits ini terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah.

Imam Muhammad bin Ishaq berkata tentangnya: haditsnya banyak dan tidak bisa dijadikan hujjah. (Imam Muhammad bin Ishaq, Thabaqat Al Kubra, No. 102. Tahqiq: Ziyad Muhammad Manshur, 1408M. Maktabah Al ‘Ulum wal Hikam, Madinah Al Munawwarah)

Imam Ibnu Hibban berkata tentang ‘Ashim bin ‘Ubaidillah:

وكان سيئ الحفظ كثير الوهم فاحش الخطأ فترك من أجل كثرة خطئه.

                Dia jelek hafalannya, banyak ragu, kesalahannya buruk, maka haditsnya ditinggalkan karena banyak kesalahnnya. (Imam Ibnu Hibban, Al Majruhin, 2/172. Tahqiq: Mahmud Ibrahim Zayyad). Imam Yahya bin Ma’in juga mengatakan: dhaif. (Ibid. Lihat juga Tarikh Ibnu Ma’in No. 451)

Imam Malik juga mendhaifkannya. (Lihat Imam Adz Dzahabi, Al Mughni fi Adh Dhuafa No. 2987. Tahqiq: Dr. Nuruddin ‘Atar)

Imam Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Para syaikh khawatir dengan hadits-hadits ‘Ashim bin Ubaidillah.” Imam An Nasa’i mengatakan: dhaif. Imam Ibnu ‘Adi berkata: “ … dia bersamaan dengan kelemahannya, haditsnya boleh ditulis.” (Imam Al Muqrizi, Mukhtashar Al Kamil fidh Dhuafa, No. 1381. Tahqiq: Ayman bin ‘Arif Ad Dimasyqi, 1415H -1994M. Maktabah As Sunnah.

Maka, oleh karena   di semua sanadnya terdapat rawi yang dhaif ini, maka tidak sedikit yang mendhaifkan hadits ini seperti Syaikh Syu’aib Al Arnauth. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 195), dan Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya. (Tahqiq Riyadhush Shalihin, No. 378, 718. Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 2248, dll)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

هذا فيه أن طلب الدعاء من الغير جائز، ولكن الحديث ضعيف فيه عاصم بن عبيد الله وهو ضعيف لا يحتج به في الحديث. وبعض أهل العلم يستدل على جواز طلب الدعاء من شخص آخر بالحديث الذي فيه قصة أويس القرني الذي قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم: (إنه يأتيكم أمداد من أهل اليمن فيهم رجل يقال له: أويس -وذكر شيئاً من صفاته- فمن وجده منكم فليطلب منه أن يستغفر له)، فكان عمر رضي الله عنه وأرضاه يسأل الذين يأتون من اليمن لإمداد الجيوش التي تذهب إلى فارس لقتالهم والجهاد في سبيل الله كان يسألهم عن أويس، حتى لقي أويساً هذا الذي وصفه رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم قال له: (إن النبي صلى الله عليه وسلم قال كذا. فطلب منه أن يستغفر له، فكان جوابه أن قال: أنتم أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم) يعني: أنتم الذين يطلب منكم الاستغفار، من باب أولى؛ لأنكم أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم، فكل منهما كان يتواضع لله عز وجل، فعمر هو ممَنْ شهد له النبي صلى الله عليه وسلم بالجنة؛ لكن لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال هذا الكلام طلب من أويس أن يستغفر له، و أويس من جانبه يقول: (أنتم أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم) يعني: الذين يطلب منكم الاستغفار؛ لأنكم أنتم أفضل وأعظم من غيركم. فبعض أهل العلم يستدل بهذا على جواز طلب النبي صلى الله عليه وسلم كذا، ولهذا طلب الدعاء منه من هو خير منه، بل هو خير من جميع الصحابة إلا من أبي بكر ؛ لأن أويساً تابعي وهو خير التابعين كما قال ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم كما في صحيح مسلم : (إن خير التابعين رجل يقال له: أويس).

                Hadits ini menunjukkan kebolehan minta didoakan oleh orang lain, tetapi hadits ini dhaif, di dalamnya terdapat ‘Ashim bin ‘Ubaidillah srang yang dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah dalam hadits. Sebagian ulama membolehkan seseorang minta didoakan orang lain berdasarkan hadits kisah Uwais Al Qarniy, orang yang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikatakan: “Sesungguhnya akan datang kepada kalian para penolong dari penduduk Yaman, seorang laki-laki yang bernama Uwais –lalu nabi menyebutkan beberapa sifatnya- barang siapa di antara kalian ada yang berjumpa dengannya maka mintalah darinya agar dia memohonkan   ampun untuknya.” Maka Umar Radhiallahu ‘Anhu bertanya kepada orang-orang yang datang dari Yaman yang telah memberikan bantuan kepada pasukan yang berangkat ke Persia dan berjihad fi sabilillah, dan Umar menanyakan mereka tentang Uwais. Hingga akhirnya Beliau berjumpa dengan Uwais yang sifatnya telah diceritakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya Nabi berkata tentang dirimu begini begitu.” Lalu Umar pun memintanya agar dia memohonkan ampun untuknya. Uwais menjawab: “Engkaulah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Artinya engkaulah yang seharusnya dimintakan doanya untuk memohonkan ampun baginya, yaitu dari sisi yang lebih utama, karena engkau adalah sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keduanya sama-sama rendah hati (tawadhu) karena Allah ‘Azza wa Jalla, Umar adalah seorang yang dipersaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan masuk surga, tetapi dikarenakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan perkataan ini: meminta kepada Uwais agar dia memohonkan ampun baginya, dan dari sisi Uwais sendiri mengatakan: “Engkaulah sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” yaitu orang yang dimintakan agar memohonkan ampun, karena kalian lebih utama dan agung dibanding selain kalian. Maka, dengan ini sebagian ulama mengatakan bolehnya meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti ini. Oleh karenanya meminta doa itu adalah dari orang yang lebih baik darinya, bahkan Umar adalah sahabat terbaik di antara semuanya kecuali dibanding Abu Bakar, sedangkan Uwais adalah seorang tabi’iy dan sebagai tabi’in terbaik, sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shahih Muslim: “Sesunhgguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang kaki-laki yang dinamakan: Uwais.” (Syarh Sunan Abi Daud, 8/223)

  1. Wasiat yang safar kepada yang ditinggalkan

Hal ini pun juga menjadi adab bagi orang yang ingin bepergian jauh. Bukan hanya dia yang mendapatkan wasiat, dia pun boleh memberikan wasiat bagi yang ditinggalkannya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

وَدَّعَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkanku, lalu beliau bersabda: “Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak pernah menghilangkan titipannya.” (HR. Ibnu Majah No. 2825. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 958)

Tentunya ini hanyalah contoh wasiat, tidak ada larangan kita berwasiat dengan pesan-pesan lain yang berupa kebaikan.

2. Wasiat kepada keluarga jika seseorang meninggal nanti

Inilah istilah wasiat yang menjadi umumnya dipahami manusia yaitu wasiat menjelang kematian, yakni wasiat pemindahan hak kepemilikan harta. Dasar wasiat ini telah ditetapkan oleh Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’.

Allah Ta’ala berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (20: 180)

Ayat lain:

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ

             … Sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…. (QS. An Nisa (4): 11)

Ayat lain:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آَخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُم

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu … (QS. Al Maidah 95): 106)

Dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَنِي مَا تَرَى مِنْ الْوَجَعِ وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ قُلْتُ أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ لَا الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ )رواه مسلم(

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah pernah menjenguk saya waktu haji wada’ karena sakit keras yang saya alami sampai hampir saja saya meninggal. Lalau saya berkata kepada beliau, Wahai Rasulullah saya sedang sakit keras sebagai mana engku sendiri melihatnya sedangkan saya mempunyai banyak harta dan tidak ada yang mewarisi saya, kecuali anak perempuan satu-satunya. Bolehkah saya menyedekahkan sebanyak 2/3 dari harta saya? Beliau menjawab “Tidak” saya mengatakan lagi bolehkah saya menyedekahkan separoh harta saya? Beliau menjawab “Tidak” sepertiga saja yang boleh kamu sedekahkan, sedangkan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, menengadahkan tangan meminta-minta pda orang banyak. Apapun yang kamu nafkahkan karena ridha Allah, kamu mendapat pahala karenanya, bahkan termasuk satu suap untuk istrimu”. (HR. Muslim)

Para ulama telah berbeda pendapat dalam hukum wasiat, sebagai berikut:

  1. Wasiat adalah wajib bagi setiap orang yang memiliki harta baik sedikit atau banyak, inilah pendapat Az Zuhri dan Abu Mijlaz. Ini juga pendapat Ibnu Hazm, dan diriwayatkan kewajibannya dari Ibnu Umar, Thalhah, Az Zubair, Abdullah bin Abi Aufa, Thalhah bin Mathraf, Thawus, dan Sya’bi, dia berkata: ini juga pendapat Abu Sulaiman dan sahabat-sahabat kami.
  1. Wasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat yang tidak mewarisi dari si mayyit, ini juga wajib. Inilah pendapat Masruq, Iyas, Watadah, Ibnu Jarir, dan Az Zuhri.
  1. Pendapat empat Imam madzhab dan aliran Zaidiyah yang menyatakan bahwa wasiat itu bukanlah kewajiban atas setiap orang yang meninggalkan harta dan bukan pula kewajiban terhadap kedua orang tua dan karib akan tetapi wasiat itu berbeda-beda hukumnya menurut keadaan (bisa wajib, sunah, makruh, haram, dan mubah). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 3/588-589. Darul Kitab Al ‘Arabi)

[1] Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah (Hambaliyah), hamdalah adalah rukun khutbah. Ada pun Malikiyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa hamdalah bukan rukun, baik pada khutbah Jumat dan khutbah ‘Id. Hanabilah berpendapat rukun khutbah hanya empat, yakni lima di atas dikurangi doa bagi kaum mu’minin. Hanafiyah berpendapat rukun khutbah hanya satu yaitu berdzikir yang sempurna baik sedikit atau banyak. Malikiyah juga berpendapat rukun khutbah hanya satu yaitu muatan khutbah terdapat peringatan (tahdzir) dan kabar gembira (tabsyir) bagi jamaah. (Al Fiqh ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, Ibid)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s