Syarah Hadits Kesepuluh: Allah Ta’ala Hanya Menerima Yang Baik-Baik (Bag. 1)

ibadahMatan Hadits:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً ) (المؤمنون: الآية51) ، وَقَالَ: ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) (البقرة: الآية172) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء،ِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ،وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وملبسه حرام وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لذلك) رواه مسلم.

                Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum beriman dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para nabi.” Lalu Beliau membaca: “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” (QS. Al Mu’minun (23): 51). Dan membaca: “Wahai orang-orang beriman makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang Kami rezekikan kepada kalian.” (QS. Al Baqarah (2): 172). Lalu Beliau menyebutkan ada seorang laki-laki dalam sebuah perjalanan yang jauh, kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit: “Wahai Rabb, wahai Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannnya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan yang haram, bagaimana bisa doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Takhrij Hadits:

  • Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1015
  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 2989, Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan gharib
  • Imam Ad Darimi dalam Sunannya No. 2717
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 8348, Syaikh Syu’aib Al Arbauth dalam tahqiqnya terhadap Musnad Ahmad mengatakan: isnaduhu hasan
  • Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra 6187
  • Imam Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya No. 199
  • Imam Ibnu Al Ju’di dalam Musnadnya No. 2009

Syaikh Al Albani Rahimahullah menghasankan dalam beberapa kitabnya (lihat Shahihul Jami’ No. 2744, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmdzi No. 2989, Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1717, Ghayatul Maram No. 17) tapi beliau menshahihkan dalam kitabnya yang lain. (Misykah Al Mashabih No. 2760)

Kandungan Hadits Secara Global:

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan jati diri Allah Ta’ala sebagai Yang Maha Suci, yang dengan itu Dia tidak akan menerima perbuatan, perkataan, dan sedekah hambaNya kecuali dari yang suci juga.
  1. Allah Ta’ala memerintahkan para rasul dan orang-orang beriman untuk makan yang baik-baik, sehat dan halal serta melakukan amal shalih. Pada prinsipnya, perintah Allah Ta’ala kepada para rasul dan kaum beriman adalah sama, kecuali memang yang dikhususkan bagi para nabi saja yang disebutkan oleh dalil syar’i.
  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan adanya beberapa adab dan sebab dikabulkannya doa. Adab-adab dan sebab tersebut telah dipraktekkan oleh laki-laki yang dikisahkan dalam hadits tersebut. Di antaranya:
  • Dalam keadaan safar. Hal ini sesuai dengan hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang dizalimi, doanya musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. At Tirmidzi No. 1905, 3448, katanya: hasan. Abu Daud No. 1536, Ibnu Majah No. 3862, dan ini menurut lafaz At Tirmidzi. Syaikh Al Albani menghasankan dalam berbagai kitabnya, seperti Shahihul Jami’ No. 3030, 3031, 3032, 3033. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1905. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1536, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3862, Shahih At Targhib wat Tarhib No. 1655, 2226, 3132. As Silsilah Ash Shahihah No. 596)

  • Dalam keadaan merendahkan diri (kusut dan berdebu). Hal ini sesuai hadits:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كَمْ مِنْ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

            “Berapa banyak orang yang pakaiannya kusut dan berdebu yang sudah usang, doanya tidak ditolak, dan seandainya dia bersumpah kepada Allah, Dia menerima sumpahnya.” (HR. At Tirmidzi No. 3854, katanya: hasan. Ahmad No. 12476. Abu Ya’la No. 3987. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 4573. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menshahihkannya dalam tahqiq terhadap Musnad Ahmad No. 12476)

  • Menengadahkan kedua tangan. Hal ini secara mutlak adalah adab dalam berdoa.

Dari Salman Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنَّ ربكم تبارك وتعالى حَيِيٌّ كريم يستحي من عبده إذا رفع يديه إليه أن يردهما صفراً

                “Sesungguhnya Rabb kalian Tabaraka wa Ta’ala yang Maha Pemalu, merasa malu terhadap hambaNya jika dia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, dia mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong.” (HR. At Tirmidzi No. 3556, katanya: hasan gharib. Abu Daud No. 1488, Ibnu Majah No. 3856. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2965. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1830, katanya: sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 1757)

  • Mengulang-ulang doa. Dalam kisah laki-laki di atas, nabi menyebutkan bahwa orang itu berdoa: “Yaa Rabb … Yaa Rabb .” Mengulang-ngulang doa, khususnya mengulang-ulang pujian dengan menyebut rububiyahNya, ini juga bagian dari adab doa. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menjelang pertempuran Badar. Dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa:

اللهم! أنجز لي ما وعدتني. اللهم! آت ما وعدتني. اللهم! إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض

                “Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”

Beliau senantiasa berdoa dengan suara tinggi seperti itu dan menggerakan kedua tangannya yang sedang menengadah dan menghadap kiblat, sampai-sampai selendang yang dibawanya jatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali selendang itu di pundaknya dan dia terus berada di belakangnya. Lalu Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu berkata:

يا نبي الله! كذاك مناشدتك ربك. فإنه سينجز لك ما وعدك

            “Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikanNya kepadamu.”

Lalu turunlah firman Allah Ta’ala:

إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم أني ممدكم بألف من الملائكة مردفين

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al Anfal (8): 9). (HR. Muslim No. 1763, At Tirmidzi No. 5075, Ibnu Hibban No. 4793. Ahmad No. 208, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/95)

Juga dalam Shahih Bukhari, Kitab Al Jumah Bab Al istisqa’ fil Masjid Al Jami’, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa diulang tiga kali ketika meminta turun hujan: “Allahumma isqinaa (Ya Allah turunkanlah hujan).”

  1. Dalam hadits ini juga disebutkan penyebab ditolaknya doa, yaitu karena makan, minum, dan berpakaian dari yang haram. Walau pun empat adab atau syarat dikabulkannya doa sudah dipersiapkan, semuanya menjadi sia-sia karena faktor ini.

Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

يعني من أين يستجاب لمن هذه صفته، فإنه ليس أهلاً للإجابة، لكن يجوز أن يستجيب الله تعالى له تفضلا ولطفاً وكرماً والله أعلم.

“Yakni dari mana dikabulkannya doa orang yang memiliki sifat ini (tidak menjaga diri dari haram, pen), karena dia bukan yang berhak untuk dikabulkan doanya, tetapi boleh jadi Allah Ta’ala mengabulkannya sebagai bentuk anugerah, kelembutan, dan kemuliaanNya. Wallahu A’lam.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 60. Maktabah Al Misykah)

Makna Kalimat dan Kata

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ:: dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata

Tentang Abu Hurairah sudah dibahas pada syarah hadits ke-9.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: Rasulullah bersabda

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ : Sesungguhnya Allah itu baik (thayyib)

Yaitu Allah itu suci, bersih, dan selamat dari kekurangan dan aib. Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah menerangkan makna thayyib:

الطَّيِّب فِي صِفَة اللَّه تَعَالَى بِمَعْنَى الْمُنَزَّه عَنْ النَّقَائِص ، وَهُوَ بِمَعْنَى الْقُدُّوس ، وَأَصْل الطِّيب الزَّكَاة وَالطَّهَارَة وَالسَّلَامَة مِنْ الْخُبْث

                “Thayyib dalam sifat Allah Ta’ala maknanya adalah bersih dari kekurangan, itu artinya suci, asal dari thayyib adalah az zakah, ath thaharah, dan selamat dari kotoran.” (Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Al Mu’allim, 3/283. Maktabah Al Misykah. Lihat juga Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/457. Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim, 9/27. Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 8/334)

                Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah menambahkan:

وعلى هذا : فطيِّب من أسمائه الحسنى

“Atas dasar ini, maka “thayyib” termasuk asma’ul husna.” (Ibid)

Al ‘Allamah Asy Syaikh Ibnui ‘Utsaimin Rahimahullah menjelaskan:

ومعنى هذا أنه لايلحقه جل وعلا شيء من العيب والنقص. فهو عزّ وجل طيب في ذاته، وفي أسمائه، وفي صفاته، وفي أحكامه، وفي أفعاله، وفي كل ما يصدر منه، وليس فيها رديء بأي وجه.

                “Makna hadits ini adalah tak ada aib dan kekurangan sedikit pun yang melekat pada Nya Jalla wa ‘Ala. Maka, Allah ‘Azza wa Jalla adalah thayyib pada zatNya, nama-namaNya, sifatNya, hukum-hukumNya, dan perbuatanNya, dan apa saja yang berasal darinya. Semuanya tidak ada cacat pada sisi mana pun.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 136. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Lawan dari thayyib adalah khabits (buruk/jelek). Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ

                Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik ..” (QS. Al Maidah (5): 100)

Ayat lainnya:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَات

                Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. AN nuur (24); 26)

Selanjutnya:

لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً: Dia tidak menerima kecuali yang baik (thayyib)

Yaitu Allah Ta’ala hanya mau menerima dari hambaNya niat yang ikhlas, amal yang shalih, perkataan yang baik, dan sedekah dari harta yang halal.

Syaikh Ismail Al Anshari Rahimahullah menjelaskan:

إلا طيبا : وهو من الأعمال ما كان خاليا من الرياء والعجب ، و غيرهما من المفسدات ، ومن الأموال الحلال الخالص .

Kecuali yang baik” yaitu dia adalah berupa amal-amal tanpa riya’ dan ‘ujub, dan mafsadat lainnya, dan juga berupa harta yang halal dan bersih.” (Tuhfah Ar Rabbaniyah, syarah hadits. No. 10)

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin mengatakan:

فالطّيب من الأعمال: ما كان خالصاً لله، موافقاً للشريعة.

والطيب من الأموال: ما اكتسب عن طريق حلال، وأما ما اكتسب عن طريق محرّم فإنه خبيث.

“Jadi, thayyib dalam perbuatan adalah apa saja yang dilakukan murni untuk Allah dan sesuai syariat. Thayyib dalam harta adalah apa saja yang dihasilkan dari jalan yang halal, sedangkan apa saja yang diperoleh dari jalan haram maka itu khabits (buruk).” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 137)

Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan tidak sahnya amaliah ibadah menggunakan sarana atau biaya harta yang haram seperti ongkos haji dan infaq. Itulah pendapat yang benar.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ويجزئ الحج وإن كان المال حراما ويأثم عند الاكثر من العلماء. وقال الامام أحمد: لايجزئ، وهو الاصح لما جاء في الحديث الصحيح: ” إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا “.

                “Haji tetap sah walau dengan uang haram, namun pelakunya berdosa menurut mayoritas ulama. Imam Ahmad berkata: hajinya tidak sah. Dan inilah pendapat yang paling benar sesuai hadits shahih: Sesungguhnya Allah baik, tidaklah menerima kecuali yang baik.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/640)

Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah berkata:

ومعنى الحديث أنه تعالى منزه عن العيوب فلا يقبل ولا ينبغي أن يتقرب إليه إلا بما يناسبه في هذا المعنى. وهو خيار أموالكم الحلال كما قال تعالى: {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ}

                “Makna hadits ini adalah bahwa Allah Ta’ala suci dari segala aib, maka tidaklah diterima dan tidak sepatutnya mendekatkan diri kepadaNya kecuali dengan apa-apa yang sesuai dengan makna ini. Yakni dengan sebaik-baik hartamu yang halal, sebagaimana firmanNya: “Kamu selamanya belum mencapai kebaikan sampai kamu menginfakan apa-apa yang kamu cintai ..” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 8/333, No. 4074. Al Maktabah As Salafiyah)

Sebab Allah Ta’ala telah tegas dalam firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ  

 “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah (2): 267)

Selanjutnya:

وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْن : dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman

Yaitu Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya, yang meyakini risalah RasulNya, membenarkan semua yang dikabarkan Allah dan RasulNya, meyakini malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, semua rasul-rasulNya, hari akhir, qadha dan qadar yang baik dan buruk, dan yang hatinya meresa tentram terhadap kayakinan ini semua.

Kebanyakan ulama ahlus sunnah membedakan antara mu’min dengan muslim, dan menjadikan bahwa mu’min lebih khusus dan lebih tinggi dibanding muslim. Sebagian ulama menyatakan bahwa keduanya adalah sama. Wallahu A’lam

Selanjutnya:

بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْن : dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para nabi

Yaitu perintah untuk melakukan amal shalih dan menafkahkan harta yang halal adalah perintah yang Allah Ta’ala tegaskan juga kepada para nabi dan rasul, kecuali hal-hal khusus bagi mereka yang terangkan oleh nash syara’.

Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshari menjelaskan salah satu faidah hadits ini adalah:

أن الأصل استواء الأنبياء مع أممهم في الأحكام الشرعية ، إلا ما قام الدليل على أنه مختص بهم

                “Pada dasarnya para nabi itu sejajar dengan umat-umat mereka dalam hukum-hukum syar’iyah, kecuali jika ada kekhususan bagi mereka yang diterangkan oleh dalil.” (Tuhfah Ar Rabbaniyah, Syarah No. 10)

Selanjutnya:

فَقَالَ : ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً ) (المؤمنون: الآية51)

Lalu Beliau membaca: “Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” (QS. Al Mu’minun (23): 51)

Ayat yang dikutip oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini merupakan penjelasan Beliau terhadap perkataan sebelumnya: … dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para nabi, dan ayat ini menegaskan jenis perintah Allah Ta’ala kepada para nabi dan rasul, yaitu makan dari yang baik-baik dan melakukan amal shalih.

Selanjutnya:

وَقَالَ: ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ) (البقرة: الآية172)

Dan membaca: “Wahai orang-orang beriman makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang Kami rezekikan kepada kalian.” (QS. Al Baqarah (2): 172)

Ini adalah ayat selanjutnya yang dikutip oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan penjelasan terhadap perkataanya: … dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman, dan ayat ini menegaskan jenis perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman adalah sama dengan perintah yang didapatkan oleh para nabi dan rasul yakni makan yang baik-baik dan halal.

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah meringkaskan:

وقال تعالى في أمر المؤمنين: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ )(البقرة: الآية172) كما قال للرسل: (كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) فأمر المؤمنين بما أمر به المرسلين.

إذاً نقول: المؤمنون مأمورون بالأكل من الطيبات، والمرسلون كذلك مأمورون بالأكل من الطيبات.

“Allah Ta’ala berfirman tentang perintah terhadap kaum beriman: Wahai orang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepadamu .(QS. Al Baqarah (2): 172), sebagaimana perintah kepada para rasul: Makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepadamu. Maka, Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan perintah yang sama terhadap para rasul. Jadi, kita katakan orang-orang beriman diperintahkan untuk makan yang baik-baik, dan para rasul demikian juga, diperintahkan untuk makan yang baik-baik.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 138)

Selanjutnya:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ : Lalu Beliau menyebutkan ada seorang laki-laki dalam sebuah perjalanan yang jauh

Para ulama menakwilkan bahwa perjalanan yang dimaksud adalah perjalanan jauh dalam rangka ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Al Imam Abu Zakaria An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

مَعْنَاهُ – وَاَللَّه أَعْلَم – : أَنَّهُ يُطِيل السَّفَر فِي وُجُوه الطَّاعَات كَحَجٍّ وَزِيَارَة مُسْتَحَبَّة وَصِلَة رَحِم وَغَيْر ذَلِكَ

“Maknanya –wallahu a’lam- : bahwa dia dalam perjalanan jauh dengan tujuan ketaatan seperti haji, ziarah sunah, silaturrahim, dan lainnya.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/457. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Begitu pula yang dikatakan Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah:

يطيل السفر في وجوه الطاعات: الحج وجهاد وغير ذلك من وجوه البر

“Panjang perjalannya dalam rangka ketaatan, seperti haji, jihad, dan lainnya yang termasuk perjalanan kebaikan.” (Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 60. Muasasah Ar Rayyan)

Telah kami terangkan sebelumnya beserta hadits yang menunjukkan bahwa safar merupakan sebab dikabulkannya doa. Ini juga ditegaskan oleh Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah sebagai berikut:

والسفر من أسباب إجابة الدعاء، ولاسيما إذا أطاله.

“Safar termasuk sebab dikabulkannya doa, dan apalagi jika jauh perjalanannya.” (Syaikh ‘Utsaimin, Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 138. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Selanjutnya:

أَشْعَثَ أَغْبَرَ : kusut dan berdebu

Yaitu rambut dan pakaiannya, biasanya musafir yang jauh perjalannya apalagi dalam lingkungan padang pasir, maka bagian yang mudah kusut dan berdebu adalah rambut dan pakaiannya.

Keadaan ini pun juga menjadi penyebab dikabulkannya doa sebagaimana penjelasan terdahulu, namun yang paling substansi adalah ketawadhuan dan ketundukan hati ketika berdoa. Bisa jadi ada orang yang bernampilan rapi dan wangi ternyata lebih rendah hati dibanding orang yang zahirnya menampakkan kekusutan dan kezuhudan, namun itu untuk pamer.

Selajutnya:

يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء : dia menengadahkan kedua tangannya ke langit

Yaitu dia mengangkat dan membuka kedua tangannya memohon kepada Allah Ta’ala. Ini juga termasuk adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa sebagaimana penjelasan terdahulu.

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ومد اليدين إلى السماء من أسباب إجابة الدعاء،كما جاء في الحديث: إنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحِييْ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفعَ يَديْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرَاً

“Membentangkan kedua tangan ke langit termasuk sebab dikabulkannya doa, sebagaimana hadits: Sesungguhnya Allah Yang Maha Malu dan Mulia, merasa malu terhadap hambaNya jika dia mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 138)

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s