Syarah Hadits Kelima: Larangan Berbuat Bid’ah (Bag. 1)

bidahTeks Hadits:

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ) رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم (مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)

                Dari Ummul Mu’minin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: “Barangsiapa yang menciptakan hal baru dalam urusan kami ini (yakni Islam) , berupa apa-apa yang bukan darinya, maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak kami kami perintahkan dalam agama kami maka itu tertolak.”

Takhrij Hadits:

                Dalam hadits kelima ini ada dua teks (matan):

Matan pertama:

  • Imam Al Bukhari dalam Shahihnya No. 2550
  • Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1718
  • Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 4606
  • Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 14
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No.26033
  • Imam Abu Ya’la dalam Musnadnya No. 4594
  • Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 26, 27
  • Imam Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil , 1/247
  • Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya No. 78
  • Imam Al Baihaqi dalam Sunannya No. 20158, 20323
  • Imam Al Lalika’i dalam Al I’tiqad, No. 190-191
  • Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 103

Matan Kedua:

  • Imam Al Bukhari dalam Shahihnya, Kitab Al I’tisham bil Kitab was Sunnah Bab Idza Ijtahada Al ‘Amil aw Al Hakim Fa Akhtha’a Khilafar Rasuli min Ghairi ‘Ilmin fahukmuhu Mardud. (lalu disebutkan hadits: man ‘amila ‘amalan .. dst tanpa menuliskan sanadnya (mu’alaq) dan dengan shighat jazm: Qaala Rasulullah ….)
  • Imam Muslim dalam Shahihnya, juga pada No. 1718
  • Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya No. 81
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No.26191

Syarah Hadits:

                Secara umum hadits ini merupakan larangan untuk mengadakan hal-hal yang baru (muhdatsatul umuur) dalam agama. Bukan hanya tertolak amalan tersebut tetapi juga mendatangkan dosa bagi pelakunya dan diancam dengan neraka sebagaimana tertera dalam hadits shahih. Sebab, melakukan bid’ah merupakan penodaan dan penistaan terhadap agama yang sangat dilarang bahkan bisa membawa pelakunya pada dosa besar dan –bahkan- kufur. (Hal ini akan kami jelaskan secara khusus, Insya Allah)

Pada hadits ini juga terdapat kaidah yang sangat berharga dalam kehidupan peribadatan kaum muslimin. Beribadah –khususnya mahdhah- dalam Islam mesti didahului dasar hukumnya, baik berupa perintah dan contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Paling tidak, pernah dilakukan para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya.

Kaidah tersebut adalah;

فالأصل في العبادات البطلان حتى يقوم دليل على الأمر

“Maka, dasar dari semua ibadah adalah batal (tidak ada) sampai tegaknya dalil yang memerintahkannya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Hal. 344. 1968M – 1388H. Maktabah Al Kuliyat Al Azhariyah, Kairo – Mesir)

Kenapa demikian? Berkata Imam Rabbani Ibnul Qayyim Rahimahullah:

…. أن الله سبحانه لا يعبد إلا بما شرعه على ألسنة رسله فإن العبادة حقه على عباده

                “Sesungguhnya Allah Subhanahu Tidaklah diibadati kecuali dengan apa-apa yang Dia syariatkan melalui lisan rasul-rasulnya. Karena, ibadah adalah hakNya atas hamba-hambanya.” (Ibid)

Makna Kalimat:

عَنْ أُمِّ المُؤمِنِينَ: Dari Ummul Mu’minin

Para isteri nabi disebut ummahatul mu’minin (ibu-ibunya orang beriman), jika satu orang maka ummul mu’minin. Sedangkan ‘Aisyah adalah salah satu dari isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penyebutan ini langsung datangnya dari Allah Ta’ala:

وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

               “dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu bagi mereka …” (QS. Al Ahzab (33): 6)

Oleh karena itu, para isteri nabi tidak boleh dinikahi oleh siapa pun setelah wafat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebab kedudukan mereka dihadapan umat Islam sama seperti kedudukan ibu terhadap anak-anaknya. Namun, walaupun sebagai ‘ibu’, syariat juga melarang laki-laki berkhalwat dengan mereka, dan dilarang berbicara tanpa hijab, sebab mereka tidak sama dengan wanita lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

            “Wahai isteri-isteri nabi, kalian tidaklah seperti wanita-wanita lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik (QS. Al Ahzab (33): 32)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وقوله: { وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ } أي: في الحرمة والاحترام، والإكرام والتوقير والإعظام، ولكن لا تجوز الخلوة بهن

                “FirmanNya (dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu bagi mereka) yakni dalam hal kehormatan, penghormatan, pemuliaan, wibawa, dan pengagungan, tetapi tidak boleh berkhalwat dengan mereka ..” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/380-381. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

Jika para isteri nabi adalah ibu bagi kaum mu’minin, maka kedudukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap umat Islam adalah seperti ayah bagi anak-anaknya. Hal ini Beliau katakan sendiri.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد أعَلِّمكم ….

                “Sesungguhnya saya ini bagi kalian sama kedudukannya dengan seorang ayah yang mengajarkan kalian …dst.” (HR. Abu Daud No. 8, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahihul Jami’ No. 2346)

                Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم وهو أب لهم

                “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka, dan Beliau adalah ayah bagi mereka. “ yang seperti ini juga diriwayatkan dari Muawiyah, ‘Ikrimah, Mujahid, dan Al Hasan. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/381)

                Selanjutnya :

أُمِّ عَبْدِ الله عَائِشَةَ ِ : Ummi Abdillah ’Aisyah

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha diberikan kun-yah dengan Ummu Abdillah karena beberapa kemungkinan.

Pertama. Karena kedudukannya sebagai Ummul Mu’minin, sehingga   dengan demikian ia juga ibu bagi hamba Allah (ummu abdillah).

Kedua. Bisa jadi beliau pernah punya anak dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetapi keguguran dan tidak hidup.

Ketiga. Digelarinya dengan Ummu Abdillah karena nama yang paling disukai Allah Ta’ala adalah Abdullah dan Abdurrahman.

Berkata Syaikh ‘Utsaimin Rahimahullah:

أنه ذكر بعض أهل العلم أنه ولد لها ولد سقط لم يعش، وذكر آخرون أنه لم يولد لها لا سقط ولا حي، ولكن هي تكنّت بهذه الكنية،لأن أحبُّ الأسماء إلى الله: عبد الله، وعبد الرّحمن

                “Sesungguhnya sebagian ulama menyebutkan ‘Aisyah pernah memiliki anak yang lahirnya keguguran dan tidak hidup. Ulama lainnya menyebutkan dia tidak pernah punya anak, tidak pernah keguguran tidak pula hidup, tetapi digelarinya dia dengan gelar tersebut karena nama yang paling Allah Ta’ala sukai adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 98. Mawqi’ Ruh Al Islam)

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, beliau adalah anak dari Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, dan ibunya bernama Ummu Ruman binti ‘Amir bin ‘Uwaimir bin Abdu Syams bin ‘Itab bin Udzainah Al Kinaniyah.

Dia ikut hijrah bersama kedua orang tuanya. Dinikahi oleh nabi setelah wafatnya Khadijah binti Khuwailid Radhiallahu ‘Anha, beberapa bulan sebelum hijrah. Ada juga yang mengatakan dua tahun sebelum hijrah. Dia menjadi satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan menjadi isteri yang paling disayangi nabi setelah wafatnya Khadijah.

Dia adalah seorang wanita cerdas dan mendalam ilmunya dalam hadits dan fiqih, dan menjadi rujukanpara ulama pada masa sahabat dan tabi’in. Dia berkulit putih dan cantik, dan disebut: Al Humaira (yang kemerah-merahan). Sebagian ulama mengatakan dia adalah isteri nabi di dunia dan akhirat. Imam Adz Dzahabi mengatakan Khadijah lebih utama darinya.

Usianya lebih muda dari Fathimah sebanyak delapan tahun. Beliau wafat pada malam 17 Ramadhan setelah witir. Pada tahun 56H sebagaimana kata Hasyim bin ‘Urwah, Ahmad, Syibab, dan lainnya. Ada pula yang mengatakan 58H seperti Abu Ubaidah Ma’mar bin Al Mutsanna dan Al Waqidi. Menurut ‘Urwah bin Zubeir beliau dikuburkan pada malam hari. Dishalatkan diantara lain oleh Abu Hurairah di Baqi’ dan juga dikuburkan di sana. (Selengkapnya, Siyar A’lamin Nubala, 2/135-201)

Diantara banyak keutamaan ‘Aisyah, kami paparkan beberapa saja.

Dari ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أي الناس أحب إليك؟ قال: (عائشة). فقلت: من الرجال؟ فقال: (أبوها). قلت: ثم من؟ قال: (عمر بن الخطاب).

“Siapakah manusia yang paling kau cintai?” Nabi menjawab: “ ‘Aisyah.” Aku berkata: “Dari kaum laki-laki?” beliau menjawab; “Ayahnya.” Aku bertanya: “lalu siapa?” Beliau menjawab: “Umar bin Al Khathab.” (HR. Bukhari No. 3462)

Diceritakan bahwa Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

هذه زوجتك في الدنيا والآخرة

            “Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. At Tirmidzi No. 3880, katanya: hasan gharib. Ibnu Hibban No. 7094, Musnad Ishaq No. 1237. Syaikh Al AlBani mengatakan: shahih. Misykah Al Mashabih No. 6182)

Hadits ini tidak mengingkari posisi isteri nabi yang lain, tetapi menunjukkan kelebihan ‘Aisyah dibanding mereka. Hal ini sama ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa ‘Aisyah adalah yang paling dicintainya, tidak berarti Beliau tidak mencintai isterinya yang lain. Namun, itu menunjukkan kedudukan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha yang lebih utama.

                Sebagian ulama Ahlus Sunnah – sebagaimana dikatakan Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar- mengatakan bahwa di akhirat nanti, wanita akan hidup bersama laki-laki terakhir yang menikahinya. Inilah diantara alasan kenapa para isteri nabi tidak menikah lagi setelah wafatnya Beliau, yakni agar Beliau menjadi suami terakhir di dunia dan akan menjadi pendamping lagi di akhirat. Wallahu A’lam

Selanjutnya:

مَنْ أَحْدَثَ : Barangsiapa yang menciptakan hal baru

Yaitu siapa saja dari kaum muslimin, dahulu, sekarang, dan akan datang, laki dan perempuan, orang awam dan cendikiawan, kaya dan miskin, dan seluruhnya. Kata man (barangsiapa) di sini adalah muthlaq (tidak terikat pada person atau kelompok tertentu saja).

Ahdatsa (mengada-ngada hal baru), yakni bid’ah. Secara bahasa (lughatan/Etimologis) bid’ah adalah Ma uhditsa ‘ala ghairi mitsal as sabiq (Sesuatu yang  diciptakan tanpa adanya contoh yang mendahuluinya). (Al Munjid fil Lughah wal A’lam, Hal. 29. Al Maktabah Asy Syarqiyah)

                Tertulis dalam Lisanul ‘Arab:

وفلان بِدْعٍ في هذا الأَمر أَي أَوّل لم يَسْبِقْه أَحد

                “Fulan melakukan bid’ah dalam urusan ini artinya orang pertama yang mengerjakan yang belum ada seorang pun  mendahuluinya.” (Syaikh  Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, 8/6. Dar Shadir)

Salah satu Asma’ul Husna adalah Al Badii’ (Maha Mencipta). Allah Ta’ala berfirman:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

                “Dialah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah (2): 117)

Selanjutnya:

فِيْ أَمْرِنَا هَذَا : dalam urusan kami ini (yakni Islam)

Ini menjadi batas yang penting, yakni bid’ah yang tercela adalah dalam urusan agama, bukan keduniaan. Sebab, dalam urusan dunia hukum dasarnya adalah boleh dan bukan bid’ah walau itu sebuah kreasi dan inovasi baru yang belum ada pada masa terbaik Islam, selama tidak ada dalil yang mengatakan haram. Sekali pun hal itu mau disebut bid’ah, itu adalah bid’ah secara makna bahasa saja, karena memang itu hal yang baru (muhdats).

Hal ini berdasarkan ayat:

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 29)

Berkata Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadirnya:

وفيه دليل على أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل، ولا فرق بين الحيوانات وغيرها مما ينتفع به من غير ضرر، وفي التأكيد بقوله: “جميعاً” أقوى دلالة على هذا

Di dalamnya ada dalil bahwa hukum asal dari segala sesuatu ciptaan adalah mubah sampai tegaknya dalil yang menunjukkan perubahan hukum asal ini. Tidak ada perbedaan antara hewan-hewan atau selainnya, dari apa-apa yang dengannya membawa manfaat, bukan kerusakan. Hal ini dikuatkan lagi dengan firmanNya: (jami’an) “Semua”, yang memberikan korelasi yang lebih kuat dalam hal ini. “  (Fathul Qadir, 1/64. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Ada pun dari As Sunnah:

الحلال ما احل الله في كتابه والحرام ما حرم الله في كتابه وما سكت عنه وهو مما عفو عنه (رواه الترمذى)

                “Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.” (HR. At Tirmidzi No. 1726, katanya: hadits gharib. Syaikh Al Albani mengatakan: hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1726)                          

                Ada kaidah lain, yang diterangkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah sebagai berikut:

أن كل شيء سكت عنه الشارع فهو عفو لا يحل لأحد أن يحرمه أو يوجبه أو يستحبه أو يكرهه

                “Sesungguhnya segala sesuatu yang didiamkan oleh Syari’ (pembuat Syariat) maka hal itu dimaafkan, dan tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan, atau mewajibkan, atau menyunnahkan, atau memakruhkan.” (Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, Arba’u Qawaid Taduru al Ahkam ‘Alaiha, Hal. 3. Maktabah Al Misykah)

Ada pun dalam perkara agama tidak boleh ada inovasi dan kreasi yang tidak ada dalam Al Quran, As Sunnah, Ijma, dan qiyas. Pada sisi inilah bid’ah adalah tercela.

Secara  istilah syariat (terminologis) bid’ah adalah:

الحَدَثُ في الدين بعدَ الإِكْمَالِ، أو ما اسْتُحْدِثَ بعد النبيِّ، صلى الله عليه وسلم، من الأَهْواءِ والأَعْمالِ

                “Hal yang baru dalam agama setelah kesempurnaannya, atau apa-apa yang baru diada-adakan setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang berasal dari hawa nafsu dan perbuatan.” (Syaikh Fairuzabadi, Al Qamus Al Muhith, 2/252. Mawqi’ Al Warraq)

Ibnu Manzhur mengatakan:

إِنما يريد ما خالَف أُصولَ الشريعة ولم يوافق السنة

                “Sesungguhnya yang dimaksud hanyalah sesuatu yang bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan sesuatu yang  tidak sesuai dengan sunah.” (Syaikh Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, 8/6. Dar Shadir)

                Beliau juga mengatakan:

 

وقيل أَراد بِدْعَةً حَدثت لم تكون في عهد النبي صلى الله عليه وسلم

                “Dikatakan, yang dimaksud dengan bid’ah adalah hal baru yang belum terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Ibid, 13/331)

                Senada dengan Ibnu Manzhur, Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam mengatakan:

الْبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

                “Bid’ah adalah melakukan perbuatan yang belum terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Qawa’idul Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/380. Mawqi’ Al Islam)

Jadi, bid’ah menurut syariat adalah ajaran dan amalan baru dalam peribadatan yang tidak ada contohnya pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bertentangan dasar-dasar agama baik Al Quran, As Sunnah, dan ijma’. Inilah bid’ah sesat yang dimaksud oleh hadits nabi: Kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat). Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

فَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ إلَّا بِمَا شَرَعَهُ رَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ وَاجِبٍ وَمُسْتَحَبٍّ لَا يَعْبُدُهُ بِالْأُمُورِ الْمُبْتَدَعَةِ

                “Maka, tidak boleh bagi seorang pun menyembah Allah kecuali dengan apa-apa yang telah disyariatkan oleh RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa kewajiban atau sunah, serta tidak menyembahNya dengan perkara-perkara yang baru (Al Umur Al Mubtadi’ah) .” (Majmu’ Fatawa, 1/12. Mawqi’ Al Islam)

Selanjutnya:

 

مَا لَيْسَ مِنْهُ : apa-apa yang bukan darinya

Yakni amaliah yang bukan dari agama lalu diklaim sebagai ajaran agama. Ketahuilah, apa-apa yang dahulu bukan bagian dari agama, maka selamanya dia bukanlah agama, dan tak seorang pun berhak memasukkannya ke dalam ajaran agama. Dan, apa-apa yang dahulu merupakan bagian dari agama, maka selamanya dia adalah bagian dari agama, dan tak seorang pun berhak menghapuskannya dari agama. Umat terdahulu binasa lantaran mereka telah merubah ajaran agama dan kitab suci mereka, baik menambah atau mengurangi.

Berkata Imam Malik bin Anas Radhiallahu ‘Anhu:

من ابتدع فى الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لأن اللّه قال {اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا} المائدة : 3

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah dalam Islam, dan dia memandangnya itu hasanah (baik), maka dia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala telah berfirman: “Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan dan aku sempurnakan nikmatKu atas kamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.”  (Fatawa Darul Ifta Al Mishriyah, 10/177)

Selanjutnya:

 

فَهُوَ رَدٌّ : maka itu tertolak

                Yakni perbuatan bid’ah tersebut tidak akan diterima, tidak diberi pahala, justru itu merupakan dosa dan kesesatan karena dia telah mencemari dan merusak kemurnian agama.

 

Berkata Syakhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

وَكُلُّ بِدْعَةٍ لَيْسَتْ وَاجِبَةً وَلَا مُسْتَحَبَّةً فَهِيَ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ وَهِيَ ضَلَالَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَنْ قَالَ فِي بَعْضِ الْبِدَعِ إنَّهَا بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ فَإِنَّمَا ذَلِكَ إذَا قَامَ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ أَنَّهَا مُسْتَحَبَّةٌ فَأَمَّا مَا لَيْسَ بِمُسْتَحَبِّ وَلَا وَاجِبٍ فَلَا يَقُولُ أَحَدٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ إنَّهَا مِنْ الْحَسَنَاتِ الَّتِي يُتَقَرَّبُ بِهَا إلَى اللَّهِ . وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَى اللَّهِ بِمَا لَيْسَ مِنْ الْحَسَنَاتِ الْمَأْمُورِ بِهَا أَمْرَ إيجَابٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ فَهُوَ ضَالٌّ مُتَّبِعٌ لِلشَّيْطَانِ وَسَبِيلُهُ مِنْ سَبِيلِ الشَّيْطَانِ كَمَا { قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ : { وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Setiap bid’ah yang tidak ada kewajiban dan sunahnya, maka itu adalah bid’ah yang jelek, dan itu adalah sesat menurut kesepakatan kaum muslimin. Barangsiapa yang mengatakan bahwa pada sebagian bid’ah ada bid’ah hasanah. Sedangkan jika  perbuatan itu terdapat dalil syar’i, maka itu adalah sunah. Adapun apa-apa yang tidak ada sunahnya atau kewajibannya, maka tidak ada satu pun kaum muslimin  yang mengatakan itu adalah kebaikan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan kebaikan yang tidak diperintahkan, baik perkara wajib atau sunah, maka dia sesat dan telah mengikuti syetan, dan jalannya adalah jalan syetan, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud: “Rasulullah membuat garis kepada kami dengan garis yang lurus. Lalu dia membuat garis dibagian kanan dan kirinya, lalu dia bersabda: ‘Inilah jalan Allah, sedangkan ini adalah jalan-jalan lain yang setiap jalan itu ada syetan yang senantiasa mengajak kepadanya,’, lalu Beliau mebaca ayat: “Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah, dan jangan ikuti jalan-jalan lain yang mencerai-beraikanmu dari jalanNya.” (Majmu’ Fatawa, 1/162

Kenapa Lahir Bid’ah? 

Ada beberapa penyebab lahirnya bid’ah dalam agama. Di antaranya:

  1. Menganggap baik perbuatan atau amalan ibadah tertentu.

Ini merupakan penyebab yang paling banyak. Para pelaku bid’ah sering beralasan: “Ini’kan perbuatan baik, kenapa dilarang?” Mereka tidak paham, bahwa dalam Islam,   maqbul atau tidaknya sebuah amal, bukan sekedar dilihat dari sudut pandang baik tetapi juga harus benar (ash Shawab).

Membaca Al Quran adalah baik, tetapi tidak benar membacanya ketika ruku’ dan sujud, sebab syariat melarangnya. Shalat adalah baik, tetapi tidak benar dilakukan di WC atau diwaktu-waktu larangan shalat, kecuali ada udzur syar’i.

  1. Berhujjah Dengan Hadits Dhaif

Tidak sedikit pula amalan bid’ah dilakukan karena didasari hadits-hadits dhaif bahkan palsu. Misalkan hadits-hadits yang beredar dibuku-buku emperan, atau yang tersebar dari mulut ke mulut, tentang ibadah dan anjurannya. Barang siapa yang melakukan shalat anu pada waktu anu maka akan mendapatkan ini. Barang siapa yang membaca anu setiap habis ini maka dia akan begini, dan yang semisalnya. Lalu, manusia membacanya dan dibarengi semangat yang tinggi lalu mereka mengamalkannya tanpa peduli kebenaran (validitas) riwayat itu. Akhirnya, mereka mewajibkan dan menyunnahkan ibadah spesifik yang tidak pernah Nabi wajibkan dan sunnahkan. Para ulama sepakat tidak boleh menggunakan hadits dhaif untuk menentukan halal dan haram, serta  wajib atau sunahnya perbuatan.

Memang benar, banyak ulama yang membolehkan menggunakan hadits dhaif untuk menggalakkan fadhailul ‘amal, adab, dan kehalusan budi pekerti. Seperti anjuran memperbanyak baca Al Quran, qiyamul lail, tarawih, dan lainnya. Tetapi, kenyataan yang terjadi adalah kebanyakan manusia menggunakan hadits-hadits dhaif  untuk pijakan dasar hukum amal tersebut, bukan dalam rangka menyemangatinya. Ini memang perbedaannya amat tipis.

Para imam yang membolehkan adalah Imam Ahmad bin Hambal, Imam Al Hakim, Imam Yahya Al Qaththan, Imam Abdurrahman bin Mahdi , Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam Abdullah bin Mubarak, Imam An Nawawi, Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Imam As Suyuthi, Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani,  Imam Ibnu Rajab Al Hambali,  dan lainnya. Mereka ini, jika meriwayatkan hadits tentang halal haram, dan hukum agama, maka mereka mengketatkan penelitian sanad, tetapi ketika meriwayatkan hadits tentang adab, budi pekerti, ancaman, kabar gembira, azab dan pahala,  mereka melonggarkan sanad.

Ulama belakangan –seperti Imam An Nawawi, Imam As Suyuthi, Imam Ibnu Hajar, Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, dan Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id-  memberikan syarat yang ketat dalam pemakaian hadits dhaif untuk fadhailul ‘amal, yakni:

  1. Kedhaifannya tidak parah. Nah, syarat ini nampaknya hanya teori belaka, sebab pada kenyataannya banyak manusia menggunakan hadits yang kedhaifannya parah, seperti munkar, matruk (semi palsu), maudhu’ (palsu), bahkan laa ashala lahu (tidak ada dasarnya).
  2. Isinya tidak bertentangan dengan watak umum ajaran Islam. Misal menggunakan hadits dhaif tentang anjuran shalat dhuha, hal ini tidak mengapa, sebab tentang keutamaan shalat dhuha sudah diinformasikan dalam hadits shahih. Menggunakan hadits dhaif dalam menjaga kebersihan, ini tidak mengapa, sebab kebersihan memang sudah watak Islam. Yang terlarang adalah jika hadits tersebut bertentangan dengan watak Islam, misal menggunakan hadits tentang tidur orang puasa adalah ibadah, ini tidak dibenarkan sebab bertentangan dengan fakta sejarah yang justru banyak peristiwa besar dan kerja-kerja istimewa pada masa lalu justru terjadi ada bulan puasa.
  3. Tidak memastikan hal itu merupakan perintah atau perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini juga nampaknya hanya teori saja. Kenyataannya ketika mereka melakukan perbuatan yang ada di hadits itu, justru mereka semakin bersemangat karena beri’tiqad itu adalah perbuatan nabi.

Semua syarat ini amat sulit untuk benar-benar bisa dijalankan, dan adanya syarat ini dalam rangka meminimalkan penggunakaan hadits-hadits dhaif dan melalaikan hadits-hadits yang shahih.

Sementara itu, para imam lainnya menolak penggunaan hadits dhaif pada semua masalah, walau pun untuk fadhailul ‘amal. Mereka adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, Imam Abu Syamah, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, dan yang nampak dari pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Bagi mereka, cukuplah berhujjah dengan hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  bukan riwayat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  1. Salah Faham Terhadap Nash (teks agama)

Ini juga sebab terbanyak lahirnya bid’ah. Banyak nash-nash shahih yang berbicara keutamaan waktu tertentu untuk ibadah, tetapi nash tersebut tidak memberikan rincian tata caranya secara khusus. Lalu, di sinilah lahirnya gagasan dari akal manusia untuk membuat hai’ah (bentuk) tersendiri dalam ibadah, untuk  mengamalkan hadits tersebut.

 

Misalnya, keutamaan malam nishfu sya’ban, sebagaimana diriwayatkan oleh berbagai sahabat nabi, bahwa Beliau bersabda:

يطلع الله تبارك و تعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان ، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

                “Allah Ta’ala menampakkan kepada hambaNya pada malam nishfu sya’ban, maka Dia mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki.” (Hadits ini Shahih menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Diriwayatkan   oleh banyak sahabat nabi, satu sama lain saling menguatkan, yakni oleh Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah. Lihat kitab As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Ma’arif. Juga kitab Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab Al Islami. Namun, dalam kitab Misykah Al Mashabih, justru Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini, Lihat No. 1306, tetapi yang benar adalah shahih karena banyaknya jalur periwayatan yang saling menguatkan)

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu sya’ban (malam ke 15 di bulan Sya’ban), yakni saat itu Allah mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukanNya dan para pendengki. Tentunya saat itu waktu yang sangat baik bagi kita untuk banyak beristighfar, tobat, dan ibadah lainnya. Tetapi, hadits ini sama sekali tidak menyebutkan tentang paket dan ‘tatacara’ ibadah tersebut. Tidak disebutkan di hadits ini tentang membaca Yasin sebanyak tiga kali masing-masing ada tujuan tertentu, atau shalat tertentu dengan fadhilah tertentu juga, lalu sambil membawa air segala, juga tidak disebutkan bahwa semua ini dilakukan ba’da maghrib sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin hari ini. Maka, wajar segenap imam ahlus sunah mengingkari ini, seperti   Imam ‘Atha, Imam Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Imam Al Auza’i, Para pengikut Imam Malik, Imam An Nawawi, dan lainnya.

Jadi, keutamaan malam nishfu sya’ban memang shahih, tetapi tentang ritual khusus nishfu sya’ban? Inilah letak masalahnya.

Sedangkan kaidah dalam ibadah adalah:

فَالْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْبُطْلَانُ حَتَّى يَقُومَ دَلِيلٌ عَلَى الْأَمْرِ

  “Asal dari peribadatan adalah batal, sampai adanya dalil yang menunjukkan perintahnya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Hal. 344. 1388H-1968M. Maktabah Al Kulliyat Al Azhariyah)

Maka, menjalankan ibadah khusus dengan keyakinan khusus juga, tanpa adanya dalil yang menunjukkan itu, adalah perbuatan bid’ah dalam agama. Seperti keyakinan, jika anda melakukan ini maka akan begini, bacalah ini dengan mengharapkan ini, dan semisalnya, tetapi tidak memiliki dalil maka hal ini tertolak.

  1. Lebih Mengikuti Hawa Nafsu

Terciptanya bid’ah karena dorongan hawa nafsu manusianya. Mereka menyangka agama ini harus dilengkapi dan masih perlu disempurnakan dengan apa-apa yang mereka ciptakan. Ketika disampaikan bahwa hal itu tidak benar, tidak berdasar, dan mengada-ngada mereka menolak dengan keras, baik dengan alasan atau tidak. Inilah hawa nafsu. Mereka lebih mengikuti emosi dan pikiran sendiri, dibanding dalil Al Quran dan As Sunnah, serta nasihat para ulama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثلاث مهلكات ، و ثلاث منجيات ، فقال : ثلاث مهلكات : شح مطاع و هوى متبع و إعجاب المرء بنفسه . و ثلاث منجيات : خشية الله في السر و العلانية و القصد في الفقر و الغنى و العدل في الغضب و الرضا

“Ada tiga hal yang membinasakan dan tiga hal yang menyelamatkan. Lalu Beliau bersabda: “Tiga hal yang membinasakan adalah syahwat yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan seorang yang kagum dengan dirinya sendiri. Sedangkan tiga hal yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah baik dikesunyian atau dikeramaian, sederhana ketika faqir dan kaya, serta adil ketika marah dan ridha.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani, lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1802, diriwayatkan dari berbagai jalur sahabat; Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Abi ‘Aufa, pada dasarnya masing-masing jalur adalah dhaif, tetapi semuanya saling menguatkan sehingga hadits ini hasan)

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s