Dakwah Jahriyah (Bag. 2)

makkahTak pelak, kaum Quraisy segera bangkit menghadang dakwah tauhid ini. Berbagai macam cara mereka lakukan untuk menghadang dakwah yang bisa mengancam keberadaan mereka, dan yang mereka anggap akan menghancurkan harga diri, ambisi serta kedudukan mereka di tanah haram. Di antara cara dan sarana terpenting yang mereka gunakan untuk menghadang dakwah mulia ini ialah:

1. Kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Abu Thalib, agar ia menghentikan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menghentikan perlindungannya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dikisahkan, bahwa sejumlah tokoh terkemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib dan berkata: “Sesungguhnya kemenakanmu telah mencaci-maki tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, menuduh pikiran kita bodoh, dan menganggap nenek moyang kita sesat. Pilihlah oleh engkau, menghentikannya atau engkau biarkan (tidak turut campur) antara kami dengan dia. Karena engkau dan kami sama-sama mengingkarinya, maka kami cukupkan engkau untuk menghentikannya”. Mendengar seruan ini, justru Abu Thalib menolaknya dengan lemah lembut.[1]
2. Ketika kaum Quraisy tak berhasil menyurutkan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka pun melakukan ancaman keras kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Thalib. Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berkeras tidak menghentikan dakwahnya. Begitu pula dengan Abu Thalib, ia tidak mau melepas perlindungannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hingga akhirnya, kaum Quraisy betul-betul melancarkan ancamannya. Melihat keseriusan ini, maka akhirnya Abu Thalib menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keinginan mereka, yaitu agar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan dakwahnya terlebih dahulu. Namun permintaan pamannya ini ditolak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan Ibnu Ishaq, al Bukhari dalam kitab tarikhnya, dan al Baihaqi dengan sanad hasan dari hadits Aqil bin Abi Thalib, bahwa Abu Thalib mengutusnya memanggil Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. setelah itu, Abu Thalib berkata kepadanya: “Sesungguhnya Bani Pamanmu (Quraisy) mengatakan, bahwa engkau telah menyakiti mereka di majlis-majlis dan tempat ibadah mereka. (Maka) berhentilah dari menyakiti mereka”.

Mendengar ungkapan pamnnya ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendongakkan pandangannya ke langit sambil berkata: “Apakah kalian melihat matahari itu?”

Mereka menjawab,”Ya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi: “Aku tidak mungkin mampu meninggalkan hal itu (dakwah Islam, Red.), walaupun kalian dapat mengambil cahaya dari matahari tersebut”.

Melihat kekokohan kemenakannya, maka Abu Thalib pun berkata: “Demi Allah! Kemenakanku tidak berdusta, maka kembalilah kalian!”[2]

Ancaman kekerasan juga menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad, al Bukhari dan at-Tirmidzi, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو جَهْلٍ لَئِنْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عِنْدَ الْكَعْبَةِ لَآتِيَنَّهُ حَتَّى أَطَأَ عَلَى عُنُقِهِ قَالَ فَقَالَ لَوْ فَعَلَ لَأَخَذَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عِيَانًا

Beliau berkata: Abu Jahl pernah berkata: “Seandainya aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di Ka’bah, tentu aku akan mendatanginya, hingga menginjak lehernya”. Ibnu ‘Abbas berkata: Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya ia berbuat, tentulah para malaikat akan menyiksanya secara terang-terangan”.[3]

3. Mereka melontarkan tuduhan batil kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan tujuan agar manusia menjauhi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tuduhan tersebut ialah:

a. Menuduh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam gila. Sebagaimana disebutkan firman Allah :

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan al Qur`an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila”. [al Hijr/15:6].

Lalu Allah membantah dengan firmanNya:

مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ

Berkat nikmat Rabbmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. [al Qalam/68:2].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan tuduhan mereka tersebut dalam firmanNya yang lain :

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur`an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. [al Qalam/68:51].

b. Mereka menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir atau terkena sihir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tuduhan mereka dalam firmanNya :

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. [Shad/38:4]

Dan firmanNya :

إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَسْحُورًا

Dan orang-orang yang zhalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”. [al Furqan/25:8].

c. Mereka juga menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat dusta. Tentu saja tuduhan ini sangat tidak beralasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membantah tuduhan tersebut dalam firmanNya:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur`an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain,” maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar. [al Furqan/25:4].

d. Mereka juga melontarkan tuduhan, bahwa Muhammad hanyalah membawa dongengan-dongengan orang-orang terdahulu. Ini dijelaskan Allah dalam firmanNya :

وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”. [al Furqan/25:5]

e. Mereka juga melakukan syubhat, menuduh al Qur`an bukan dari Allah, namun berasal dari manusia. Allah menyebutkan tuduhan mereka dalam firmanNya :

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya al Qur`an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedangkan al Qur`an adalah dalam bahasa Arab yang terang. [an Nahl/16:103].

Demikian tuduhan dan syubhat yang mereka lontarkan ke hadapan manusia pada zaman itu. Sebagai sarana orang-orang Quraisy membendung dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Perilaku nista mereka, juga nampak pada para penentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa ini. Tak segan mereka melakukan kebohongan untuk menahan laju dakwah tauhid ini. Billahit-Taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Riwayat ini disampaikan Ibnu Hisyam dari riwayat Ibnu Ishaq tanpa sanad periwayatan. Sehingga riwayat ini lemah, walaupun mashur dalam buku-buku sejarah Nabi.
[2]. Syaikh al Albani dalam kitab Shahih as-Sirah an-Nabawiyah, hlm. 143 mengatakan: “Hadits ini telah dikeluarkan al Hakim dalam al Mustadrak (3/577) dari sisi lain, yang tidak sama dengan riwayat al Baihaqi ini. Dan dalam sanadnya terdapat Thalhah bin Yahya dari Musa bin Thalhah dari Aqil. Sanadnya hasan sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab ash-Shahihah, 92. Adapun hadits yang berbunyi: ‘Wahai pamanku! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku …,’ tidak saya sampaikan disini, kerena (riwayatnya) lemah walaupun sangat masyhur. Tentang lafazh ini telah dijelaskan dalam kitab ad-Dhaifah, 913”.
[3]. Al Musnad (1/368), al Bukhari (4958) dan at-Tirmidzi (3406).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s