Ahammiyyatut Tarbiyah

quranAl-Ummatul Jahiliyyah

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Ta’ala ke tengah-tengah umat jahiliyyah. Yakni sebuah masyarakat yang dilingkupi oleh al-jahlu (kebodohan) terhadap kebenaran; tidak mengenal Allah Ta’ala dengan sebenarnya dan tidak mengenal agama yang benar.

Diantara contoh kebodohan mereka dalam masalah keagamaan adalah:

Pertama, mereka menyembah malaikat, karena menganggapnya sebagai anak-anak perempuan Allah. Keyakinan seperti ini dibantah oleh firman-Nya,

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (Q.S. An-Najm: 19-23)

“Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (Q.S. Al-Israa: 40)

“Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?” (Q.S. As-Shafat: 150)

Kedua, mereka menyembah Jin. Mereka memandang bahwa jin-jin mempunyai hubungan dengan para malaikat. Diantara mereka ada yang menghormati atau memuliakan beberapa tempat yang mereka pandang tempat jin, diantaranya adalah sebuah tempat bernama Darahim. Mereka selalu mengadakan kurban di tempat itu agar terhindar dari bencana yang didatangkan olehnya. Keyakinan ini pun dibantah oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya,

“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): ‘Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan’, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” (Q.S. Al-An’am: 100)

Ketiga, mereka menyembah bintang-bintang. Yang dimaksud bintang-bintang adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang yang gemerlapan cahayanya, yang bertaburan dan beribu-ribu banyaknya itu. Mereka menyembah bintang-bintang karena menganggap bintang-bintang itu diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengatur alam yang luas ini. Diantaranya mereka menyembah bintang Syi’ra.

Namun Allah menegaskan bahwa Dialah Pencipta dan Pemilik bintang Syi’ra. Oleh karena itu hanya Dialah yang patut disembah,

“…dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra,” (Q.S. An-Najm: 49)

Allah Ta’ala juga memberi penerangan kepada manusia bahwa Dialah Pencipta matahari dan bulan,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah kepada matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika hanya kepada-Nya kamu hendak menyembah.” (Q.S. Fushilat: 37)

Masyarakat jahiliyyah ini juga berada dalam kondisi ad-dzillah (hina) karena banyak melakukan perbuatan maksiat. Diantaranya adalah:

Pertama, kebiasaan meminum khamar dan berjudi. Kebiasaan ini kemudian diharamkan oleh Islam,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[1], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Maidah: 90)

Kedua, mereka juga terbiasa berbuat zina, dengan cara terselubung—dengan menyebutnya sebagai pernikahan—atau dengan cara pelacuran seperti halnya dilakukan manusia pada masa kini.[2] Kebiasaan maksiat ini tergambar dari apa yang diungkapkan Aisyah radhiyallahu ‘anha,

إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنْ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوا لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا لَقَالُوا لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا لَقَدْ نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ : (بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَر) وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ

“Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya (al-qur’an) adalah surat Al Mufashshal (surat-surat pendek) yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka. Dan ketika manusia telah condong kepada agama Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram. Seandainya saja yang pertama kali turun adalah ayat; ‘Janganlah kalian minum arak’. Niscaya mereka akan mengatakan; ‘Kami tidak akan meninggalkan meminum arak selama-lamanya.’

Dan sekiranya juga yang pertama kali turun adalah ayat, ‘Janganlah kalian berzina..’ Niscaya mereka akan berkomentar, ‘Kami tidak akan meniggalkan zina selama-lamanya.’

Ayat yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak adalah:

بَلْ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (QS. ALqamar 46).’

Dan tidaklah surat Al Baqarah dan An Nisa` diturunkan kecuali aku telah berada di sisi beliau (di Madinah).” (Shahih Bukhari, No.4993 ).

Tidaklah heran perzinahan saat itu begitu merajalela, karena wanita-wanita mereka memang banyak yang bertingkah laku ‘memasarkan diri’. Pada saat dia lewat di depan lelaki ajnabi (lelaki yang bukan mahramnya). Jalannya genit, berlemah gemulai, seakan-akan dia memamerkan dirinya dan ingin memikat orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

“dan hendaklah kalian para wanita tinggal di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’diy Rahimahullahu  menafsirkan ayat ini, “ Janganlah kalian para wanita sering keluar (rumah) berhias dan memakai wewangian seperti keadaan ahlul jahiliyah terdahulu yang mereka tidak mempunyai ilmu dan agama.” (Taisir Karimir rohmah hal. 632, cetakan pertama, Dar Ibnu Hazm)

Ketiga, mereka terbiasa pula melakukan pencurian dan perampokan, antara satu suku kepada suku yang lain. Suku yang kuat memerangi suku yang lemah untuk merampas hartanya. Yang demikian ini terjadi karena tidak ada hukum maupun peraturan yang menjadi acuan. Mereka bukan hanya mencuri dan merampok harta benda, tetapi orang yang dirampoknya itu juga ditawan dan dijadikannya hamba sahaya atau budak belian.

Keempat, mereka gemar bertengkar dan berperang. Perkara-perkara kecil bisa menjadi peperangan besar, bahkan bisa terjadi sampai bertahun-tahun lamanya. Di antara perperangan mereka yang paling terkenal adalah:

  1. Perang Dahis dan Perang Ghabara’ yang berlangsung 40 tahun antara Suku ‘Abs melawan Suku Dzibyan dan Fizarah akibat perselisihan di arena pacuan kuda;
  2. Perang Basus, sampai-sampai dikatakan, “Perang yang paling membuat sial adalah Perang Basus yang berlangsung sepanjang tahun”. Perang ini terjadi antara Suku Bakr dan Taghlub, perang ini terjadi karena dilukainya seekor unta yang bernama Basus;
  3. Perang Bu’ats yang terjadi antara Suku Aus dan Khazraj di Yatsrib (Al-Madinah An-Nabawiyyah);
  4. Perang Fijar yang berlangsung antara Qays ‘Ilan melawan Kinanah dan Quraisy. Disebut “Perang Fijar” karena terjadi saat bulan-bulan haram. Fijar (فِجار ) adalah bentukan wazan فَعَّال dari kata fujur (فجور); Mereka telah sangat mendurhakai Allah (sangat fujur) karena berani berperang pada bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang.

Kelima, mereka tidak memiliki adat kesopanan. Misalnya mengerjakan thawaf dengan telanjang—baik laki-laki maupun perempuan—tanpa rasa malu. Mereka pun tidak malu mandi telanjang di tempat terbuka. Berbicara rafats, hal-hal rahasia mengenai hubungan seksual suami-istri, tidak segan-segan diceritakan kepada orang lain di depan umum.

Itulah diantara adat kebiasaan jahiliyyah pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus.

Masyarakat jahiliyyah berada dalam kondisi dha’if (lemah) dan furqah (berpecah belah). Mereka bukanlah bangsa yang diperhitungkan. Kerajaan-kerajaan yang ada di jazirah Arab adalah kerajaan-kerajaan yang akhirnya tunduk di bawah kekuatan Persia atau Romawi. Kerajaan-kerajaan yang besar di jazirah Arab ada tiga: Yaman, Munazirah, dan Ghassaniyah.

Kerajaan Yaman pernah dikuasai Habasyah, dan berikutnya dikuasai Persia. Namun pada masa khalifah Abu bakar, Yaman berhasil dikuasai pemerintahan Islam. Kerajaan Munazirah—Ibu Kotanya di Hirah, dekat kota Kufah Irak—dari awal sampai akhir berada di bawah kekuasaan Persia. Pada masa khalifah Abu Bakar pula kerajaan ini dapat dikuasai pemerintahan Islam. Kerajaan Ghassaniyah di Syam dari awal hingga akhir dikuasai oleh Romawi. Kemudian tunduk pada pemerintahan Islam pada masa Umar bin Khattab.

Pemerintahan kecil yang berjalan tanpa gangguan pada masa itu adalah pemerintahan di Hijaz yang pada akhirnya dijalankan oleh Quraisy.

Singkatnya, masyarakat jahiliyah pada masa itu dalam kondisi dholalun mubin, kesesatan yang nyata. Mereka berada dalam kondisi jahl (bodoh), dzillah (rendah), dhaif (lemah) dan furqah (berpecah belah).

Al-Inqadz (penyelamatan) dengan Tarbiyah

Karena kasih sayangnya, Allah Ta’ala kemudian mengutus di tengah-tengah masyarakat jahiliyah itu seorang Rasul, dialah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

“…Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 151).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah masyarakat jahiliyyah ini dengan cara tilawah (membacakan firman Allah Ta’ala), tazkiyah—menyucikan (tathir), menumbuhkan (numuw), dan menghiasi (takhalluq) jiwa dengan sifat-sifat mulia—dan ta’limul minhaj (mengajarkan pedoman hidup) dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ini adalah an-ni’matul kubra (kenikmatan yang besar). Karena dengan diutusnya Rasul dan tarbiyah yang dilakukannya umat jahiliyyah kemudian berubah drastis menjadi umat yang mengenal al-ilm (ilmu). Mereka memiliki ma’rifah (pengetahuan) tentang iman dan agama yang benar,

“…dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami, dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Asy-Syura: 52)

Mereka menjadi umat yang bersih dari kemusyrikan, dan bahkan menjadi umat yang mengusung panji-panjinya serta menancapkannya ke seluruh penjuru bumi.

Mereka menjadi umat yang memiliki al-izzah (kehormatan/wibawa). Berkat tarbiyah dari Rasulullah shalallahu ‘laihi wa sallam, mereka menjadi umat yang berakhlak mulia dan jauh dari sikap rendah.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

“Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Malik dalam Al Muwaththa’)

Mereka menjauhi perbuatan meminum khamer, judi, zina, pencurian, perampokan, perpecahan, dan berbagai perbuatan rendah lainnya.

Dengan iman, mereka menjadi umat yang memiliki al-quwwah (kekuatan) dan al-wihdah (persatuan). Mereka menebarkan cahaya iman ini sehingga umat manusia beroleh hidayah Islam. Mereka kemudian mampu menjadi penguasa di muka bumi ini dan menundukkan para penyembah thaghut. Sebagaimana yang diucapkan Rib’i bin Amir kepada Rustum, komandan perang Persia,

إن الله ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِخَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ العِبَادِ إِلىَ عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْياَ اِلىَ سَعَتِهَا وَمِنْ جُوْرِ الأَدْيَانِ إِلىَ عَدْلِ الإِسْلاَمِ

“Sesungguhnya Allah telah membangkitkan kami untuk mengeluarkan siapa pun yang mau, dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata; dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia, dan dari keculasan agama-agama menuju keadilan Islam”.

Mereka melakukan berbagai futuhat sehingga Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh Jazirah Arab, dan Yaman dapat dikuasai. Sementara itu jizyah dari Majusi Hajar dan beberapa daerah Syam terus mengalir. Pada masa Abu Bakr, Khalid bin Walid berhasil menembus Parsi; Abu Ubaidah menguasai Syam; Amr bin Ash membuka Mesir. Secara beruntun beberapa daerah Syam, Basrah, dan Damaskus dapat dibebaskan. Pada masa Umar bin Khattab seluruh Syam bebas, Mesir dikuasai dan sebagian Persia berhasil direbut; kekuasaan Romawi dari hari ke hari semakin berkurang. Bahkan pada masa Utsman bin Affan kekuasaan Islam sudah menembus wilayah Cina.

Dengan tarbiyah, mereka menjadi khairu ummah (umat terbaik). Sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala,

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 110)

Kesimpulan

Jika Anda kini mendapati sebagian dari umat ini dalam keadaan jahl (bodoh), dzillah (rendah), dhaif (lemah) dan furqah (berpecah belah). Maka ketahuilah, penyelamatannya adalah dengan satu cara: tarbiyah Islamiyah!

Renungkanlah kalimat yang disampaikan Imam Malik: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali ia dijayakan genarasi awalnya.”

Wallahu A’lam…

Maraji’:

Al-Qur’anul Karim

Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, Jilid 1, K.H. Moenawar Chalil

Tazkiyatu Nafs, Sa’id Hawwa

Berita Kemenangan Islam, Yusuf Qaradhawi

Footnote:

[1] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.

[2] Pernikahan pada masa jahiliyyah terdiri dari empat macam:

Pertama: Pernikahan sebagaimana pernikahan masa kini; yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain dan melamar wanita yang di bawah perwaliannya atau anak perempuannya, kemudian dia menentukan maharnya dan menikahkannya.

Kedua: Seorang laki-laki berkata kepada perempuannya (istri) ketika ia sudah suci dari haidhnya, “pergilah kepada si fula dan berjima’ (senggama) lah dengannya” kemudian setelah itu, ia tinggalkan dan tidak ia sentuh selamanya hingga tampak kehamilannya dari (hasil perbuatan) laki-laki tersebut. Dan bila tampak tanda kehamilanya, sedang suaminya masih berselera kepadanya maka dia akan menggaulinya. Hal tersebut ia lakukan agar mendapatkan seorang anak yang pintar. Pernikahan semacam ini disebut sebagai nikah al-Istibdha’.

Ketiga: Sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya, jika wanita ini hamil dan melahirkan kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, dia mengutus kepada mereka yang dapat mengelak hingga semuanya berkumpul kembali dengannya, lalu si wanita ini berkata kepada mereka, “ kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan,” Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

Keempat: Sekelompok laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikitpun siapapun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur. Di pintu-pintu rumah mreka ditancapkan bendera yang menjadi symbol mereka dan siapapun yang menghendaki mreka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang Al-Qafah (ahli pelacak) kemudian Al-Qafah ini menentukan nasab si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak kemudian dipanggilah anak tersebut sebagai anaknya. Dalam hal ini si laki-laki yang ditunjuk tidak boleh menyangkal.

Ketika Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun menghapus semua bentuk pernikahan kaum jahiliyyah tersebut dan menggantikan dengan pernikahan dengan cara Islam yang berlaku saat ini. [HR. Bukhari (5127) dan Abu Dawud (kitab nikah), dari jalan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ar-Rahiiqul Makhtum (hlm. 39-40), Darussalam, Riyadh]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s