Makna Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Penutup Para Nabi

MuhammadMuqadimah

Ketika kita beriman kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan mengetahui bahwa Risalah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah risalah yang paling lengkap dan paling sempurna yang pernah diturunkan oleh Sang Pencipta kepada hamba-NYA. Aqidah semua nabi adalah satu, yakni Tauhid. Tetapi syariah mereka berbeda-beda, maka Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi penutup, risalahnya adalah risalah yang terakhir dan syariatnya akan berlaku hingga akhir zaman, tiada agama yang diridhoi disisi ALLAH Ta’ala kecuali Islam, dan tidak ada Nabi yang membawa syariat lain setelah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا.

“Dan Muhammad  itu bukanlah bapak dari salah seorang lelaki diantara kalian, tetapi ia adalah Rasul ALLAH dan Nabi yang terakhir dan adalah ALLAH Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.” (Al-Ahzab, 33:40)

Imam At-Thabari saat menafsirkan ayat ini berkata: “Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah ra, yaitu anak angkat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH SWT terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.[1]

Imam Al-Qurthubi berkata bahwa ayat ini mengandung 3 hukum Fiqh : “Pertama, saat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab (mantan istri Zaid bin Haritsah ra) orang-orang munafik berkata : ‘Dia (Muhammad) menikahi mantan istri anaknya sendiri’, maka ayat ini turun untuk membantah hal tersebut. Kedua, bahwa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terakhir, tiada Nabi sesudahnya yang membawa syariat baru. Ketiga, syariat beliau menyempurnakan syariat sebelumnya sebagaimana sabdanya : ‘Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia’, atau sabdanya yang lain : ‘Perumpamaanku dengan nabi sebelumku seperti perumpamaan seorang yang membuat bangunan yang amat indah, tinggal sebuah lubang batu bata yang belum dipasang, maka akulah batu bata tersebut dan akulah nabi yang terakhir.[2]

Berkata Sayyid Quthb rahimahuLLAH dalam tafsirnya[3] : “Setelah menjelaskan  bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah ayah dari Zaid bin Haritsah ra, sehingga halal beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab ra, ayat ini juga menggariskan tentang pemenuhan hukum syariat yang masih tersisa yang harus diketahui dan disampaikan kepada ummat manusia, sebagai realisasi dari penutup risalah langit untuk di bumi ini, tidak boleh ada pengurangan dan tidak boleh ada perubahan, semuanya harus disampaikan.”

Lebih lanjut beliau -rahimahuLLAH- menambahkan saat menafsirkan akhir ayat tersebut (Dan adalah ALLAH Maha Mengetahui atas segala sesuatu): “Sungguh DIA-lah yang paling mengetahui apa yang paling baik dan paling tepat bagi para hamba-NYA, maka IA memfardhukan kepada Nabi-NYA apa yang seharusnya dan memilihkan bagi beliau apa yang terbaik… IA menetapkan hukum-NYA ini sesuai dengan pengetahuan-NYA yang meliputi segala sesuatu dan ilmu-NYA tentang mana yang terbaik tentang hukum, aturan dan undang-undang serta sesuai dengan kasih-sayang-NYA kepada semua hamba-NYA beriman.”

Demikianlah telah ijma’ (konsensus) diantara para ulama bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir, sehingga jika ada orang yang datang setelah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan ada nabi setelah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka perkataan tersebut bathil dan tertolak berdasarkan ijma’ dan pelakunya harus bertobat kepada ALLAH SWT.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Nabi Terakhir

Definisi Nabi terakhir mengandung unsur-unsur yang harus diimani yaitu:

Pertama, (ناَسِخُ الرِّسَالَةِ) Menghapus Risalah sebelumnya.

Risalah sebelumnya adalah semua kitab dan hukum yang pernah diturunkan oleh Allah SWT kepada para nabi as dan dikabarkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an maupun di dalam as-Sunnah yang shahih yaitu :

  1. Shuhuf (lembaran) yang diturunkan kepada Ibrahim as (QS 87: 14-19, 53: 36-42).
  2. Shuhuf yang diturunkan kepada Musa as (QS 87: 14-19, 53: 36-42).
  3. Taurat yang diturunkan kepada Musa as (QS 2: 53, 3: 3, 5: 44, 6: 91).
  4. Zabur yang diturunkan kepada Daud as (QS 4: 164, 18: 55, 21: 105).
  5. Injil yang diturunkan kepada Isa as (QS 3: 3, 5: 46).

Bahwa semua kitab-kitab tersebut hukumnya telah di-nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an, kecuali beberapa hukum dan kisahnya dan semua yang belum di-nasakh tersebut disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an ataupun al-hadits

Kedua, (مُصَدِّقُ اْلأَنْبِيَاءِ) Membenarkan Para Nabi Sebelumnya. (QS 2:101).

Membenarkan para nabi sebelumnya, maksudnya bahwa Islam melalui kitabnya yaitu Al-Qur’an membenarkan keberadaan para Nabi as yang ada sebelum Nabi Muhammad SAW, meyakini bahwa Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para Nabi tersebut, kitapun membenarkan seluruh berita yang ada dalam semua Kitab-kitab tersebut adalah dari Allah SWT, selain yang telah diselewengkan dan diubah oleh para ahli kitab, serta mengerjakan semua hukumnya kalau ada yang belum di-nasakh (dihapuskan) oleh al-Qur’an (QS 2: 97, 5: 48).

Ketiga, (مُكَمِّلُ الرِّسَالَةِ) Penyempurna Risalah Sebelumnya. (QS 5: 3).

Bahwa Islam adalah agama terakhir, maka nabinyapun adalah nabi penutup, sehingga kitabnya yaitu Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan semua risalah sebelumnya, oleh karena semua risalah sebelum Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut telah mengalami perubahan dan penyimpangan dari masa ke masa yang dilakukan oleh generasi setelahnya, berbagai penyimpangan itu diantaranya : 1) Mengubah arti dari lafazh (kata-kata) yang ada (QS 3: 75, 181, 182; 4:160, 161; 5: 64). 2) Mengubah atau menambah baik kata, kisah maupun hukum (QS 2: 79; 3: 79, 80; 5: 116-117). 3) Menyembunyikan dan menghilangkan berita-berita tentang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran lainnya (QS 2/89,90,109,146; 3/71-72; 61/6).

Keempat, (كاَفَّةٌ لِلنَّاسِ) Berlaku untuk Semua Manusia. (QS 34: 28)

Perbedaan syariat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi sebelumnya adalah bahwa syariat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah berlaku untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman. Hal ini berbeda dengan syariat para nabi as yang lainnya yang hanya terbatas untuk ummatnya saja.

Hal ini mengandung dua pelajaran bagi kita, yaitu: 1) Mengetahui hikmah Allah SWT dalam penetapan hukum bagi setiap ummat, sehingga Allah SWT selalu menetapkan hukum yang sesuai bagi setiap ummat. 2) Oleh sebab itu maka hal ini meyakinkan kita bahwa Islam merupakan syari’at yang paling sempurna, paling lengkap dan paling baik karena merupakan penutup dan penyempurna dari risalah semua nabi dan Rasul.

Kelima, (رَحْمَةٌ لِلْعاَلمَِيْنَ) Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam. (QS 21: 107)

Hal lain yang juga memperkuat kebenaran risalah yang dibawa oleh Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dampak dari dakwahnya. Dakwahnya yang telah dapat mengubah sebuah peradaban yang terbelakang, buta aksara dan kejam menjadi memimpin dan menguasai peradaban dunia serta mengisinya dengan gabungan antara ketinggian ilmu pengetahuan dan akhlaq yang belum dapat ditandingi oleh peradaban modern saat ini sekalipun. Diantara hasil karya besar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi alam semesta ini adalah sbb;

  1. Memusnahkan segala jenis syirik baik yang besar (menyembah berhala, sihir, ramal, dan sebagainya) maupun kecil (sumpah bukan dengan nama Allah, riya’, dan sebagainya) dan menggantinya dengan keimanan yang total kepada Allah SWT.
  2. Memusnahkan segala adat tradisi jahiliyyah yang menyimpang, seperti membuka aurat, ber-khalwat dengan lawan jenis, campur baur lelaki dan wanita (ikhtilath), dan sebagainya dan menggantinya dengan akhlaq yang mulia dan tuntunan moral yang luhur.
  3. Menegakkan sebuah sistem kehidupan yang seluruhnya berdiri diatas tauhid, baik ekonomi, politik, sosial, kemasyarakatan, seni, olahraga, dan lain lain.
  4. Melakukan sebuah revolusi total terhadap hati sanubari, pemikiran, peraturan hidup ummat manusia.
  5. Mempersatukan semua ras, semua suku, semua golongan manusia dibawah sebuah sistem yang berlandaskan tauhid, berhukumkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan bertujuankan kebaikan dunia dan akhirat

Kesemuanya ini semoga dapat membangunkan kita dari kelalaian kepada Allah SWT dan maksiat kepada-Nya, karena menyadari betapa besar nikmat-Nya kepada kita dan betapa berat pengorbanan dari para pembawa risalah ini dan menyadari bahwa tugas kitalah untuk meneruskannya.

Referensi

  1. Manhaj Tarbiyah
  2. Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb
  3. Ar-Rasul, Said Hawwa

[1] Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Imam At-Thabari, XX/278

[2] Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi, I/4484

[3] Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, VI/89

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s