Syahadatain: Hakikat Dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

syahadatSyahadatain adalah hakikat dakwah Rasulullah saw. Allah Ta’ala berfirman,

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al-A’raf: 158)

Bahkan syahadat La Ilaha Illa-Llah pun adalah hakikat dakwah para rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad saw. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…” (QS. An-Nahl : 36)

Juga firman-Nya,

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’” (QS. Al-Anbiyaa: 25)

Dalam ayat diatas, Allah Ta’ala menegaskan dengan pasti, bahwa setiap Rasul yang diutus-Nya sebelum Muhammad saw adalah orang-orang yang telah diberi-Nya wahyu yang mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Oleh sebab itu menjadi kewajiban bagi manusia untuk menyembah Allah semata-mata. Karena tidak ada sesuatu dalil-pun, baik dalil berdasarkan akal, ataupun dalil yang diambilkan dari kitab-kitab suci yang disampaikan oleh semua Rasul-rasul Allah yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah SWT.

Secara rinci Al-Qur’an menjelaskan pula bahwa ajakan kepada kalimat La Ilaha Illa-Llah inilah yang diserukan Nabi Nuh (lihat: Q.S. Al-A’raf: 59), Nabi Hud (lihat: Q.S. Al-A’raf: 65), Nabi Shalih (lihat: Q.S. Al-A’raf: 73), Nabi Syu’aib (lihat: Q.S. Al-A’raf: 85), dll.

Oleh karena itu, kita tidak boleh lalai dan melupakan hakikat ini. Kita perlu menjelaskan kepada umat Islam hari ini tentang pengertian, makna, syarat-syarat diterimanya syahadat, dan bagaimana cara berinteraksi dengannya. Pemahaman yang benar terhadap syahadatain ini akan menjadi langkah awal bagi terwujudnya keimanan yang kokoh. Kita pun harus menyampaikannya kepada seluruh umat manusia di permukaan bumi ini.

Rasulullah saw dengan tegas menjelaskan tentang hakikat dakwahnya ini melalui sabdanya,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperihalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (Bukhari Muslim).

Yang dimaksud dengan kalimat: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia..” disini adalah perintah memerangi para penyembah berhala.[1] Syaikh Ismail Al Anshari menjelaskan: “Makna ‘manusia’ (dalam hadits ini, red.) yaitu kaum musyrikin selain ahli kitab, sesuai riwayat Imam An Nasa’i, “Aku diperintah untuk memerangi kaum musyrikin sampai mereka bersaksi tiada Ilah selain Allah,” riwayat ini menjelaskan makna kalimat ini.”[2]

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id rahimahullah mengatakan: “Al Khathabi dan lainnya mengatakan: maksudnya adalah para penyembah berhala dan kaum musyrikin Arab dan orang yang tidak beriman kepada Allah selain Ahli Kitab dan yang mengikrarkan tauhid.”[3]

Adapun ahlul kitab, tidak termasuk di dalam hadits ini. Peperangan terhadap mereka pada zaman Nabi dikarenakan mereka bersekongkol (konspirasi) dengan kaum Musyrik Makkah untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Bukan karena mereka sebagai ahlul kitab yang tidak masuk Islam.[4]

Metode dakwah memerangi ini bukan metode satu-satunya, dan bukan pula jalan pertama yang ditempuh dalam sejarah awal Islam. Metode utamanya adalah dakwah dengan hikmah dan bukan paksaan, perang ditempuh hanya ketika dakwah Islam dihalang-halangi dan  diganggu.

[1] Lihat: Terjemah Syarah Arbain Nawawiyah Dr Musthafa Al-Buqha, Rabbani Press hal. 67

[2] Lihat: Tuhfah Rabbaniyah, syarah No. 8

[3] Lihat: Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah, Hal. 54, Maktabah Al-Misykah

[4] Lihat: http://www.hasanalbanna.com/syarah-hadits-arbain-ke-8-perintah-memerangi-manusia-yang-tidak-melaksanakan-shalat-dan-mengeluarkan-zakat/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s