Surah Makkiyah wa Madaniyah

Perhatian Ulama Terhadap Makkiyah dan Madaniyah

Para ulama begitu tertarik untuk menyelidiki surah-surah makki dan madani. Mereka meneliti Qur’an ayat demi ayat dan surah-demi surah untuk ditertibkan, sesuai dengan nuzulnya dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat.

Yang terpenting dipelajari oleh para ulama dalam pembahasan ini adalah:

  • Surah/ayat yang diturunkan di Makkah,
  • Surah/ayat yang diturunkan di Madinah,
  • Surah/ayat yang diperselisihkan tempat turunnya,
  • Ayat-ayat Makkiyah dalam surah-surah Madaniyah,
  • Ayat-ayat Madaniyah dalam surat-surat Makkiyah,
  • Surah/ayat yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya Madani,
  • Surah/ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makki,
  • Surat/ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah (Makki) dalam kelompok Madani,
  • Surat/ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah (madani) dalam kelompok Makki;
  • Surat/ayat yang dibawa dari Makkah ke Madinah,
  • Surat/ayat yang dibawa dari Madinah ke Makkah,
  • Surat/ayat yang turun di waktu malam dan siang,
  • Surat/ayat yang turun di musim panas dan dingin,
  • Surat/ayat yang turun diwaktu menetap dan dalam perjalanan.

Continue reading “Surah Makkiyah wa Madaniyah”

Mengenal Madzhab Imam Malik (Bag. 2)

Fase dan Periodisasi Sejarah Madzhab

Pertama, fase kemunculan dan pembentukan (110 H – 300 H)

Fase ini dimulai sejak Imam Malik rahimahullah menjabat sebagai mufti dan orang-orang menyerahkan kepadanya posisi imam pada tahun 110 H, dan selesai dengan berakhirnya abad ketiga.

Fase ini dihiasi dengan kejeniusan sekelompok murid Imam Malik dan murid-murid mereka, diantaranya adalah: Al-Qadhi Ismail bin Ishaq (wafat 282 H), pengarang kitab Al-Mabsuth, buku terakhir yang terbit pada fase ini. Continue reading “Mengenal Madzhab Imam Malik (Bag. 2)”

Siapakah yang Akan Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan?

(Ceramah Tarhib Ramadhan)

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan.  Pada bulan ini dosa hamba-hamba Allah Ta’ala dipanaskan sehingga terbakar dan musnah. Riwayat dari Anas bin Malik menyebutkan tentang hal ini,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ : لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ : يَحْرِقُهَا وَيَذْهَبُ بِهَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya dinamakan (bulan) Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa’, yaitu membakarnya dan memusnahkannya.’” [1]

Allah Ta’ala karena kasih sayangnya memang selalu menyediakan kesempatan bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu memperbaiki diri dan meraih maghfirah-Nya.

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara waktu-waktu itu, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” [2] Continue reading “Siapakah yang Akan Mendapatkan Ampunan di Bulan Ramadhan?”

Hadits 6: Kebersihan Agama dan Kehormatan

(Halal, Haram, dan Syubhat)

Matan Hadits Keenam:

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: (إِنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس،ِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِه، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً . أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ)  رواه البخاري ومسلم .

Dari Abu Abdullah An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya yang halal adalah jelas dan yang haram juga jelas dan di antara keduanya terdapat perkara yang samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menghindar dari yang samar maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam perkara yang samar maka dia telah terjatuh dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang berada dekat di pagar milik orang lain dikhawatiri dia masuk ke dalamnya. Ketahuilah setiap raja memiliki pagar (aturan), aturan Allah adalah larangan-laranganNya. Sesungguhnya di  dalam tubuh terdapat segumpal daging jika dia baik maka baiklah seluruh jasad itu, jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim) Continue reading “Hadits 6: Kebersihan Agama dan Kehormatan”

Mengenal Madzhab Imam Malik (Bag. 1)

Beliau adalah Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Ghaiman bin Khutsail bin Amr bin al-Harits Dzu Ashbah[1] al Himyari[2] al-Ashbahi al-Madani.

Imam Malik dilahirkan pada tahun 93 H di masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan, di desa Dzul Marwah yang berjarak sekitar 160 kilometer sebelah utara kota Madinah.[3]

Ibunya adalah Aliyah binti Syuraik al-Azdiyah, seorang wanita shalihah yang sangat mengagungkan ilmu dan ulama. Imam Malik  tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mencintai ilmu. Kakek beliau adalah Malik bin Abi amir (wafat 94 H), termasuk tokoh senior dan ulama tabi’in, yang meriwayatkan hadits dari Umar, Utsman, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Anak-anaknya meriwayatkan darinya, diantara mereka adalah Anas ayah Imam Malik. Paman beliau adalah Abu Suhail Nafi’ bin Malik (wafat 140 H), salah satu guru dari Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri. Continue reading “Mengenal Madzhab Imam Malik (Bag. 1)”