8 Waktu Utama untuk Berdo’a

Do’a adalah Ibadah

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku  akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (QS. Ghafir: 60)

Firman Allah Ta’ala di atas mengandung  perintah agar manusia berdoa kepada-Nya. Jika mereka berdoa, niscaya Dia akan memperkenankan doanya itu. Ayat ini pun mengandung peringatan dan ancaman yang keras kepada orang-orang yang enggan beribadat kepada-Nya. Continue reading “8 Waktu Utama untuk Berdo’a”

Futuhat Islamiyah di Zaman Umar (Bag. 7)

Penaklukkan Sussa dan Jundai Saphur

Sisa pasukan Persia yang selamat dari pertempuran Tustar melarikan diri ke Sussa dan Jundai Saphur. Mereka dikejar oleh pasukan Islam di bawah komando Nu’man ibn Muqarrin, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Abu Sabrah. Sussa tidak jauh dari Tustar. Setibanya di sana, pasukan Islam tidak mendapatkan perlawanan dari Persia. Penduduk kota memilih berdamai.

Khalifah Umar dari Madinah menginstruksikan agar pasukan Islam bergerak ke Jundai Saphur.[1] Zarruh ibn Abdillah dan Aswad ibn Rabi’ah memimpin pergerakan ini. Jundai Saphur pun dapat ditaklukkan dengan mudah. Para penduduk kota disana lebih memilih berdamai.[2] Continue reading “Futuhat Islamiyah di Zaman Umar (Bag. 7)”

Hadits 3: Rukun Islam (Bag. 4)

Selanjutnya:

وَصَوْمِ رَمَضَانَ dan puasa Ramadhan

Definisi Shaum

Secara bahasa, berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah:

الصيام في اللغة مصدر صام يصوم، ومعناه أمسك، ومنه قوله تعالى: {فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا } [مريم] فقوله: {صَوْمًا} أي: إمساكاً عن الكلام، بدليل قوله: {فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا} أي: إذا رأيت أحداً فقولي: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا} يعني إمساكاً عن الكلام {فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا}.

Shiyam secara bahasa merupakan mashdar dari shaama – yashuumu, artinya adalah menahan diri. Sebagaimana firmanNya: (Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”) (QS. Maryam (19):26). firmanNya: (shauman) yaitu menahan diri dari berbicara, dalilnya firmanNya: (jika kamu melihat seorang manusia), yaitu jika kau melihat seseorang, maka katakanlah: (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah) yakni menahan dari untuk bicara. (Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini). (Syarhul Mumti’, 6/296.  Cet. 1, 1422H.Dar Ibnul Jauzi. Lihat juga Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/431. Lihat Imam Al Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/850) Continue reading “Hadits 3: Rukun Islam (Bag. 4)”

Futuhat Islamiyah di Zaman Umar (Bag. 6)

Pertempuran Jalula

Sisa-sisa pasukan Persia yang ikut bersama Yazerdgerd III telah tiba di Jalula, sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran. Yazerdgerd lalu menghimpun orang-orang Persia untuk menghadapi pasukan Islam. Ia menunjuk Mehran sebagai panglima, sementara itu ia melanjutkan perjalanan menuju Hulwan di sebelah timur Jalula.

Kabar persiapan pasukan Persia ini terdengar oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia lalu melaporkannya kepada Umar di Madinah. Umar memerintahkan Sa’ad untuk mempersiapkan pasukan dan bergerak ke Jalula. Sa’ad menunjuk Hasyim bin Utbah bersama Qa’qa ibn Amr untuk mengepalai pasukan. Mereka bergerak ke Jalula dan mengepungnya. Saat itu Persia rupanya telah menggali parit-parit yang lebar dan dalam. Hasyim bin Utbah meminta balabantuan dari Ctesiphon, sementara Persia mendatangkan bantuan dari Hulwan. Pengepungan berlangsung lama: 2 bulan! Continue reading “Futuhat Islamiyah di Zaman Umar (Bag. 6)”

Hadits 3: Rukun Islam (Bag. 3)

Selanjutnya:

وَحَجِّ البِيْتِ     –  dan menunaikan haji ke baitullah ..

Definisi Haji

Secara fiqih makna haji adalah sebagai berikut, sebagaimana yang diterangka oleh Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah:

هو قصد مكة، لان عبادة الطواف، والسعي والوقوف بعرفة، وسائر المناسك، استجابة لامر الله، وابتغاء مرضاته.

وهو أحد أركان الخمسة، وفرض من الفرائض التي علمت من الدين بالضرورة.

فلو أنكر وجوبه منكر كفر وارتد عن الاسلام.

“Yaitu mengunjungi Mekkah untuk melaksanakan Ibadah, seperti thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, dan seluruh manasik, sebagai pemenuhan kewajiban dari Allah, dan dalam rangka mencari ridha-Nya. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang lima, kewajiban di antara kewajiban agama yang sudah diketahui secara pasti. Seandainya ada yang mengingkari kewajibannya, maka dia  kafir dan telah murtad dari Islam.” (Fiqhus Sunnah, 1/625) Continue reading “Hadits 3: Rukun Islam (Bag. 3)”