Takwinul Ummah

Pembentukan Umat

Kata ‘umat’ (al-ummah) yang dimaksud disini bermakna ‘golongan’, ‘kelompok manusia’, ‘masyarakat’ atau ‘bangsa’.

Al-ummah bermakna semua komunitas yang segala urusannya terhimpun, baik dalam satu agama tertentu, dalam waktu tertentu atau tempat tertentu, atau himpunan itu terjadi karena ketundukan secara alamiah; atau karena suatu ikhtiar atau usaha yang dikomandoi oleh perorangan atau beberapa orang yang bekerja sama dalam sebuah organisasi untuk tujuan tertentu.  Jamak al-ummah adalah al-umam.  Sedangkan posisi perorangan atau sekelompok orang yang menggerakkan itu, atau seseorang yang menjadi pusat ketundukan tersebut, dikatakan pemimpin (al-imam). Jamak al-imam adalah al-aimmah yang pelembagaannya disebut al-imamah bermakna kepemimpinan.[1] Continue reading

Tadabbur QS. Al-Lahab

Surat Al-Lahab adalah firman Allah Ta’ala yang berisi celaan kepada salah seorang paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengobarkan permusuhan kepada pribadi dan dakwah yang diserukan oleh beliau. Ia bernama Abdul ‘Uzza bin Abdil Muthalib atau Abu ‘Utaibah; tetapi lebih dikenal dengan nama Abu Lahab karena wajahnya yang memerah (makna lahab adalah api yang bergejolak). Dalam tafsir Al-Azhar Buya Hamka mengungkapkan bahwa disebut dengan gelar itu karena Abu Lahab mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menyebutnya dengan ungkapan: “Gelar ini pantas untuknya karena ia akan dimasukkan ke dalam naar yang menyala-nyala yang mengeluarkan lidah api yang dahsyat.”[1]

Continue reading

Asasu ‘Amaliyatit Takwin

Landasan Operasional Pembinaan

Di pembahasan sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa setelah tahapan tabligh dan ta’lim; da’i perlu melakukan aktivitas takwin kepada para mad’u-nya, yaitu berupaya menghantarkan pengetahuan mereka kepada gagasan dan pemahaman kemudian mengubah gagasan dan pemahaman itu menjadi gerakan (aktivitas amal dan dakwah).

Landasan operasional aktivitas ini adalah firman Allah Ta’ala berikut ini:

Pertama

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104) Continue reading

Karakteristik Dakwah

Dakwah Islamiyah yang benar dan lurus memiliki karakteristik sebagai berikut:

Rabbaniyyah (Berorientasi Ketuhanan)

Dakwah yang benar haruslah berorientasi ketuhanan. Bertujuan hanya menyeru kepada Allah Ta’ala dan agama-Nya, dan bukan bertujuan mencari keuntungan duniawi: harta kekayaan, kedudukan, popularitas, dan sejenisnya.

Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya’” (QS. Al-Furqan, 25: 57) Continue reading

Fiqhud Da’wah

(Amal, Tahapan, dan Tujuan)

Dakwah adalah sebuah pekerjaan besar. Ia tidak mungkin dilaksanakan secara serampangan tanpa memperhatikan ketertiban amal, tahapan, dan tujuannya.

Mengatur langkah adalah bagian dari ikhtiar kauni yang perlu kita lakukan, mengenai hasil tentu saja kita serahkan sepenuhnya kepada Rabbul asbab, Allah Jalla wa ‘Ala.

Upaya yang kita lakukan di dalam dakwah setidaknya ada lima:

Pertama, tahwilul jahalati ilal ma’rifah, yakni menghantarkan kondisi ketidaktahuan (objek dakwah) kepada kondisi berpengetahuan. Hal ini sebagaimana difirmakan Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia, Continue reading