Zionisme Internasional

Zionisme adalah gerakan politik yang digulirkan oleh sekelompok Yahudi yang memiliki cita-cita mendirikan negara bagi bangsa Yahudi di Palestina. Lebih jauh lagi mereka pun memiliki tujuan menciptakan pemerintahan Yahudi/Israel Raya yang merujuk kepada masa keemasan bangsa Israel pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh David Ben Gurion dalampidatonya di depan mahasiswa Universitas Ibrani tahun 1950, Setiap kalian wajib berjuang dan bekerja keras dalam perang dan diplomasi, hingga tiba saatnya berdiri imperium Israel Raya yang wilayahnya membentang dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat”[1]

Zionisme diambil dari kata Zion, nama sebuah bukit yang berada di sebelah barat daya kota Al Quds (Yerusalem) yang menurut kaum Zionis Yahudi, Zion merupakan tempat berdirinya Kerajaan Nabi Sulaiman. Disanalah mereka ingin mendirikan sebuah kekuasaan dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.[2] Kata Zion pada masa awal sejarah Yahudi menjadi sinonim dengan penyebutan untuk kota Yerusalem. Setiap tahun, bangsa Yahudi memiliki adat untuk berhaji menuju bukit Zion sebagai bagian dari ibadah tahunan mereka.[3] Continue reading “Zionisme Internasional”

Advertisements

Karakteristik Risalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam

(Khashaishu Risalati Muhammadin)

Risalah yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki karakteristik dan keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu.

Karakteristik dan keistimewaan tersebut diantaranya adalah:

Pertama, Sang Pembawa risalah adalah khatamul anbiya (penutup para nabi)

Sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Ahzab, 33: 40). Continue reading “Karakteristik Risalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam”

Hikmah diutusnya Para Rasul

(Al-Hikmatu Min Irsalir Rasuli)

Diantara rukun iman yang wajib diyakini oleh seorang muslim adalah iman, percaya, dan yakin bahwa di sepanjang zaman, Allah Ta’ala telah mengutus para rasul kepada umat manusia. Hal ini diantaranya berdasarkan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan makna iman di dalam ajaran Islam,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” (HR. Muslim No. 8)

Apakah Hikmah atau Tujuan Allah Ta’ala Mengutus para Rasul ‘Alaihimus Salam?

Pertama, ta’rifun-naasi billaahi wa bi hikmati khalqihim: al-‘ibaadatullahi wahdahu (mengenalkan manusia kepada Allah Ta’ala dan hikmah penciptaan mereka, yakni melakukan ibadah hanya kepada-Nya semata). Continue reading “Hikmah diutusnya Para Rasul”

Birrul Walidain

Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“…dan kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbakti terhadap kedua orang tuanya.” (QS. Al-Ankabut: 8).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku bertanya kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Shalat tepat pada waktunya.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi: ‘Kemudian amal apa lagi? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Jihad di jalan Allah’. (Setelah menyampaikan hadits ini) Abdullah nin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:   “Telah disampaikan kepadaku dari Rasuluullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hal-hal ini, seandainya aku menambah pertanyaan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tentu akan ditambahkan kepadaku jawaban lainnya” (HR.Bukhari) Continue reading “Birrul Walidain”

Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)

Dinul Islam adalah minhajul hayah (pedoman hidup) bagi seluruh umat manusia. Ia adalah ajaran yang sempurna yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah, 5: 3).

Mengenai ayat di atas, ‘Aidh Al-Qarni dalam At-Tafsirul Muyassar berkata: “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya untuk kalian dengan menurunkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, mengajarkan syariat Islam, dan menjelaskan yang halal dan haram. Oleh karena itu tidak boleh ada penambahan dalam agama ini. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak berdasar pada agama kita maka amalnya itu tertolak. Allah Ta’ala telah mencukupkan nikmat-Nya kepada kalian dengan mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menurunkan wahyu kepadanya. Ia merupakan nikmat terbesar dan karunia teragung dari Rabb semesta alam.”[1] Continue reading “Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)”