Prinsip 7: Persatuan Umat Islam

Kita meyakini bahwa perbedaan dalam cabang-cabang agama—entah dalam bidang akidah ataupun amal ibadah—adalah sesuatu yang pasti terjadi dan ia tidak akan menimbulkan efek yang buruk dan berbahaya jika disertai adab-adab berbeda pendapat. Bahkan, ia merupakan sebuah keniscayaan, rahmat, dan kelapangan.

Keinginan ilahi menghendaki adanya perbedaan pemahaman manusia terhadap agama. Perbedaan tersebut beranjak dari tuntutan bahasa. Pasalnya, bahasa yang dipergunakan sebagai sumber acuan agama ini mengandung hakikat dan kiasan, ekplisit dan implisit, umum dan khusus, mutlak dan terikat, dan sebagainya. Di dalamnya terdapat perbedaan pemahaman.

Lanjutkan membaca “Prinsip 7: Persatuan Umat Islam”

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 12)

Berebut Pengaruh di Kawasan

Meskipun antara Ikhwan dan Iran mempunyai beberapa titik temu terutama dalam masalah Palestina dan semangat revolusinya, keduanya juga mempunyai beberapa jurang pemisah terutama dalam memandang ideologi sosialisme komunisme lalu membandingkannya dengan demokrasi liberalisme barat (AS). Ikhwan yang mengalami turbulensi politik berupa pembubaran, penangkapan hingga hukuman mati di negara-negara seperti Mesir, Suriah dan Irak yang mengadopsi ideologi sosialisme melihat blok Soviet dengan komunisme (yang sering diidentikkan dengan atheisme) sebagai sebuah ideologi yang lebih berbahaya ketimbang blok barat yang demokratis dan liberalis. Setidaknya sampai sebelum Uni Soviet bubar—Dr. Musthafa Husni As-Siba’i dan Sosialisme Islamnya adalah pengecualian.

Berbeda dengan Iran yang menganggap bahwa Barat (AS) lebih berbahaya dari Soviet. Bagi Iran, AS adalah penyebab utama kekacauan yang terjadi di timteng, Palestina khususnya. Dalam hal ini, cara pandang Ikhwan terhadap Barat (AS) dan Soviet sangat dekat dengan Saudi, terutama pada masa kepemimpinan Raja Faishal dan era Perang Afghanistan kontra Soviet.

Lanjutkan membaca “Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 12)”

Prinsip 6: Akhlak yang Mulia

Kita meyakini bahwa Islam sangat memperhatikan masalah akhlak sampai-sampai Allah Swt. memuji Rasul-Nya dengan berkata,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Engkau betul-betul berada di atas akhlak yang agung.[1]

Bahkan, Rasul menegaskan misinya kepada kita dengan bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.[2]

Lebih dari itu, Islam menjadikan berbagai kewajiban ibadah yang merupakan rukun Islam memiliki sasaran moral dan akhlak. Ia bertujuan meralisasikan akhlak tersebut dalam kehidupan manusia. Apabila sasaran tersebut tidak tercapai, berarti ibadahnya tidak sempurna dan layak tidak diterima oleh Allah.

Lanjutkan membaca “Prinsip 6: Akhlak yang Mulia”

Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 11)

Peristiwa 1979

Ada apa dengan tahun 1979?

Setidaknya, sejarah mencatat tiga peristiwa besar dan krusial ditahun ini yang mempengaruhi hubungan Saudi dengan Ikhwan, dimana efeknya masih kentara terasa dan terjadi sampai saat ini.

Pertama, adalah tumbangnya dinasti Pahlavi yang didukung Amerika melalui revolusi rakyat yang disebut-sebut sebagai salah satu revolusi terbesar dalam sejarah modern setelah revolusi Perancis dan revolusi Bolshevik. Pada Februari 1979, Shah Mohammed Reza Pahlavi tumbang dan dinasti Pahlawi yang monarki kemudian resmi diganti dengan Republik Islam Iran dibawah pemimpin agung Syi’ah Ayatullah Ruhollah Khomeini. Lanjutkan membaca “Saudi dan Ikhwan: Dari Kemesraan Sampai Perseteruan (Bag. 11)”

Prinsip 5: Ibadah

Kita meyakini bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang mukallaf (diberi tugas) untuk beribadah secara benar kepada Allah; Zat yang telah mencipta mereka dan memberikan berbagai karunia kepada mereka. Seperti karunia hidup, akal, kemampuan berbicara, ditundukkannya alam untuk kepentingan manusia, diutusnya para rasul kepada mereka, diturunkannya kitab suci atas mereka, serta seluruh karunia yang membuatnya bisa hidup.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

Karunia apapun yang ada padamu berasal dari Allah.[1]

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya.[2] (QS Ibrâhîm: 34 dan al-Nahl: 18). Lanjutkan membaca “Prinsip 5: Ibadah”