Ahdafut Tarbiyah

Tujuan Tarbiyah

Bila kita menengok sirah nabawiyah kita akan mendapati sebuah episode bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tarbiyah (pembinaan) kepada para pengikutnya—para sahabat assabiqunal awwalun—di rumah Arqam bin Abi Arqam. Ibnu Abdil Bar berkata: “Di rumah Arqam bin Abi Arqam inilah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi menghindari gangguan orang-orang Quraisy, sampai Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada mereka untuk berdakwah secara terang-terangan, dan ini terjadi pada awal penyebaran Islam, sehingga banyak dari manusia yang beriman dengan dakwah yang beliau lakukan di rumah tersebut. Rumah Arqam bin Arqam berada di Makkah yang tepatnya di atas bukit Shafa.[1] Continue reading “Ahdafut Tarbiyah”

Advertisements

Menundukkan Pandangan

Ghadhul Bashar

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya’. (Q.S. An-Nur: 30-31)

Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau Menundukkan Pandangan. Berasal dari kata غَضَّ yang berarti كَفَّ (menahan) atau نَقَصَ (mengurangi) atau خَفَضَ (menundukkan) (Lihat: Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306). Continue reading “Menundukkan Pandangan”

Nataijul Ibadah

(Pengaruh-pengaruh Positif Ibadah)

Ibadah yang benar (al-ibadatus salimah) akan membawa pengaruh-pengaruh yang positif pada jiwa kita.

Pertama, semakin teguhnya keimanan (al-iman).

Allah Ta’ala menyeru kita untuk selalu istiqamah menjaga keimanan. Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (QS. An-Nisa, 4: 136) Continue reading “Nataijul Ibadah”

Abdullah bin Mas’ud

Ia adalah orang yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an dengan suara merdu. Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam.

Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah itu diceritakannya sebagi berikut: “Ketika itu saya masih remaja, mengembalakan kambing milik ‘Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu bakar, dan bertanya, ‘Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami?’. ‘Aku orang kepercayaan,’  ujarku, ‘dan tak dapat memberi Anda minuman.’  Continue reading “Abdullah bin Mas’ud”

Tahqiqu Ma’na Asy-Syahadatain

(Realisasi Makna Dua Kalimat Syahadat)

Di dalam madah madlulu syahadah telah dijelaskan bahwa syahadah secara bahasa bermakna: al-i’lan/al-iqrar (pernyataan), al-qasam/al-hilfu (sumpah), dan al-‘ahdu/al-wa’du (janji). Maka manakala seseorang bersyahadat, sesungguhnya ia telah berjanji kepada Allah Ta’ala untuk mentauhidkan-Nya (tiada Tuhan selain Allah), ia pun telah berjanji untuk mengakui dan mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah Ta’ala. Continue reading “Tahqiqu Ma’na Asy-Syahadatain”