Mewaspadai Ideologi Takfir

Latar Belakang Munculnya Takfir

Fenomena kemaksiatan di tengah masyarakat Islam memang sudah sedemikian parah. Budaya permisivisme dan hedonisme bebas menyerbu masyarakat kita tanpa ada pencegahan yang berarti. Entah sadar atau tidak, sebagian media informasi turut andil menyiarkan dan menyebarkan kebatilan itu dengan berbagai kemasan. Seks bebas, pelacuran, pemerkosaan, pencurian, miras, narkotika, kolusi di antara penguasa serta pelecehan hukum dan agama terus bergulir menjadi tontonan harian. Sementara itu, sebagian ulama terlihat ‘adem ayem’ dan ‘toleran’. Mereka seolah tak berdaya melawan berbagai penyimpangan agama yang menari-nari di depan batang hidungnya. Continue reading “Mewaspadai Ideologi Takfir”

Advertisements

Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah

Jadilah Da’i yang Berwawasan Luas

Dengan semakin berkembangnya zaman dan kehidupan, maka seorang da’i dituntut untuk memliki wawasan yang luas. Sehingga menjadi suatu hal yang urgen bagi seorang da’i untuk mengenal lingkungan sekitarnya secara utuh, baik itu tentang sosial kemasyarakatannya, masalah ekonomi, masalah budaya termasuk pula masalah politik. Seorang da’i yang memiliki wawasan yang luas, maka dia yang akan banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ketika seorang da’i diminta untuk memimpin sebuah masyarakat, maka masyarakat itu akan berharap agar sosok  dai tersebut memiliki  wawasan yang luas baik yang sifatnya regional mau pun global. Continue reading “Kaidah 15: Sarana Modern dan Mengenal Lingkungan adalah Faktor Penting Keberhasilan Dakwah”

Dakwah ke Thaif

Penyebab Rasulullah Keluar dari Makkah

Setelah wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib, tekanan kaum musyrikin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin meningkat. Dakwah di tengah masyarakat Quraisy sangat sulit dilakukan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari sana untuk mencari tempat lain, barangkali dapat ditemukan hati yang membuka diri untuk beriman dan mendukung agama Allah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan penolong dakwah dari suku Tsaqif serta menenangkan diri sejenak dari tekanan kaumnya (suku Quraisy). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berharap Bani Tsaqif akan menerima agama Islam dengan baik. Saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Continue reading “Dakwah ke Thaif”

Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi

Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33: 40)

Imam At-Thabari rahimahullah saat menafsirkan ayat ini berkata: “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, yaitu anak angkat Nabi) melainkan beliau adalah Nabi terakhir, maka tiada lagi Nabi setelah beliau sampai Hari Kiamat dan adalah ALLAH Ta’ala terhadap segala perbuatan dan perkataan kalian Maha Mengetahui.”[1]  Continue reading “Makna Muhammad SAW Sebagai Penutup Para Nabi”

Kisah Sa’id bin Jubair

(Wafat pada tahun 95 H di Kuffah)

Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai julukan “Abu Abdillah”. Ia seorang ahli fiqh, pembaca al-Qur’an yang fasih dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’i, ia berkata: “Ambilah tafsir dari empat orang, yaitu dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan adl-Dhahhak”.

Ibnu Jubair pernah menulis untuk Abdullah bin Utbah bin Mas’ud ketika Abdullah menjadi Qodhi di Kuffah. Sesudah itu ia menulis untuk Abi Burdah bin Abi Musa. Continue reading “Kisah Sa’id bin Jubair”