Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, dan setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair datang ke Makkah untuk berhaji dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penerimaan yang baik dari penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Bersamaan dengan itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang telah masuk Islam  bersama dengan rombongan haji kaum musyrikin yang juga hendak menunaikan haji. Kaum Anshar juga bermaksud menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di Makkah. Diantara mereka ada yang berkata,

إِلَى مَتَى نَتْرُكُ رَسُوْلَ اللهِ يَطُوْفُ عَلَى الْقَبَائِلَ وَيُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟!

“Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling ke kabilah-kabilah lalu diusir di pegunungan Makkah dan merasa tidak aman?

Continue reading “Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II”

Amradhul Ummati Fi Dakwah

(Penyakit Umat di Dalam Dakwah)

Setelah menyimak beberapa pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa problematika dan tantangan yang dihadapi umat Islam hari ini tidaklah ringan. Upaya penyadaran umat dengan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar tidak dapat berjalan efektif jika hanya mengandalkan amal individual (al-infiradiyyah).

Dampak Al-Infiradiyyah

Al-infiradiyyah di dalam dakwah adalah penyakit yang harus segera diobati. Karena ia akan berdampak pada mentalitas (al-ma’nawiyyah) dan aktivitas (al-‘amaliyyah) seorang da’i. Continue reading “Amradhul Ummati Fi Dakwah”

An-Nidzam

An-Nidzam artinya adalah peraturan, tata tertib, sistem, atau tatanan. Dinul Islam disebut sebagai nidzam karena ia merupakan ajaran yang mengandung peraturan, pedoman, dan kaidah-kaidah yang tersusun dengan rapi dan sistematis. Guna lebih memahami maknanya, perhatikanlah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan tentang an-nidzam ini.

Ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang An-Nidzam

Pertama, Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 121 yang menyebutkan peristiwa yang terjadi sebelum Perang Uhud, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa allam mengatur dan menata pasukan untuk berperang. Continue reading “An-Nidzam”

Asbabul Jahiliyyah

(Sebab-sebab Munculnya Kejahiliyahan)

Makna Jahiliyyah

Umar ibn Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata,

إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

“Sesungguhnya ikatan Islam itu hanyalah akan terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyyah.”

Ungkapan Umar di atas adalah peringatan bagi umat Islam sepanjang zaman agar mewaspadai kejahiliyyahan yang dapat memusnahkan agama. Kita hendaknya memahami dan mengenal apa itu jahiliyyah agar mampu menjaga agama ini dari hal-hal yang dapat merusaknya cepat atau lambat.

***** Continue reading “Asbabul Jahiliyyah”

Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an

Syarat-syarat dalam Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Dalam pembahasan Asmaul Qur’an kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab petunjuk (al-huda), pembeda (al-furqan), rahmat (ar-rahmah), cahaya (an-nur), roh (ar-ruh), obat (asy-syifa), kebenaran (al-haq), penjelasan (al-bayan), pelajaran (al-mauidzah), dan pemberi peringatan (ad-dzikr).

Ringkasnya, kita dapat menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab Allah Ta’ala yang mengandung banyak keberkahan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ

“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi…” (QS. Al-An’am, 8: 92) Continue reading “Syuruthul Intifa’i bil-Qur’an”