Quwwatul Haq

(Kekuatan Al-Haq)

Kekuatan kebenaran tidaklah mungkin tergoyahkan, karena dia berasal dari Allah Ta’ala,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al-Baqarah, 2: 147)

Bahkan Dialah Al-Haq itu sendiri,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj, 22: 62)

Continue reading “Quwwatul Haq”

Ash-Shira’u Bainal Haq wal Bathil

Makna al-Haq dan al-Bathil

Al-haq dalam bahasa Arab artinya adalah yang tetap dan tidak akan hilang atau tidak menyusut (semakin kecil).

Sedangkan al-bathil secara bahasa artinya ialah fasada wa saqatha hukmuhu (rusak dan gugur/tidak berlaku hukumnya). Dalam al-Mufradat, Ar-Raghib menerangkan makna al-bathil sebagai lawan dari al-haq, yaitu semua yang tidak ada kekuatannya ketika dicermati dan diteliti.

Secara istilah, para ulama berpedoman kepada maknanya secara bahasa. Jadi, mereka menyebut al-haq dalam setiap uraian mereka sebagai segala sesuatu yang tetap dan wajib menurut ketentuan syariat. Al-bathil ialah semua yang tidak sah, tidak pula ada sandaran hukumnya sebagaimana halnya pada perkara yang haq, yaitu tetap dan sah menurut syariat.

Continue reading “Ash-Shira’u Bainal Haq wal Bathil”

Qadhiyyatul Ummah

Problematika Umat

Problematika yang mendera umat Islam saat ini terdiri dari dua jenis: Pertama, al-qadhiyyatu kulli zaman (problematika sepanjang zaman). Kedua, al-qadhiyyatul mu’ashirah (problematika kontemporer).

Al-Qadhiyyatu Kulli Zaman

Ini adalah problematika manusia secara umum yang selalu ada di setiap waktu dan zaman, yaitu problematika yang berkaitan dengan kejiwaan manusia (an-nafsul basyariyah). Sebagaimana diketahui, setiap manusia memiliki kecenderungan dan minat (muyul), tabiat dan karakter (thabi’ah), selera dan keinginan (syahwah), serta naluri dan instink (gharaiz) yang berbeda-beda. Perbedaan ini kerap menimbulkan gesekan atau bentrokan diantara manusia. Hal ini karena diantara mereka ada yang mengambil jalan tazkiyah (pembersihan jiwa), dan adapula yang mengambil jalan tadsiyah (pengotoran jiwa). Allah Ta’ala telah mengilhamkan kepada jiwa manusia mana jalan-jalan kefasikan (al-fujur) dan mana jalan ketakwaan (at-taqwa).

Continue reading “Qadhiyyatul Ummah”

Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani

Allah Ta’ala menghendaki dakwah ini dilakukan dengan upaya manusiawi. Oleh karena itu seorang da’i hendaknya mampu memanfaatkan segala sarana dan menempuh proses dalam upaya dakwahnya. Perhatikanlah keteladanan yang diperlihatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau melakukan upaya dakwah dengan menggunakan segala sarana yang ada di masanya. Beliau tidak berpikir, “Toh wahyu turun kepadaku. Tentu akan selalu ada jalan.”

Penerapan kaidah dakwah ini bisa kita lihat dalam rentetan peristiwa sirah nabawiyah. Contohnya, dalam Perang Uhud ketika sebagian sahabat yang menjadi pasukan pemanah melanggar komando Rasul; maka meskipun Rasulullah berada di sekitar mereka dan wahyu turun kepadanya, kegagalan tetap menimpa karena mereka tidak mengambil langkah yang seharusnya. Continue reading “Kaidah 5: Da’i Wajib Mengoptimalkan Upaya Manusiawi Seraya Memohon Bantuan Rabbani”

Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II

Pada tahun kedua belas setelah kenabian, dan setahun setelah Baiatul Aqabah pertama, Mush’ab bin Umair datang ke Makkah untuk berhaji dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penerimaan yang baik dari penduduk Yatsrib terhadap Islam.

Bersamaan dengan itu berangkat pula sekelompok kaum Anshar yang telah masuk Islam  bersama dengan rombongan haji kaum musyrikin yang juga hendak menunaikan haji. Kaum Anshar juga bermaksud menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka mengetahui kesulitan besar yang dialami kaum muslimin di Makkah. Diantara mereka ada yang berkata,

إِلَى مَتَى نَتْرُكُ رَسُوْلَ اللهِ يَطُوْفُ عَلَى الْقَبَائِلَ وَيُطْرَدُ فِي جِبَالِ مَكَّةَ وَيَخَافُ ؟!

“Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkeliling ke kabilah-kabilah lalu diusir di pegunungan Makkah dan merasa tidak aman?

Continue reading “Hijrah (Bag. 2): Baiatul Aqabah II”